Karena kutau, kau akan datang


Pergilah seperti uap, karena kutau, kau akan kembali sebagai hujan.

“Kalau kau ada waktu, jemput aku di bandara Jum’at pagi. Aku berangkat dengan penerbangan pertama”

Aku menimang-nimang ponselku setelah membaca pesan yang sangat tibatiba itu. Bimbang. Kaukah itu? yang berjanji datang menemuiku, setelah ratusan purnama kulewati tanpamu?

Ya, tentu…aku akan menjemputmu”

Kuhela nafas, sesak. Ada yang mengganjal ketika membalas pesanmu.

Antara percaya dan tidak. Ingin menjemput atau membiarkanmutersesat di belantara kota yang belum pernah kau kunjungi. Menanggalkan logika dan berpihak pada hati yang berlumur rindu, atau sebaliknya? entahlah…aku tak memiliki kekuatan untuk memilih.

Menekuri detik yang berlari, seolah ikut berlari di atas angin.

Bertahun lalu, aku membiarkanmu pergi. Tak ada kata ; sekedar menahanmu untuk tidak meninggalkanku, atau memintamu untuk tinggal lebih lama. Tidak ada… Aku membiarkanmu menjauh…semakin menjauh, meninggalkan perih hati yang aku telan dalam diam. Aku kehilanganmu…ratusan purnama lalu.

Dan bila aku terkejut akan kehadiranmu yang tiba2, apakah ini salah? Aku percaya, kau pasti akan datang..seperti janjimu, seperti kuncup melati yang menjanjikan keharuman alami di pagi, sore, dan malam hari. Aku yakin kau akan datang. Tapi….untuk apa?  untuk menemukan satu rasa yang baru? dan memupuk keterpesonaan pada kebaruan yang menyapa, berkilau wujud senyawa sederhana ? Entahlah…?

***

Kusesap secangkir coklat panas, aku ingin membunuh rasa jenuh saat menunggumu di Bandara, Jum’at itu. Jantung berdebar lebih kencang ; ini sering terjadi saat dulu kita berjanji akan bertemu. Kupilin ujung kemejaku, sekedar menyalurkan gugup yang tidak berujung.

Pesawatmu mendarat…

Dua cup coklat panas kubawa serta. Satu untukmu, dan satu untukku. Aku masih bersandar pada satu pilar di dekat pintu kedatangan. Aku sudah melihat sosokmu sejak tadi. Dan kau tau…? aku semakin menguatkan sandaran tubuhku pada pilar itu. Kau dalam balutan kasual berwarna khaki terlihat lebih dewasa dan matang. Aku masih sangat mengenalmu, sangat. Dari ujung rambut hingga ujung kakipun kenal. Aku seperti terdampar dalam negeri yang belum pernah aku singgahi sebelumnya. Seperti mimpi….Mimpi dapat melihatmu kembali.

Kubiarkan kau celingukan mencariku. Hampir putus asa, dan mungkin kau mengira aku tak akan datang menjemputmu.

Kutepuk lembut pundakmu dari belakang, dan kau menoleh. Ada kerinduan yang membuncah dari matamu…mataku, saat beradu pandang. Aku masih tak mampu menyembunyikan gugupku. Kau menjabat tanganku, erat…hangat…den penuh emosi.

Kusodorkan coklat yang tak lagi panas. “untukmu” kataku. Masih dengan hati yang tak mampu menyembunyikan rasa yang tak menentu.

“Maaf aku tidak membawakanmu oleh oleh”

“Kaulah oleh2 yang tak ternilai, kau tau?”

Kecanggungan menguap, dan kita larut dalam cerita yang dulu belum sempat kita bagi, di sudut kotaku yang sunyi.

***

Kau datang lagi…meski kini semua tak lagi sama. Tak ada kemungkinan walau seperseratus untuk kita bisa menuai cerita  lalu kita yang sempat terabaikan. Tidak ada…

Namun begitu, kau telah datang…bagaikan hujan, di padang gersangku…

*) Maaf Lae, saya pinjam judul postingannya 

Advertisements

36 thoughts on “Karena kutau, kau akan datang

  1. Pergilah seperti uap, karena kutau, kau akan kembali sebagai hujan.

    wuihhh keren juga kata²nya

    -> iya nih, saya juga suka judul postingan seorang teman..keren yak?

