Wisata Gratis Ho Chi Minh ~ Hanoi ~ Halong Bay Persembahan dari MCI


Seperti judul blog ini, Negeri Mimpi…seperti itulah kiranya saya dengan mimpi mimpi saya yang pada waktunya menjadi kenyataan. Duluuu sewaktu saya kecil, saya sering berhayal bisa terbang ke negeri negeri yang jauh yang sebelumnya belum pernah saya singgahi. Alhamdulillah mimpi mimpi itu satu satu menjadi kenyataan. Begitu banyak kejutan manis yang Allah berikan kepada saya. Setelah sebelumnya saya menerima jalan2 gratis ke Hongkong akhir bulan Maret lalu, lalu pertengahan Agustus ini lagi lagi saya beruntung, mendapatkan trip gratis menjelajah Vietnam dengan segala fasilitas nomor 1 dari Millionare Club Indonesia (MCI) karena memenuhi kualifikasi penjualan Nano Spray dan Magic Sticknya selama challenge berlangsung. Continue reading “Wisata Gratis Ho Chi Minh ~ Hanoi ~ Halong Bay Persembahan dari MCI”

Jakarta Dalam Sebuah Kenang


Aku tiba saat lampu lampu jalanan baru saja dipadamkan. Mendarat dengan selamat dengan penerbangan pertama yang menurunkanku di terminal yang salah. Aku mengecoh hati yang bergemuruh lantang tak keruan, dengan sesekali bersenandung nyanyian kacau. Ah, jeda ini ternyata begitu lama, aku terlambat menyadarinya. Hati yang terlanjur kebas, datar menyusuri peron menyapa datar pada seonggok bangku di sudut cafetaria.

Kukibas resah dan tanya yang bergumul tak mau kalah sambil memerhatikan orang orang yang berjalan bergegas ; entah apa yang ada di pikiran mereka.

Laju kendaraan memenuhi jalur aspal yang membujur membelah ibukota. Semua sudut kota mungkin mulai mengawali hari cerah ini dengan deru yang sama bisingnya. Kupilin ujung kemejaku dan pikirku melayang jauh menyebrangi waktu yang nyaris sewindu. Rekaman kisah seolah film usang berwarna sephia, dan aku mengumpulkan fragmen-fragmennya dengan gemetar. Terus saja kusimpan segala kemungkinan dalam sebuah kotak berlabel waktu yang menjadi misteri.

Diluar panas terik melelehkan kepala. lepuh telapak kaki tak beralas dari seorang ibu yang menggendong anaknya. Inilah Jakarta, mungkin juga sama dengan kota-kota lainnya yang tak ramah. Tak ada kenangan di sepanjang jalan ini, debu berserak meradangkan hati. Pikirku sibuk diaduk tanda tanya yang tak berujung jawabnya. Ah Jakarta…

Kendaraan berjejal, tak ada celah. Emosi meradang dimana-mana. Klakson bersahutan dengan deru bajaj yang memekakkan telinga. Namun aku, masih sibuk dengan pikirku, dimanakah muara tuju, sedang waktu tak mau menunggu.

Jl. Sabang, angin yang menerbangkanku untuk singgah disana. Lalu apa yang istimewa disana menurutmu? Ia tak pernah tidur, sepejampun. Riuh rendah tawa orang2 berbaur dengan nyanyian merdu pengamen. Sepanjang jalan yang ramai orang menjajakan makanan. Seharusnya aku tidur malam itu, memungut mimpi yang semalam sempat terburai, tapi aku memilih berjalan bersisian dengan harapan. Duduk di bangku panjang di tepian jalan, menikmati secangkir teh tanpa gula dan seporsi sate kambing istimewa, ya istimewa..sangat istimewa.

Mari kita tutup malam dengan nyanyian bintang jalanan yang mengajakku turut bersenandung riang.

meski waktu tak mau membeku….

CATATAN KEPULANGAN #2 Sept 2012


Pak, Bu… kepulanganku kali ini adalah kepulangan menuju kehampaan. Begitu nelangsa. Ada sedih yang sulit aku usir, sejak menginjakkan kaki di bandara SMB II. Ada yang ingin tumpah dari kelopak mata, panas, dan berat. Tapi aku tahan.

