Perempuan Bermata Mendung II


Berkali aku melirik layar ponsel yang kuletakkan di ujung bantal. Berharap suaramu menyapa sebelum mimpi indah tentangmu menjelang, atau hanya sekedar pesan selamat tidur, cukuplah buatku. Ah..Mendung, kau membuatku mencandumu…

“Beep” layar ponselku berkedip.

sleep tight, Aldi…”

“Tentu, Mendung…dengan kau yang menjadi bidadari mimpiku”

Kubalas pesannya dengan tersenyum. Ah kuharap ini bukan rasaku saja. Kuharap kaupun menyimpan debar yang sama. Kuharap….!

Lara…,aku lebih memilih suka memanggilmu dengan Mendung. Meski aku lebih menyukai hujan daripada mendung. Matamu itu Lara…, mengisyaratkan mendung. Seolah menyimpan berton-ton kepedihan yang tak bisa kau tutupi dengan senyuman paling manis sekalipun. Kau lara… luka lara, sama dengan namamu kan?

Mendungku…boleh aku memanggilmu demikian? Meski kedekatan kita hanya sebagai teman, tapi aku ingin lebih. Aku ingin bisa memilikimu suatu saat nanti. Aku ingin mampu mengatakannya padamu. Bukan hanya menatapmu, mengagumi kelopak matamu yang dirimbuni bulu mata nan lentik dan mampu membendung titik embun yang memutik di ujungnya.

Aku suka caramu menatapku ; seolah mengais sesuatu yang tak pernah kau temukan. Aku tak pernah jemu mengagumi bibir tipismu yang menceritakan apapun padaku, meski bukan tentang kita.

Mendung, satu tahun aku mengenalmu. Dan aku bahagia menjadi sahabatmu, seseorang yang kau anggap berarti. Aku bahagia bersamamu, merasai wangi nafasmu ketika tanpa sengaja kita bertukar oksigen saat kita seperti tak berjarak, menyapu sudut matamu yang basah ketika laramu menceritakan luka kehilangan orang-orang terkasihmu. Kau telah memenuhi duniaku, Mendung…

Mendung, kutulis sepucuk surat untukmu malam ini, dan aku berjanji akan memberikannya padaku, esok pagi…saat aku melintas di depan rumahmu, seperti dulu…

Untuk Mendungku

368 hari lalu, aku menulis padamu, dengan hatiku, sebagai uluran pertemanan. siapa sangka, uluran hati itu tak pernah bisa kutarik lagi. selama 368 hari ini, kuikuti hatiku yang selalu membaca jejak-jejakmu, dan semesta hangat selalu menaungiku. engkau adalah rahmat. rahmat terbaik yang diberikan seorang sahabat.

kadang aku berpikir, bisakah aku memanglingimu, dalam kelimun hari, ketika kesibukan dan kesuntukan mendera hati? namun, ternyata, tak ada yang mampu mengendali hati. dia punya cara sendiri untuk nuju padamu, membacai kembali jejak terangmu. dan susuran pada hari-harimu, mendudukanku kembali pada harap, juga tanya, “dapatkah ikatan ini abadi, dalam waktu, dalam kata-kata yang kadang berubah kelabu?”

aku selalu takut, kesalahpahaman akan menjaraki kau dan aku. aku selalu cemas, bias kata mempreteli kedekatan kau dan aku. aku gugup, jika suatu waktu, akan kau katakan, “jangan lagi susuri jejakku. karena ku tak ingin, wangi tubuhku kau cium …”
368 hari, belum kupuasi kedekatan ini. kuharap kau berikan waktu, agar aku dapat selalu mengenalmu, dalam ritus waktu, yang kadang mengubah kau, mengubah aku. tak ada inginku yang lain, kecuali mengenangkan senyummu, dan guncangan tubuhmu ketika bicara, yang menguarkan bau harum itu. bau wangi, yang sampai kini masih tinggal dalam memoriku. 368 hari itu, adalah kini; kau mendungku…
Salam
Aldi
***bersambung***
Advertisements

12 thoughts on “Perempuan Bermata Mendung II

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s