Hore, Saya Lulus di 4 Minggu Pertama


Postingan ini harusnya sudah saya publish sejak Arya berusia sebulan. Tapiii ini sudah lewat  dua minggu. Gak apalah, dan saya gak harus mengganti judul postingan ini menjadi ” Lulus di 6 minggu pertama”, kan?. Baiklah…yang dimaksud ‘lulus’ di sini adalah saya sudah melewati saat melelahkan bersama Arya, putra kedua kami.

Bahagia yang meluap luap mendapatkan bayi laki laki yang sehat, lengkap, dan lucu ini ternyata sebanding dengan rasa lelah pasca melahirkan. Bagaimana tidak, tubuh serasa remuk redam. Serasa habis dipukuli orang sekampung (duh lebay yah saya). Saya mengalami kesemutan di sekujur tubuh . Tentu ini sangat mengganggu gerak saya, membuat saya agak takut menggendong Arya tanpa ditemani. Saya takut pegangan saya terlepas dan mengakibatkan Arya jatuh, ughhh mengerikan. Untunglah rasa kebas alias kesemutan ini hanya empat  hari menyiksa saya. Pengelihatan yang mengabur juga derita saya setelah melahirkan. Entahlah, mungkin karena teknik mengejan saya yang salah. Continue reading “Hore, Saya Lulus di 4 Minggu Pertama”

Lahirnya Jagoan Baru Kami


Alhamdulllah, putra kedua kami lahir tepat satu bulan yang lalu di Rumah Sakit Bersalin Khodijah di Pakualaman, dibantu oleh Dokter yang pernah membantu persalinan pertama. Dokter perempuan yang friendly, track recordnya baik, dan  sudah mengantongi riwayat kehamilan pertama saya yang bermasalah, membuat saya merasa nyaman dan memutuskan untuk melahirkan di RSB miliknya, meskipun jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal kami.

Saya sempat dilanda stress, ketika Hari Perkiraan Lahir (HPL) sudah lewat dan belum juga ada tanda tanda akan melahirkan. Sekuatnya saya berjalan-jalan di lingkungan tempat kami tinggal, termasuk ke warung, minimarket, salon, mol, saya ‘jabani’. Kaki pegal…tapi saya lupakan. Saya ingin bisa cepat melahirkan. Itu saja! Continue reading “Lahirnya Jagoan Baru Kami”

Menghitung Hari


usg

Ini adalah trimester III kehamilanku. Kehamilan ini  sangat membahagiakan, karena aku dikelilingi orang-orang yang sangat mencintaiku. Sahabat, teman, dan dukungan keluarga membuat hari-hari berlalu begitu cepat. Nggak terasa !

Banyak hal ajaib yang terjadi, meskipun ini bukanlah kehamilan pertamaku.  Aku tetap  merasa bahwa saat ini adalah  kehamilanku yang pertama. Sama….karena keduanya sama sama membahagiakan. Sama sama membuatku bersemangat. Disinilah aku memulai babak baru dalam kehidupan, sama seperti enam tahun lalu, saat aku mengandung Alif, buah hati yang kami banggakan. Continue reading “Menghitung Hari”

Anak-anak dan pertanyaan mereka yang tak bisa diabaikan


Alif    : “Bunda, ceritain waktu kakak lahir dong !”

Saya : “Waktu kakak lahir, kaki kakak diangkat sama dokternya, trus dibalik, kepala kakak di bawah, pantat kakak ditepuk-tepuk biar nangis”

Alif   : “Berarti dokter itu sukanya nangisin anak bayi ya?”

Saya : “Oooo bukan begitu sayang, bayi yang baru lahir memang disuruh nangis, biar paru-parunya berkembang, kalau gak nangis berarti bayinya sakit”

Continue reading “Anak-anak dan pertanyaan mereka yang tak bisa diabaikan”

Era Layar dan Mental Anak-Anak Kita


Tv+baru+014

Lihat iklan permen Hexos kan ? Adegan merayu yang dijawab oleh suara perempuan yang mendesah lebih mirip kucing kawin. Atau iklan wafer coklat Romeo dan Juliet dengan soundtrack “kugigit lagi Romeoku, kugigit lagi Julietku” dan satu lagi, tentu masih kita ingat iklan mie instant yang mengakrabi kita sekitar tahun 2002, dengan slogan “hot hot hot” nya.