Rumah kita, rumah yang Bapak dan Ibu bangun dengan kebanggaan, tempat tinggal kita, tempat segala kenangan tertinggal, kini bukan milik kita lagi. Semoga dengan dijualnya rumah itu, akan mendatangkan banyak kebaikan bagi kami semua, dan Bapak dan Ibu di alam sana akan lebih tenang.

Aku menulis di dalam travel yang supirnya ugal-ugalan. Awalnya aku memilih naik kereta api, santai dan pastinya akan sangat seru. Berharap mampu menyelamurkan perasaan tak enak yang berkecamuk. Kak Gun, suami mbak reni gak bisa mengantar kami sampai ke prabumulih. Dia harus masuk kerja.

Sudah 2 kali aku mengingatkan supir travel ilegal ini untuk menurunkan kecepatannya. Duduk di jok paling belakang membuatku terguncang2, agak pusing. Apalagi ibu di depanku ini mabuk. Beberapa kali dia mengambil plastik kresek kecil yang dia selipkan di tasnya. Dan dengan sangat tidak sopannya dia membuang kresek yg terisi itu keluar jendela. Betul2 membuatku ilfil. “Ndeso” begitu batinku. Aku juga menegurnya untuk membuangnya nanti, saat kendaraan berhenti. Tapi tadi itu adalah kresek kedua yg dia lemparkan keluar. Cuek sekali ibu ini.

Dengan seenaknya dia minta mematikan AC ke supirnya, lalu membiarkan jendelanya terbuka lebih dari separuhnya, tanpa persetujuan penumpang lain. Dia merasa cuma dia yang membayar untuk perjalanan itu apa?
Ugh…kesal sekali rasanya.

Kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi, dentum musik melayu yang disetel kencang , aroma minyak angin kapak, kayuputih, asam kecut menyatu. Ditambah angin yang dengan sangat leluasa masuk, membuat wajahku kebas dan kedinginan. “Bu, maaf kaconyo biso naikke dikit dak, aku kedinginan”, begitu pintaku ke ibu berbedak seputih kapur tembok ini. Dengan sangat terpaksa, dia menaikkan kaca jendela yang semula setengah terbuka menjadi 1\3nya. Ra kacek! Huh.

Eh sudah sampai cambai, itu artinya sudah dekat. Aku agak lega, tidak berlama lama lagi di dalam mobil bau ini.

….

18.17 ; Aku di rumah mas heru sekarang, tadi pagi, kami hanya diturunkan supir travel itu di tepi jalan raya, di dpn SPBU, sopir tidak mau antar masuk ke dalam, sampai ke rumah. Naik ojeg, cuma 3 ribu saja. Rumah tempatku kembali ; sejatinya begitu. Tapi yg aku rasa hanya kehampaan, sedih yang tidak ada habisnya meskipun aku mulai bisa merelakannya.

Kalian tentu paham bagaimana rasaku saat ini. siang hari, aku mengajak mbak reni ke makam ibu. Berjalan kaki menyusuri pasar mulai dari belakang sampai ke depan. Becek dan semrawut. Tak ada perubahan, malah semakin tidak tertata, lebih parah dari tahun lalu.

Waktu yang semalam di prabumulih ini akan aku manfaatkan sebaik mungkin dengan mengunjungi semua saudara, ingin tau keadaan mereka sekaligus bermaaf2an masih dlm suasana lebaran. Besok pagi mau ke sungai pinang, di kabupaten OI kampung kelahiran ibu. Kemudian langsung bermalam di kampung Margoyoso di depan Pusri, di rumah mas iwan, kakak lakilakiku nomor 3.

…..

Gate B7 CGK, 17.48.
duduk di dekat pintu keluar. Ramai sekali, rupanya penerbangan ke balikpapan, manokwari dan surabaya delayed sampai sejam lebih. Tampang mereka puspas campur kesal. Ruang tunggu menjadi seperti pasar prabumulih, kebundel menungso🙂.

Ah waktu kita selalu tak cukup ; menurutku. Setiap perpisahan selalu menyakitkan. Membuat sisi hati menangis pilu.

Sahabat Sejati Itu…


Tiba-tiba di siang yang mendung ini saya teringat sahabat-sahabat terbaik saya semasa SMA. Serta merta saya dirundung rasa rindu dan haru yang teramat sangat. Teringat Merli, perempuan bertubuh mungil, nampak ringkih namun sejatinya ia adalah perempuan tegar. Kebalikan dengan saya, yang nampak kuat dari luar…tapi sesungguhnya saya sangat mudah menangis. Banyak hal yang sering kami berdua. Merli adalah sahabat tanpa rasa iri terhadap apapun yang dicapai atau dimiliki oleh orang lain. Nampak kekanakan dari sikapnya, namun sangat dewasa dalam bertindak.

