Ngunduh Wohing Pakarti


Ngunduh Wohing Pakarti” dalam bahasa Indonesia, pepatah Jawa tersebut berarti : Setiap orang akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya. Sama juga dengan pepatah yang akrab di telinga kita selama ini “Siapa yang menanam, akan menuai hasilnya”.

“Lah kalo yang kita tanam trus dicolong (dicuri) orang, gak jadi menuai hasil dong?” begitu celetukan teman saya dengan diiringi tawa. hahah itu mah lain lagi ceritanya :).

Secara lebih jauh pepatah ini ingin mengajarkan kepada kita bahwa jika kita melakukan perbuatan yang tidak baik, maka di kemudian hari kita pun akan mendapatkan sesuatu yang tidak baik. Entah itu dari datangnya atau bagaimanapun caranya. Intinya, pepatah ini ingin mengajarkan hukum keseimbangan yang dalam bahasa Indionesia mungkin sama maknanya dengan pepatah, siapa menabur angin akan menuai badai.

duh postingan saya kok serius banget yaaa?

Kembali ke inti pembicaraan kita, *betulin dasi kupu2. Ngunduh wohing pakarti ini lebih kedalam hubungan manusia dengan manusia. Hubungan orang yang satu dengan orang yang lain, secara personal ataupun kelompok.

Sejak kecil, tentu kita diajarkan oleh orang tua, tentang bagaimana “aturan main” dalam menjalin hubungan, baik itu pertemanan, hubungan percintaan, yaa pokoknya berhubungan secara sosial-lah.

Sejak kecil, hal-hal sederhana tersebut sudah ditanamkan oleh orang tua kita. Orang tua saya, dulu selalu mengatakan “jangan membalas perlakuan nakal teman kamu, kalau kamu membalas, berarti kamu sama nakalnya dengan dia”. Padahal, siapa yang mau dinakali? kalau dinakali teman, saya pasti membalas, biar teman saya tau, bagaimana rasanya dinakali. Ups, itu artinya saya tidak mengindahkan nasihat orang tua saya :). Bukaaan, saya tidak bermaksud abai terhadap nasihat mereka. Saya hanya tidak terlalu takut mendapat predikat nakal. Pemahaman saya waktu itu, membalas = sama nakalnya. Ah buat saya itu adalah urusan kecil :).

Begitulah saya dahulu, selalu membalas kenakalan-kenakalan sahabat kecil saya dengan kenakalan yang berlipat ganda. Bahkan karena tempaan mereka (yang nakal-nakal itu) saya menjadi sama nakalnya, bahkan lebih usil dibandingkan mereka.

Kenakalan masa kecil tidak bisa disamakan dengan kenakalan saat kita beranjak dewasa. Kadar nakalnyapun berbeda. Bentuk nakal terhadap teman saat kita masih kecil sangat berbeda dengan nakal terhadap teman saat kita sudah remaja, dewasa, tua….

Kalau saat kecil, menyembunyikan sepatu teman, dan menyimpannya di loteng kamar mandi, menjambak rambut teman perempuan yang berkutu, menaruh lintah di kursi teman yang cengeng, itu adalah bentuk kenakalan yang sederhana yang lumrah (menurut saya). Tapi, menghianati kebaikan hati teman, memfitnah teman, menyebarkan berita buruk; seburuk-buruknya untuk menjatuhkan teman, cari muka dengan boss dengan cara menyikut teman, terlihat paling menonjol dengan cara-cara licik, ini bukan kenakalan. Ini adalah keculasan yang mengindikasikan bahwa teman tersebut sedang sakit jiwanya.

Teman seperti ini tidak pantas dipanggil teman. Dan… tentang angin yang sudah ditanam, bersiaplah ! perlahan-lahan dalam waktu dekat akan segera panen, yaaa panen badai.

Advertisements

Perempuan Bermata Mendung II


Berkali aku melirik layar ponsel yang kuletakkan di ujung bantal. Berharap suaramu menyapa sebelum mimpi indah tentangmu menjelang, atau hanya sekedar pesan selamat tidur, cukuplah buatku. Ah..Mendung, kau membuatku mencandumu…

“Beep” layar ponselku berkedip.

sleep tight, Aldi…”

“Tentu, Mendung…dengan kau yang menjadi bidadari mimpiku”

Continue reading “Perempuan Bermata Mendung II”

Perempuan bermata mendung I


Pagi menjelang…sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Ketika aku melintasi pagar rumahnya, hanya sepi saja yang kudapati yang bercengkrama dengan perempuan bermata mendung. Hey, dia menatapku…!? menatap kosong ; entah ke arahku entah pada sekumpulan kupu2 yang hinggap di bunga warna warni itu. Ingin rasanya menyapanya, lebur dalam apa yang dia lamunkan. Atau sekedar menjabat tangan mungilnya.

Ah..mungkin tidak kali ini…Mungkin akan ada pagi, dimana aku bisa mengenalnya lebih jauh.

Continue reading “Perempuan bermata mendung I”

Ketika Prestis Mengabaikan Kantong


Cetok…cetok…cetok…begitu suara sepatu kuda teman yang melintas bergegas di depan ruang kerja saya. Belum sempat saya melongok, mencari tau sepatu siapa yang menimbulkan suara gaduh, tiba-tiba pemiliknya menongolkan separuh mukanya di balik pintu sambil senyum kuda selebar pantat lebarnya.

“eh jeng, kemarin ada sepatu cantik banget deh…terpaksa aku ngompasi suami. Pas kan dengan bentuk kakiku?” katanya sambil mengangkat sedikit kakinya, agar terlihat. Wow stelieto, dengan ditail tali, cantik sekali, bisik saya dalam hati. Continue reading “Ketika Prestis Mengabaikan Kantong”

HAMPA


Kukatupkan kelopak mata. Sejenak mengantarkanku ke dalam gerbang gelap, setelah terang benderang menyilaukan.

Aku…menyusur sepi-ke-sepi.

Aku ingin menihilkanmu, menghapus jejakjejak yang kau tinggal saat melintas di pelataran hatiku. Membiarkan segalanya melaju, seiring desau angin di bulan Mei ; angin kencang yang membawa aroma kering, yang menghempaskanku dari ketinggian. Aku ingin meniadakan gelombang. Gemuruh yang berkecamuk, yang acap memukulmukul dinding hati yang reyot dikebiri rindu. Rindu pada apa ? Rindu akan hadirnya siapa ?

Lalu…kumaki ketidak berdayaanku. Lumpuhku, dan semua yang perlahan menjauh. Menghindar, atau lenyap selamanya? entah…?

Aku hampa, tiada sesiapa dalam ruang yang tak kalah hampa. Barangkali inilah kesunyian paling sunyi yang pernah kurasakan. Hinggap, menyergap…tanpa ampun mengunci seluruh sendi.

*) walahhhh menye-menye lagiiiiii