Ini baru contoh kecil dari tayangan-tayangan yang dikonsumsi oleh semua umur. Iklan produk itu sebetulnya lebih mengedepankan sensualitas tubuh dan suara wanita sexy dibandingkan produk yang dijualnya. Produk-produk dibungkus dalam kemasan yang menggoyang syahwat konsumen, dengan dalih kreatifitas. Bahkan penonton bisa berbeda-beda dalam menginterprestasikannya.

Tayangan sinetronpun tak kalah berani mengumbar adegan mesra ; mempertontonkan bagamana cara berpacaran, fenomena homoseksual, bencong, mistik, juga kekerasan dalam rumah tangga. Semua adegan tersebut dapat dipastikan ada di setiap sinetron-sinetron lokal. Menjijikkan !.

Continue reading “Era Layar dan Mental Anak-Anak Kita”

Alif Rakhan Ambara Winardi


              Alifputri

Teringat lima tahun lalu, saat tangis pertamamu mengoyak kegalauan, memecah sunyi ditengah dentuman kecemasan, yang berdegup kencang di hati kami. Tak kuperdulikan rasa sakit yang tak alang kepalang, sembari terus berdoa….harap cemas atas keselamatan kau dan aku, Nak…

Seperti nyanyian yang setiap malam kunyanyikan sebagai pengantar tidurmu, seperti itu juga aku mengajarkan kepadamu agar kamu dapat mencintai hidup dan yang akrab dengan pahit dan manisnya.  

           Image(20)

Di tahun pertama usiamu,  geligi putih yang berjumlah tak genap, kaki yang sudah lincah berjalan, dan mulut yang tak berhenti menirukan apa saja yang aku katakan. Aku tersenyum mengenangnya, Nak…kau lucu dan sangat menggemaskan.

           Kakak lagi

           Picture 152

Tahun kedua, ketiga, keempat, dan sekarang… tahun kelima…. Kau kian tumbuh, mencintai aku dan Babe dengan sangat.

Kita seperti sahabat ya, Nak… Saling berbagi cerita bila bertemu. Tertawa sampai keluar air mata, dan kau hanya bisa tertawa bila aku meninggikan satu oktaf nada bicara bila aku sedang marah. Dan..melihatmu tertawa, akupun jadi ikut tertawa.                             

“Bunda jangan marah…nanti hilang cantiknya”

Begitu jurus ampuh yang membuatku tak jadi marah,  Ah nak, kau semakin pintar saja.

Pagi ini…., satu kecupan, pelukan hangat, ucapan selamat, kue dan lilin kecil, juga sebentuk kado spesial, membuatmu tergagap diantara kantukmu. Tak ada yang lain lagi selain doa, nak…

          Alifku

Selamat Ulang Tahun yang ke-5 anakku…Kaulah bintang terang itu, doa dan harap berkejaran mengiring langkahmu….

Valdisya Azzahra


                     Disya giding

Bola mata bulatmu itu, bergerak ke kanan ke kiri ; nakal sekali, membuat gemas siapa saja yang sedang memandangnya. Tak canggung kau mempertontonkan gelak tawa. Lepas, menunjukkan barisan geligi susumu yang putih bersih.

Kaus lengan panjang, celana jins, sepatu boot putih juga kerudung coklat, mempercantik tampilanmu siang itu.

“Bunda mana?”

Tanyaku menelisik di antara rimbun bulu matamu, ketika aku tak menemukan bunda datang bersama kalian. Tak ada jawaban, kau malah membalas menatapku, mungkin balas bertanya di dalam hati ”Kamu siapa?”

Aku tersenyum, membalas tatapan tanyamu, sambil mengulur tangan mengajakmu berjabat, dan Hey.… kau sambut juga ulurku. Tangan mungilmu menggenggam ujung jemariku. Masih, aku tak lepas menatap matamu…

“Ini perpaduan yang sempurna….”

Bisik batinku. Kau begitu cantik, lincah dan memesona. Kecantikan yang diwariskan ayah dan bundamu begitu sempurna, Sya…sungguh sempurna!

Continue reading “Valdisya Azzahra”