Bapak, Ibu dan keluarga besar kami..menerima Merli sebagai bagian dari keluarga kami. Merli anak Bapak dan Ibuku juga. Merli adalah pencatat sejarah kenakalan saya.

Ingat, saat kami diminta untuk menari pada salah satu acara yang melibatkan seluruh sekolah di kota kecil bernama Prabumulih. Selepas menari, kami mendapat honor yang jumlahnya tidak sedikit untuk ukuran kami saat itu. Tujuh puluh lima ribu rupiah, honor yang menggembirakan yang kami belikan sepatu senakers dengan merk namun warna yang berbeda. Sepatuku biru dan Merli berwarna merah. Sejak itu, kami sering membeli barang2 yang sama, meskipun seringnya selera kami berbeda dan kami tidak pernah ngotot dengan pilihan masing-masing.

Sahabatku yang lain, Imelda…perempuan berkacamata nan lembut. Tidak pernah berselisih paham dengan siapapun, sangat pengalah, dan sangat dewasa (untuk seusia kami saat itu). Sederhana dan tidak banyak maunya, meskipun ia dari keluarga yang berada. Pemurah dan senang sekali menolong teman yang kesusahan. Saya salah satunya.

Imelda ini adalah sahabat saya sejak saya SMP, waktu itu saya adalah murid baru, pindahan dari SMP YKPP 4 Prabumulih. Imelda bukan tipe perempuan yang meledak-ledak, cenderung diam. Tapi aku ingat betul, dialah teman perempuan pertama saya di SMPN II itu.

Nilai raportnya selalu bagus, tak heran karena ia sangat rajin belajar, tidak seperti saya (lagi-lagi). pribadi saya-Imelda sangat bertolak belakang. Tidak berlebihan kalau saya merasa tenang bila sedang bersama Imelda. Dia seperti ibu…tenang, dewasa dan bijaksana.

Perempuan yang lengkingannya bisa menggegerkan sekolahan ini bernama Ichi. Ichi Dianti lengkapnya (maaf kalau salah ya Chi). Tomboy, ceplas-ceplos, supel, sangat menyenangkan…tidak ada sedih di matanya. Semua hari yang dilewati ceria bersamanya. Ichi itu seperti kembang api, seperti balon udara warna warni, seperti terompet tahun baru, seperti…hmmmm seperti apapun yang ramai. berdua saja dengan dia seperti bersepuluh. Ceria…bahagia bersamanya.

Hampir mirip dengan Ichi, tapi yang satu ini sedikit lebih kalem. Namanya Lily. Anak kedua dari 4 bersaudara. Rumahnya sering kami jadikan tempat berkumpul. Tiduran di kamarnya yang bagus, belajar masak bersama, tidur bersama, pokoknya semua yang biasa dilakukan bersama, kami lakukan di rumah Lily.

Lily sangat menonjol di sekolah. Dia manis, menarik dan menyenangkan. Dia punya banyak teman karena dia sangat mudah bergaul dan sangat suka menolong. Lily juga setia kawan, terbukti saat saya dikeluarkan guru matematika karena kesalahan yang bukan salah saya, Lily menginterupsi guru matematika yang bawel itu, dan memilih untuk keluar, menemani saya. Jadilah siang itu, saya dan Lily makan bakso di kantin, dengan sesekali melirik ke kelas. Di dalam kelas nampak Merli berkali-kali menoleh ke arah kami dengan raut muka sebal, karena kami girang sekali diluar sana, makan bakso disaat jam pelajaran berlangsung. Nakal!

