CATATAN KEPULANGAN #2 Sept 2012


Pak, Bu… kepulanganku kali ini adalah kepulangan menuju kehampaan. Begitu nelangsa. Ada sedih yang sulit aku usir, sejak menginjakkan kaki di bandara SMB II. Ada yang ingin tumpah dari kelopak mata, panas, dan berat. Tapi aku tahan.

Rumah kita, rumah yang Bapak dan Ibu bangun dengan kebanggaan, tempat tinggal kita, tempat segala kenangan tertinggal, kini bukan milik kita lagi. Semoga dengan dijualnya rumah itu, akan mendatangkan banyak kebaikan bagi kami semua, dan Bapak dan Ibu di alam sana akan lebih tenang.

Aku menulis di dalam travel yang supirnya ugal-ugalan. Awalnya aku memilih naik kereta api, santai dan pastinya akan sangat seru. Berharap mampu menyelamurkan perasaan tak enak yang berkecamuk. Kak Gun, suami mbak reni gak bisa mengantar kami sampai ke prabumulih. Dia harus masuk kerja.

Sudah 2 kali aku mengingatkan supir travel ilegal ini untuk menurunkan kecepatannya. Duduk di jok paling belakang membuatku terguncang2, agak pusing. Apalagi ibu di depanku ini mabuk. Beberapa kali dia mengambil plastik kresek kecil yang dia selipkan di tasnya. Dan dengan sangat tidak sopannya dia membuang kresek yg terisi itu keluar jendela. Betul2 membuatku ilfil. “Ndeso” begitu batinku. Aku juga menegurnya untuk membuangnya nanti, saat kendaraan berhenti. Tapi tadi itu adalah kresek kedua yg dia lemparkan keluar. Cuek sekali ibu ini.

Dengan seenaknya dia minta mematikan AC ke supirnya, lalu membiarkan jendelanya terbuka lebih dari separuhnya, tanpa persetujuan penumpang lain. Dia merasa cuma dia yang membayar untuk perjalanan itu apa?
Ugh…kesal sekali rasanya.

Kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi, dentum musik melayu yang disetel kencang , aroma minyak angin kapak, kayuputih, asam kecut menyatu. Ditambah angin yang dengan sangat leluasa masuk, membuat wajahku kebas dan kedinginan. “Bu, maaf kaconyo biso naikke dikit dak, aku kedinginan”, begitu pintaku ke ibu berbedak seputih kapur tembok ini. Dengan sangat terpaksa, dia menaikkan kaca jendela yang semula setengah terbuka menjadi 1\3nya. Ra kacek! Huh.

Eh sudah sampai cambai, itu artinya sudah dekat. Aku agak lega, tidak berlama lama lagi di dalam mobil bau ini.

….

18.17 ; Aku di rumah mas heru sekarang, tadi pagi, kami hanya diturunkan supir travel itu di tepi jalan raya, di dpn SPBU, sopir tidak mau antar masuk ke dalam, sampai ke rumah. Naik ojeg, cuma 3 ribu saja. Rumah tempatku kembali ; sejatinya begitu. Tapi yg aku rasa hanya kehampaan, sedih yang tidak ada habisnya meskipun aku mulai bisa merelakannya.

Kalian tentu paham bagaimana rasaku saat ini. siang hari, aku mengajak mbak reni ke makam ibu. Berjalan kaki menyusuri pasar mulai dari belakang sampai ke depan. Becek dan semrawut. Tak ada perubahan, malah semakin tidak tertata, lebih parah dari tahun lalu.

Waktu yang semalam di prabumulih ini akan aku manfaatkan sebaik mungkin dengan mengunjungi semua saudara, ingin tau keadaan mereka sekaligus bermaaf2an masih dlm suasana lebaran. Besok pagi mau ke sungai pinang, di kabupaten OI kampung kelahiran ibu. Kemudian langsung bermalam di kampung Margoyoso di depan Pusri, di rumah mas iwan, kakak lakilakiku nomor 3.

…..

Gate B7 CGK, 17.48.
duduk di dekat pintu keluar. Ramai sekali, rupanya penerbangan ke balikpapan, manokwari dan surabaya delayed sampai sejam lebih. Tampang mereka puspas campur kesal. Ruang tunggu menjadi seperti pasar prabumulih, kebundel menungso :).

Ah waktu kita selalu tak cukup ; menurutku. Setiap perpisahan selalu menyakitkan. Membuat sisi hati menangis pilu.

Advertisements

2 thoughts on “CATATAN KEPULANGAN #2 Sept 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s