  2. Ah, cuma minjem judul aja kok permisi. Jadi hujan ke padang gersang pun kita siap…

    *apalagi padang gersang yang berpinggul proporsional*

    -> Makasih Lae, sudah kasih izin, hahaha pinggul proposional? masih inget aja

  3. bila kutelah jadi hujan, akankah kembali berharap biar aku kembali menjadi uap?

    cerita yg romantis bu….

    -> begitu siklusnya, pak. datang dan pergi…

  4. hmmmm….. untukku ada coklat panas juga gak? heheheh, skotang aja deh….

    -> sekotang di muaro da…ah selalu pingin bisa kembali lagi 🙂

  5. Alamak….indah nian…..sebuah kerinduan akankah membawa rasa sama ketika dahaga itu telah terpenuhi…?Atau biarkan rindu tetap menjadi rindu aga indahnya tetap terjaga….

    -> rindu itu indah bila bertemu, Esha..salam kenal yaaa

  6. Indah kali pun … !

    Mengingatkan pada janjiku untuk pulang. Trims dan salam kenal.

    -> pulanglah, Enade. salam kenal juga ya

  7. karena kita jauh makanya kuteriak:

    SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429H
    MOHON MAAF LAHIR BATIN DAN SALAM KENAL

    -> jadi, kalo deket..bisik bisik dong? salam kenal juga ya..maaf lahir bathin 🙂

  8. Apakah hujan juga memaknai dua hal :
    Pertemuan dan Perpisahan?

    Selamat Hari Raya Idul Fitri, Maaf Lahir Bathin

    -> adalah dua hal yang terpisahkan, kan hujan?

  9. mbak, ajari aku nulis dong! 😀
    btw, selamat idul fitri ya Mbak, mohon maaf lahir dan batin…

    -> belajar menulis, Fa? heheh ini juga sedang belajar. Belajar bareng yuk. Maaf lahir bathin yaaa

  10. met lebaran aja ya.

    Gendang melayu bunyinya lantang,
    Dara di hilir menari Zapin
    Ramadhan berlalu Syawalpun datang
    Mohon maaf lahir & batin

    Berharap padi dalam lesung,
    Yang ada cuma rumpun jerami,
    Harapan hati bertatap langsung,
    Hanya bermimpi dari sini.

    SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429H.
    Taqobalallahu minna waminkum wataqabbal ya karim.

  11. tulisn yg menarik, lama sekali pngin nulis, tp selalu saja kandas… smg ini jd inspirasi.thx.
    minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir batin…

  12. Bun’ apa kabar? kangen lama gag sapa 😉 yang pasti ria selalu ngefanz berat dgn tulisan2 bunda ;-* moga bunda makin cantiekk selalu….
    yuuukkk main ke jakarta bun ;p

    hugs and kisses!

  13. Aduh, mbak unai bagus dan romantis sekali ceritanya…
    pasti kisah nyata ya???
    Yang jelas ketika sang wanita memegang pilar itu, pasti sebelah hatinya sudah melayang ke langit…
    Wanita itu tentu sangat menanti hari itu..
    andai itu bisa terjadi, aq berharap laki-laki itu akan datang menggunakan tshirt berwarna hitam plus sebuah jeans dan sandal jepit… sambil berkata ” ini satu biskuit untuk mu…Tp itu pasti tdk akan terjadi
    Duh, ceritanya bikin reni nangis…

  14. Kehidupan bagai jalan satu arah yg panjang, dan tidak ada kemungkinannya untuk kembali melewati jalan yg sama yg telah ditempuh,….. biarkan menjadi masa lalu,…

  15. It’s good to hear that you are a mom of 2 babys. It’s a blessed work to be a mom. As for me, I am a dad of 5 kids. 🙂

  16. romantis sekalii… “pergilah seperti uap, karena kutahu kau akan kembali sebagai hujan”

    jadi ingat 2 bln yg lalu aku datang ke satu kota dan ditunggu seperti dlm cerita itu jugaa. so sweet^^

  17. Mungkin karena yg kau bawa itu coklat panas, mungkin lain kalau sebatang rokok. Konon, rokok mampu mempersatukan 2 kecanggungan yang jau berseberangan 🙂

    *dikeplak aktivis anti rokok*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s