Eka Faradilla, perempuan hitam manis ini suka sekali menjodoh-jodohkan teman-temannya. Dia pantas berprofesi sebagai mak comblang. Sangat fasih menjadi bu Pos yang membawakan surat cinta untuk Merly, untuk Lily atau untuk siapapun (tidak termasuk saya nampaknya, hihi). Dan dia akan duduk di sebelah si penerima surat, sambil membujuk untuk menerima cinta si pengirim surat. Terhitung banyak pasangan yang dicetak, hasil kerja si hitam manis ini

Eka ini tipe perempuan yang mudah berkecil hati, sensitif sekali. Sebentar merajuk, sebentar kemudian sudah ceria lagi. Sering merasa tidak pantas untuk siapa-siapa, sering merasa tidak memiliki apa-apa, sering “nglokro” dan beranggapan kami akan meninggalkannya dan memutuskan persahabatan begitu saja. Ini yang sangat tidak saya sukai dari dia. Saya seringkali marah, kalau dia lagi2 down…menyalahkan keadaan, menyalahkan apapun, menyalahkan siapaun atas apa yang terjadi pada dirinya. Meski begitu…dia adalah sahabat yang penyayang, yang mendapatkan tempat spesial di hati kami, di hati saya terutama.

satu lagi, Ini adalah perempuan yang sangat rapi dalam hal apapun. Manajer dan organizer andal. Caranya berjilbab rapi, caranya berpakaian rapi, caranya berjalan juga rapi. Alis matanya yang lebat, hampir menyatu megesankan dia perempuan tegas. Dia pintar berargumen, jago debat…feminin dan maskulin berkolaborasi dengan rapi di diri perempuan bernama Ita Nirmala. Saya mengira dia akan menjadi seorang event organizer, belakangan saya tau..dia menjadi guru. “Mulia sekali profesi itu, Ta”

Demikianlah, keenam sahabat saya yang kini terpisah, saya di Jogja, Merli dan Ita di Prabumulih, Lily dan Imelda di Jakarta, ichi di Niru (kota keci di sebelh barat Prabumulih), dan Eka di Purwokerto.

Tahukah kalian, sahabat-sahabatku? bahwa banyak hal yang tak ada habisnya yang ingin saya ceritakan. Tentang indahnya kebersamaan kita. Persahabatan yang komplit, dan lengkap dengan rasa masing-masing pribadi yang berbeda. Takukah kalian? bahwa sejauh perjalanan hidup saya, ada banyak hal yang dapat saya petik sebagai pelajaran hidup. Kita tak lagi remaja, namun semua kenangan tentang kalian yang mengalir begitu saja sesiang ini, sungguh membuat saya kembali merasa indahnya masa itu.

Bagi saya, sahabat sejati itu adalah kalian. Sahabat sejati itu adalah kenang yang tak padam.

Semoga kita semua dapat terus bersyukur atas segala nikmat, sekecil apapun yang kita rasakan. I love You All (Ketjup kangen)

Ngunduh Wohing Pakarti


Ngunduh Wohing Pakarti” dalam bahasa Indonesia, pepatah Jawa tersebut berarti : Setiap orang akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya. Sama juga dengan pepatah yang akrab di telinga kita selama ini “Siapa yang menanam, akan menuai hasilnya”.

“Lah kalo yang kita tanam trus dicolong (dicuri) orang, gak jadi menuai hasil dong?” begitu celetukan teman saya dengan diiringi tawa. hahah itu mah lain lagi ceritanya🙂.

Secara lebih jauh pepatah ini ingin mengajarkan kepada kita bahwa jika kita melakukan perbuatan yang tidak baik, maka di kemudian hari kita pun akan mendapatkan sesuatu yang tidak baik. Entah itu dari datangnya atau bagaimanapun caranya. Intinya, pepatah ini ingin mengajarkan hukum keseimbangan yang dalam bahasa Indionesia mungkin sama maknanya dengan pepatah, siapa menabur angin akan menuai badai.

duh postingan saya kok serius banget yaaa?

Kembali ke inti pembicaraan kita, *betulin dasi kupu2. Ngunduh wohing pakarti ini lebih kedalam hubungan manusia dengan manusia. Hubungan orang yang satu dengan orang yang lain, secara personal ataupun kelompok.

Sejak kecil, tentu kita diajarkan oleh orang tua, tentang bagaimana “aturan main” dalam menjalin hubungan, baik itu pertemanan, hubungan percintaan, yaa pokoknya berhubungan secara sosial-lah.

