Lahirnya Jagoan Baru Kami


Alhamdulllah, putra kedua kami lahir tepat satu bulan yang lalu di Rumah Sakit Bersalin Khodijah di Pakualaman, dibantu oleh Dokter yang pernah membantu persalinan pertama. Dokter perempuan yang friendly, track recordnya baik, dan  sudah mengantongi riwayat kehamilan pertama saya yang bermasalah, membuat saya merasa nyaman dan memutuskan untuk melahirkan di RSB miliknya, meskipun jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal kami.

Saya sempat dilanda stress, ketika Hari Perkiraan Lahir (HPL) sudah lewat dan belum juga ada tanda tanda akan melahirkan. Sekuatnya saya berjalan-jalan di lingkungan tempat kami tinggal, termasuk ke warung, minimarket, salon, mol, saya ‘jabani’. Kaki pegal…tapi saya lupakan. Saya ingin bisa cepat melahirkan. Itu saja! Alhamdulillah, tiga hari lewat dari HPL (setelah saya kelelahan berjalan jauh) perut bagian bawah sakit. Bukannya meringis, saya malah tersenyum…”sakit yang dinanti akhirnya tiba”, begitu bisik batin saya. Saya masih bisa menahan rasa sakit itu dengan menunaikan shalat Isya dan menuntaskan membaca QS . Yusuf juga Maryam.

Sekitar pukul 22.00, saya ajak Babe ke bidan yang kliniknya tak jauh dari rumah kami. Saya pikir, kalaupun saya harus melahirkan di sana tak apalah, meskipun saya belum pernah sekalipun memeriksakan kehamilan saya di sana. Hanya berjalan kaki, kami sampai di klinik itu. Saya diperiksa, tekanan darah normal, semuanya baik, dan ada pembukaan meskipun  satu. Saya diminta untuk tinggal di klinik itu. Tapi karena saya belum merasakan sakit yang ‘sangat’ maka saya memilih pulang. Lagipula di klinik itu ada tiga orang yang sedang mengaduh kesakitan, melewati masa masa kontraksi yang melelahkan.

Di rumah, saya coba tidur, tapi rasa sakit semakin sering datang. Babe yang tak tega melihat saya kesakitan, mengajak saya segera berangkat. Tapi saya coba untuk tahan sampai matahari terbit. “Akan lebih tenang bila terang” begitu pikir saya. Tapi Babe menolak, dia tak mau ambil risiko. Dia juga urung mengajak saya ke klinik dekat rumah. Berangkatlah kami pukul 02.30 dini hari ke RSB Khadijah. Di sepanjang jalan saya masih bisa bercerita, mengirim sms, bahkan nge-Plurk, sekedar membaca tret-tret sahabat-sahabat saya tercinta .

Tiba di RSB Khadijah saya langsung disambut bidan berperawakan mungil. Kacamata frameless bertenger di batang hidungnya yang bangir.  Meski matanya sembab baru terjaga (mungkin) tapi tetap saja manis. Saya dipersilahkan masuk ruang periksa, ternyata masih pembukaan satu, belum juga bertambah padahal sakitnya sudah lumayan sering. “saya kuat! Saya kuat!” begitu saya memotivasi diri sendiri. Karena saya sudah pernah melewati sakit yang (mungkin) kurang lebih sama.

Pukul 05.00, karena tidak ada kemajuan, saya diinduksi. Inilah yang paling saya  takutkan. Sakitnya berlipat lipat dari sakit tanpa induksi. Saya nyaris putus asa. Sakit yang tak alang kepalang ini menguras seluruh tenaga saya. Sempat terlintas untuk Caesar saja. Saya sudah terlalu lelah. Tapi bidan mungil nan manis itu dengan sabar membujukku untuk kuat.  Pukul 09.00 saya diperiksa lagi apakah ada penambahan pembukaan. Alhamdulillah sudah pembukaan enam, kelahiran diprediksi pukul 12.00. Saya sedikit lega, tinggal sebentar lagi dan saya akan terbebas dari rasa sakit ini. Kurang lebih pukul 10.00 saya dibawa ke ruang bersalin. Ahhh tak terkira senangnya hati saya, lega tepatnya…karena tak akan lama lagi.

