Solilokui


Katamu, di kotamu…hujan datang lebih awal.  Pertengahan Juni hujan lebat acap membuat kotamu tergenang. Ada apa di bulan itu ?. Bulan dimana musim belum seharusnya berganti.   Banjir. Air meluah. Sama dengan airmata perpisahan kita ratusan purnama lalu.

Dan saat hujan kecilkecil pertama turun di pertengahan Oktober di kotaku …kau lebih dahulu memilih berlalu. Menyisakan  luka yang kian hari kian bernanah. Meninggalkan aku  dalam kenangan kisahkisah yang tak mampu kuhapus. Continue reading “Solilokui”

Advertisements

Romantisme Hujan


Hujan sepagi ini, daun daun basah. Bulir air menggantung berat pada kelopak mawar jingga. Kuntum bunga matahari yang baru saja mekar tersenyum menyambut titik titik yang rekah bersama fajar.

Jalanan basah, juga setapak kecil yang dikiri kanannya ditumbuhi angsana menjulang itu,  dipenuhi guguran bunga kuning menebar keharuman eksotis. Magis. Continue reading “Romantisme Hujan”

Perempuan Bermata Mendung II


Berkali aku melirik layar ponsel yang kuletakkan di ujung bantal. Berharap suaramu menyapa sebelum mimpi indah tentangmu menjelang, atau hanya sekedar pesan selamat tidur, cukuplah buatku. Ah..Mendung, kau membuatku mencandumu…

“Beep” layar ponselku berkedip.

sleep tight, Aldi…”

“Tentu, Mendung…dengan kau yang menjadi bidadari mimpiku”

Continue reading “Perempuan Bermata Mendung II”