Sejak kecil, hal-hal sederhana tersebut sudah ditanamkan oleh orang tua kita. Orang tua saya, dulu selalu mengatakan “jangan membalas perlakuan nakal teman kamu, kalau kamu membalas, berarti kamu sama nakalnya dengan dia”. Padahal, siapa yang mau dinakali? kalau dinakali teman, saya pasti membalas, biar teman saya tau, bagaimana rasanya dinakali. Ups, itu artinya saya tidak mengindahkan nasihat orang tua saya🙂. Bukaaan, saya tidak bermaksud abai terhadap nasihat mereka. Saya hanya tidak terlalu takut mendapat predikat nakal. Pemahaman saya waktu itu, membalas = sama nakalnya. Ah buat saya itu adalah urusan kecil🙂.

Begitulah saya dahulu, selalu membalas kenakalan-kenakalan sahabat kecil saya dengan kenakalan yang berlipat ganda. Bahkan karena tempaan mereka (yang nakal-nakal itu) saya menjadi sama nakalnya, bahkan lebih usil dibandingkan mereka.

Kenakalan masa kecil tidak bisa disamakan dengan kenakalan saat kita beranjak dewasa. Kadar nakalnyapun berbeda. Bentuk nakal terhadap teman saat kita masih kecil sangat berbeda dengan nakal terhadap teman saat kita sudah remaja, dewasa, tua….

Kalau saat kecil, menyembunyikan sepatu teman, dan menyimpannya di loteng kamar mandi, menjambak rambut teman perempuan yang berkutu, menaruh lintah di kursi teman yang cengeng, itu adalah bentuk kenakalan yang sederhana yang lumrah (menurut saya). Tapi, menghianati kebaikan hati teman, memfitnah teman, menyebarkan berita buruk; seburuk-buruknya untuk menjatuhkan teman, cari muka dengan boss dengan cara menyikut teman, terlihat paling menonjol dengan cara-cara licik, ini bukan kenakalan. Ini adalah keculasan yang mengindikasikan bahwa teman tersebut sedang sakit jiwanya.

Teman seperti ini tidak pantas dipanggil teman. Dan… tentang angin yang sudah ditanam, bersiaplah ! perlahan-lahan dalam waktu dekat akan segera panen, yaaa panen badai.

Kangen Ngeblog


baca baca lagi isi blog tahun lalu…tahun yang lalunya, yang lalunya juga. ternyata, sudah sangat lama blog ini tak terjamah. untung saja passwordnya masih ingat🙂. Tahun ini insya allah akan balik lagi, ngeblog lagi, menulis hal2 sederhana…see you

BACKPACKING 2 #MALAYSIA


Mungkin sudah basi cerita pengalaman backpacking saya ini. Tapi saya Cuma ingin berbagi…tulisan ini sebetulnya sudah saya tulis agak lama berselang . See… bahwa pengalaman yang menakjubkan itu membekas dan sulit dilupakan detailnya.

Nah, dari terminal Golden Mile Complex kami akan meneruskan perjalanan ke Malaysia dengan bis malam Sri Maju. Sebelumnya kami kelaparan, menunggu jadwal kedatangan bis yang lama membuat kami menggelandang di emperan terminal golden mile complex. Muka sudah kucel, badan pegel pegel, dan gatel-gatel karena seharian berkeringat menjelejah jalanan singapura

Bosan menunggu lama dan karena lapar melanda, akhirnya kami menyeberang jalan, mencari ‘warung makan’ yang masih buka di sana. Ternyata pertokoan di seberang terminal sudah tutup. Saya melirik arloji, jam 10 malam, masih sore untuk ukuran kota Yogya…tapi sekeliling terminal ini seperti kota mati.

Agak lega ketika kami melihat aktifitas memasak di salah satu ‘warung’ yang masih buka. “akhirnyaaa” begitu bisik bathin kami masing2. Sudah mengambil posisi tempat duduk yang nyaman, teman-teman memilih menu, tapi aku coba tanya apakah makanan itu halal?

“sorry, here containing pork dishes”
, dengan logat Singlish yang kental pemilik warung itu bilang. Owhhh unfortunately…padahal sudah lapar sangat. Apalagi si Alif sudah mulai ngambeg…lelah bercampur lapar.

Untunglah tak jauh dari ‘warung’ tadi ada minimarket ; semacam Alfamart atau Indomaret yang menyediakan kopi panas dan mie instant plus hot watter. Lumayan buat ganjel perut. Dengan santainya kami menyeruput (kopi, soft drink, dan teh), di halte persis di depan terminal golden mile complex. Gak perduli dibilang ‘katrok lan ndeso’ oleh pejalan kaki dan mereka yang naik turun bis. Owalahhh….

