Romantisme Hujan


Hujan sepagi ini, daun daun basah. Bulir air menggantung berat pada kelopak mawar jingga. Kuntum bunga matahari yang baru saja mekar tersenyum menyambut titik titik yang rekah bersama fajar.

Jalanan basah, juga setapak kecil yang dikiri kanannya ditumbuhi angsana menjulang itu,  dipenuhi guguran bunga kuning menebar keharuman eksotis. Magis.

Lalu ingatanku terbang, mengawang pada kenangan yang dihadirkan hujan kepagian.

Hujan kecilkecil pagi ini mengajakku kembali menyesap manisnya riwis gerimis yang turun di senja yang ranum, belasan tahun lalu.

Sepasang mata dengan manik berwarna coklat, diteduhi alis mata yang rimbun itu, kini kerap hadir. Bukan tak kuundang. Sengaja kupanggil, namun tidak seperti anak-anak jahil yang memanggil arwah dengan bantuan jailangkung. Bukan !. Ini adalah kerinduan. Iya…aku merinduimu…merindui sesungging senyum dan gelak tawa jenaka  yang menenggelamkan mata indahmu.

Hujan selalu saja menghadirkan rasa yang berbeda di setiap partiturnya. Selalu saja menghadirkan kerinduan. Kerinduan yang membekukan.

Kau ingat saat kita berjalan bersijingkat di sepanjang emperan toko. Aku menggulung tinggi celana panjangku. Dan kau melingkarkan kemeja birumu di atas kepalaku. “Nanti kamu flu”. Begitu katamu sambil terus menjejeri langkahku. Padahal kau tau….tak ada hujan yang dapat membuatku sakit. Kita sudah bersahabat dengannya, bukan?.

Kau terkekeh, ketika aku memintamu memungut bunga melati yang dirontokkan hujan. “Nanti akan kutanam untukmu, kelak bila nanti berbunga, kau bisa memetiknya. Bukan memungut melati melati yang sudah kotor seperti ini”.

Bunga mawar merah, kelopak kenanga, cempaka, melati, gladiol, dahlia, dan entah apa lagi….Kau mampu menghapal namanya dengan sempurna. Tidak seperti aku, yang hanya tau mawar dan melati saja.

Ah begitulah. Waktu  menjalani kehidupannya seperti tergesa. Kisah demi kisah selesai. Tergantikan dengan kisah baru, namun bukan berarti kisah itu padam. Tamat, dan berujung pada sebuah titik. Tidak !. Pun orang-orang yang beranjak, pergi dan tergantikan dengan sosok baru. Tidak ada yang dapat menggoreskan kisah yang sama. Tidak ada.

Ada hujan bulan Oktober. Hujan yang seharusnya datang lebih awal. Bukan di penghujung tahun seperti saat ini. Retak retak tanah kehausan, rakus meneguk buliran air yang tercurah dari langit.

Aku masih merindui hujan. Seperti katak yang terus bernyanyi, berteriak kehausan. Memanggil hujan datang. Hujan yang  menulis haikunya sendiri.

Advertisements

16 thoughts on “Romantisme Hujan

  1. ya, hujan harusnya datang lebih awal
    entah ke mana saja dia selama ini
    mungkin dia ragu untuk datang tepat waktu karena orang banyak yang mengomel saat dia turun…

  2. saya pun merindu hujan,.. kadang damai turun bersama rintiknya,… kadang mampu membasuh debu dan bahkan luka dari kekeringan selama ini 🙂

  3. ah, hujan pagi ini… dalam romantisme hujan…
    pulang nyervis pagi, setelah semalam berkutat dg virus.mata ngantuk, perut lapar, pingin segera nyampe rumah… kehujanan…. dingin….
    gmn kbrnya,bu?

  4. Hujan,
    membuat suamiku kebasahan
    membuat jemuranku tidak kering
    membuat ku jadi lapar terus
    membuat pohon dan rumput bahagia

    Hujan,
    basah.

    -sekian-

    :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s