Sebetulnya sakitnya saya masih bisa tahan, tapi rasa ingin mengejannya yang sulit saya kendalikan. Saya terus mengatur nafas supaya tidak mengejan, karena kalau belum pembukaan lengkap akan membuat jalan lahir bengkak. Duh…ini bagian tersulit, dan saya tidak bisa menahan diri untuk tidak mengejan. Hasilnya..jalan lahir menutup karena bengkak. Sakitnya tak terkira. Satu jam terlewati, berkali kali saya melirik jam dinding di samping tempat saya berbaring. Jarum jam berdetik seperti siput. Lamaaaa sekali rasanya.  Pukul sebelas, janji bidan mungil itu saya akan melahirkan pukul 12.00, ahhh masih satu jam lagi. Saya nyaris kehabisan energi. Pukul 12.00, Dokter belum juga masuk ruang bersalin. Saya hanya ditemani bidan, bule’, dan Babe yang gelisah atau mungkin ketakutan sendiri sehingga dia bolak balik keluar masuk ruang bersalin. Akhirnya dia memutuskan untuk shalat Jum’at dan meminta saya untuk kuat.

12.30, dokter masuk ruang bersalin, disusul kemudian Babe yang baru datang dari shalat Jumat….fyuh leganya saya. Pembukaan lengkap dan saya diperbolehkan mengejan. Tak butuh waktu lama, akhrinya tepat pukul 13.00 bayi laki laki kami lahir. Tangisnya menghapuskan segala rasa sakit yang tadinya tak tertahankan. Apalagi kemudian bayi yang masih berlumur darah dan lendir itu diletakkan di dadaku dengan tali pusat yang masih menyatu. Subhanallah, betapa indahnya. Begitu menakjubkan. Dia bergerak gerak, merangkak menuju dadaku. Ya…inilah cita-citaku, aku tak ingin IMDku gagal (IMD=Inisisasi Menyusui Dini). Aku sudah meminta pada dokter, dan berkali kali mengingatkan bidannya untuk tidak melupakan IMD untukku. Jagoanku bisa menemukan puting tak berapa lama setelah dia dibiarkan bergerakgerak mencarinya. Pandai yah dia. Hmmmm seperti Babenya :D.

Terima kasih atas dukungan dan supportnya teman. Karena kalian saya kuat. Semoga bayi laki laki kami ini dapat menjadi matahari bagi kami, menghidupkan dan memberi energi, juga untuk sesama…dan kami menamainya Nararya Dhanadyaksa Ambara Winardi

Advertisements

27 thoughts on “Lahirnya Jagoan Baru Kami

  1. selamat ya buk 🙂 semoga jadi anak yg soleh, berbakti pd orang tuanya, bermanfaat buat agama dan negaranya 🙂

    btw belom ada fotonya.

  2. @Anang : makasih yah Nang
    @Tante Fa : hahaha iya kannnn?
    @Didut : thanks dut..aminnnn
    @Avartara : Support sms teman2 membuat aku malu kalo mau nyerah var 😉
    @Goop: iya makanya jangan ngelawan sama ibu yaa
    @V1rzha : makasih cin 😉
    @Kurniawana : salam kenal, makasih
    @Yahya Kurniawan:kapan pak kapannn?
    @escoret : emohhh
    @Alle: gak papa Le, doanya saja sudah cukup
    @Zam: kowe lak sibuk to zam, gak popo le

  3. membacanya, kita bisa membayangkan betapa susahnya proses melahirkan. Ada haru biru, menyentak hati untuk kembali mengingat “kehadiran” kita ke dunia melalui pintu rahim ibunda. Bersyukurlah, dan berterima kasihlah atas segala perjuangan seorang wanita yang kita panggil bunda, ibu, mama, mami, emak, amak, dan sebutan lainnya.
    **
    Tulisan ini, sebuah reportase yang mengantarkan kita berada dalam proses itu. Salut buat keteguhan, ketabahan, perjuangan Unai. Semoga Arya menjadi pembalap, eh… maksudnya anak yang shaleh yang cahayanya menerangi keluarga, agama dan bangsa ini. Amin..
    **
    Jangan kapok bikin lagi, hihihihihi…
    **
    Jangan protes komennya kelewat panjang. (maunya sih sama panjangnya dengan postingan ini, he117x)
    ***

  4. selamat mak, atas kelahiran putranya yg kedua, semoga menjadi anak yg sholeh *standar banget ucapannya :D*

    piye mak? wis mlebu kerjo po sih cuti?!

  5. Selamat atas kelahiran anaknya yang baru lahir…. semoga menjadi anak yang dibanggakan oleh orangtuanya, amien.

  6. sekali lagi selamat ya bu 🙂

    membaca tulisanmu membawa kenangan waktu kaka lahir 1th 4bln 13hr yg lalu.

    oh ya titip cium buat anakmu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s