***
Pukul 4.30 am, kami tiba di Hentian Puduraya. Perhentian Pudu Raya terletak di jalan Pudu Raya, Masih lengang….tapi se-sepinya…namanya juga terminal sama saja seperti di Indonesia…BANYAK CALO-nya heheh. dan atas rekomendasi teman, kami akhirnya melepas lelah di Hotel Puduraya. Kami menunggu lama di lobby hotel sampai jam 07.00 am, karena kalau masuk jam 05.00, kami akan kena charge seharga tarif 1 malam ; RM 49. Nah..mending nunggu kan?
Kami ambil 2 kamar…tentunya.

Setelah melanjutkan tidur, bangun dan tidur lagi..hehe, kami turun ke bawah (Letak terminal ada di bawah kamar hotel) Kami menuju loket pembelian tiket. Jangan takut, terminal ini sangat informatif, kita bisa memilih kemana saja kita akan pergi dengan tarif yang reasonable. Untuk tiket PP Puduraya-Genting-Puduraya, kami hanya membayar RM 11.

Sebelum berangkat ke Genting, kami makan di sebuah restoran berlabel ‘halal’ di depan perhentian Puduraya. (ahh gak ada makanan enak di sini)

Nah ini dia tips & trik di perhentian Pudu Raya yang mungkin berguna :
1. siapkan pecahan RM kecil atau RM cent untuk bertransaksi dengan pedagang makanan di sekitaran Pudu
2. bayar 30 cen sebelum masuk ke toilet, atau diceramahi budak tak tau aturan, tisu toilet semacam tisu pak seharga Rp. 1000 di tanah air , dijual 30 cen lebih murah
3. jika terpaksa naik teksi dari sini menuju penginapan atau lokasi wisata tawarlah setengah harga dengan cara sopan.
4. jangan berlama-lama melepas lelah di surau, pasti di usir
5. pastikan tidak salah platform jika ingin bepergian dengan bas luar kota (menuju singapura, misalnya)

Di Genting Highland.

Genting Highlands adalah tempat wisata yang paling tersohor di Malaysia. Inilah Las Vegasnya Malaysia. Genting Highlands berada di daerah pegunungan yang tinggi (tidak seperti Las Vegas yang berada di gurun) dengan begitu udara di sini sangat dingin jadi anda bisa melakukan banyak kegiatan outdoor tanpa harus takut kepanasan. Lokasi Genting Highlands ini mirip dengan Puncak.

Di sini ada banyak sekali tempat bermain baik untuk anak-anak hingga dewasa. Ada permainan yang outdoor juga indoor. Yang paling menarik adalah theme park yang ada di Genting Higlands.

Genting Outdoor Theme Park mirip dengan Dufan yang ada di Jakarta akan tetapi pilihan permainan Roller Coaster-nya lebih banyak. Kalau di Dufan hanya ada Halilintar, di sini ada 5 jenis Roller Coaster.
Tapiiii… saya tak berani mencobanya, satupun.

Ini dia wahana yang mengerikan yang ada di sana

1. Corkscrew. Mirip dengan halilintar tapi yang ini putarannya tidak hanya sekali tapi 2 kali.
2. Cyclone. Nah ini versi kecilnya Corkscrew, cocok dinaiki oleh anak-anak kecil. Tidak ada batasan tinggi untuk naik wahana permainan ini.
3. Flying Coaster. Roaller Coaster yang satu ini lebih seru daripada Corkscrew. Kalau Corkscrew duduk, di sini anda terbang.
4. Flying Dragon. Permainan ini mirip dengan Cyclone hanya lebih besar dan keretanya di desain menjadi naga. Jadilah permainan ini dinamakan Flying Dragon (Naga Terbang).
5. Rolling Thunder Mine Train. Roaller Coaster ini akan mengajak anda berjalan-jalan masuk ke dalam pegunungan berbatu dan gua yang gelap seperti nuansa pertambangan di dunia-dunia barat.

Saya yang takut ketinggian ini cuma mencoba permainan pancing boneka, Balon udara, balapan gocart, dan Alif….dia coba semua wahana yang ada disana.

Di arena bazar, permen2 unik berbentuk lucu saya beli untuk oleh2.

