Jakarta Dalam Sebuah Kenang


Aku tiba saat lampu lampu jalanan baru saja dipadamkan. Mendarat dengan selamat dengan penerbangan pertama yang menurunkanku di terminal yang salah. Aku mengecoh hati yang bergemuruh lantang tak keruan, dengan sesekali bersenandung nyanyian kacau. Ah, jeda ini ternyata begitu lama, aku terlambat menyadarinya. Hati yang terlanjur kebas, datar menyusuri peron menyapa datar pada seonggok bangku di sudut cafetaria.

Kukibas resah dan tanya yang bergumul tak mau kalah sambil memerhatikan orang orang yang berjalan bergegas ; entah apa yang ada di pikiran mereka.

Laju kendaraan memenuhi jalur aspal yang membujur membelah ibukota. Semua sudut kota mungkin mulai mengawali hari cerah ini dengan deru yang sama bisingnya. Kupilin ujung kemejaku dan pikirku melayang jauh menyebrangi waktu yang nyaris sewindu. Rekaman kisah seolah film usang berwarna sephia, dan aku mengumpulkan fragmen-fragmennya dengan gemetar. Terus saja kusimpan segala kemungkinan dalam sebuah kotak berlabel waktu yang menjadi misteri.

Diluar panas terik melelehkan kepala. lepuh telapak kaki tak beralas dari seorang ibu yang menggendong anaknya. Inilah Jakarta, mungkin juga sama dengan kota-kota lainnya yang tak ramah. Tak ada kenangan di sepanjang jalan ini, debu berserak meradangkan hati. Pikirku sibuk diaduk tanda tanya yang tak berujung jawabnya. Ah Jakarta…

Kendaraan berjejal, tak ada celah. Emosi meradang dimana-mana. Klakson bersahutan dengan deru bajaj yang memekakkan telinga. Namun aku, masih sibuk dengan pikirku, dimanakah muara tuju, sedang waktu tak mau menunggu.

Jl. Sabang, angin yang menerbangkanku untuk singgah disana. Lalu apa yang istimewa disana menurutmu? Ia tak pernah tidur, sepejampun. Riuh rendah tawa orang2 berbaur dengan nyanyian merdu pengamen. Sepanjang jalan yang ramai orang menjajakan makanan. Seharusnya aku tidur malam itu, memungut mimpi yang semalam sempat terburai, tapi aku memilih berjalan bersisian dengan harapan. Duduk di bangku panjang di tepian jalan, menikmati secangkir teh tanpa gula dan seporsi sate kambing istimewa, ya istimewa..sangat istimewa.

Mari kita tutup malam dengan nyanyian bintang jalanan yang mengajakku turut bersenandung riang.

meski waktu tak mau membeku….

Advertisements

One thought on “Jakarta Dalam Sebuah Kenang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s