Bis yang menjemput kami kembali ke Puduraya datang. Hari mulai gelap…kabut membungkus bukit, dingiiin sekali. Kami membeku *lebay. Untunglah pak sopir jago di tikungan, kami gak muntah muntah dibuatnya.

Pukul 09.00 pm, kami tiba di perhentian puduraya, dan langsung menikmati malam yang hiruk pikuk di Jalan Petaling yang letaknya gak jauh dari puduraya ; sekitar 200 m saja. Di jalan Petaling ini semua penjual menjajakan produk2 China. Semacam kakilima di Pasaraya Padang, atau Pasar Sore di Malioboro Yogyakarta. Asiknya berbelanja di sini…kita bisa tawar menawar loh…untuk membeli barang sebaiknya kalian menawar separuh harga dulu. Sama bener ya kaya di Pasar Beringharjo hehe.

Ada banyak yang aku beli di sana, mulai dari jam tangan abal2 sampai yang mahal, gantungan kunci dan aneka souvenir untuk oleh2 (yang ternyata lebih murah dibeli di Pasar Seni yang letaknya tak jauh dari Jalan Petaling ini juga).

Hampir jam 12 malam kami pulang menuju hotel dengan kaki yang teramat sangat pegal.

I’ll continue my traveling story in next note ok…:)
(foto2 yang lainnya menyusul)

5 Days, Yet So Many Experiences…


Day 1

Rencana 2 bulan sebelumnya akhirnya terlewatkan dengan seru. Kami pulang membawa oleh2 pengalaman dan cerita yang tak habis-habis rasanya ingin kami ceritakan. Awalnya kami (saya dan partner kerja saya) iseng mencari penerbangan murah ke Singapura. Biasanya orang berlibur akhir tahun, ehh kami malah mencari-cari peluang libur di awal tahun. Hasilnya, kami dapat tiket Airasia return Singapura-Jogja dengan harga tujuh ratus ribu sahaja. Terima kasih Airasia….

Continue reading “5 Days, Yet So Many Experiences…”

Hore, Saya Lulus di 4 Minggu Pertama


Postingan ini harusnya sudah saya publish sejak Arya berusia sebulan. Tapiii ini sudah lewat  dua minggu. Gak apalah, dan saya gak harus mengganti judul postingan ini menjadi ” Lulus di 6 minggu pertama”, kan?. Baiklah…yang dimaksud ‘lulus’ di sini adalah saya sudah melewati saat melelahkan bersama Arya, putra kedua kami.

Bahagia yang meluap luap mendapatkan bayi laki laki yang sehat, lengkap, dan lucu ini ternyata sebanding dengan rasa lelah pasca melahirkan. Bagaimana tidak, tubuh serasa remuk redam. Serasa habis dipukuli orang sekampung (duh lebay yah saya). Saya mengalami kesemutan di sekujur tubuh . Tentu ini sangat mengganggu gerak saya, membuat saya agak takut menggendong Arya tanpa ditemani. Saya takut pegangan saya terlepas dan mengakibatkan Arya jatuh, ughhh mengerikan. Untunglah rasa kebas alias kesemutan ini hanya empat  hari menyiksa saya. Pengelihatan yang mengabur juga derita saya setelah melahirkan. Entahlah, mungkin karena teknik mengejan saya yang salah. Continue reading “Hore, Saya Lulus di 4 Minggu Pertama”

Lahirnya Jagoan Baru Kami


Alhamdulllah, putra kedua kami lahir tepat satu bulan yang lalu di Rumah Sakit Bersalin Khodijah di Pakualaman, dibantu oleh Dokter yang pernah membantu persalinan pertama. Dokter perempuan yang friendly, track recordnya baik, dan  sudah mengantongi riwayat kehamilan pertama saya yang bermasalah, membuat saya merasa nyaman dan memutuskan untuk melahirkan di RSB miliknya, meskipun jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal kami.

Saya sempat dilanda stress, ketika Hari Perkiraan Lahir (HPL) sudah lewat dan belum juga ada tanda tanda akan melahirkan. Sekuatnya saya berjalan-jalan di lingkungan tempat kami tinggal, termasuk ke warung, minimarket, salon, mol, saya ‘jabani’. Kaki pegal…tapi saya lupakan. Saya ingin bisa cepat melahirkan. Itu saja! Continue reading “Lahirnya Jagoan Baru Kami”