Ketika Prestis Mengabaikan Kantong


Cetok…cetok…cetok…begitu suara sepatu kuda teman yang melintas bergegas di depan ruang kerja saya. Belum sempat saya melongok, mencari tau sepatu siapa yang menimbulkan suara gaduh, tiba-tiba pemiliknya menongolkan separuh mukanya di balik pintu sambil senyum kuda selebar pantat lebarnya.

“eh jeng, kemarin ada sepatu cantik banget deh…terpaksa aku ngompasi suami. Pas kan dengan bentuk kakiku?” katanya sambil mengangkat sedikit kakinya, agar terlihat. Wow stelieto, dengan ditail tali, cantik sekali, bisik saya dalam hati.


“Murah lho jeng, biasanya kan ndak ada sale…mumpung ni…aku dapet yang bagus dengan harga murah, cuman sembilanratusduapuluhtujuhribulimaratusrupiah saja” katanya dengan dagu mendongak.

Saya cuma senyum, bukan senyum iri…! Asli bukan ! Karena bagi kaki saya yang butut ini stileto bukanlah pilihan. Saya lebih nyaman dengan sepatu kets dan sandal jepit. Yang bikin saya geli adalah cara dia menyebutkan nominal harga sepatunya itu. Sepertinya ada kepuasan bisa menyebutkan angka yang fantastis untuk harga sebuah sepatu. Padahal saya tahu betul, harga sepatu itu sama dengan gajinya satu bulan (setelah dipotong hutang :P), mungkin ? Ah entahlah…

Lain waktu, ketika jam istirahat…kami sering kumpul untuk makan bareng di kantin yang letaknya lumayan jauh dengan ruang kerja kami. Macam-macam saja yang menjadi bahan pembicaraan. Dan…pastilah saya hanya menjadi pendengar. Bukan tak punya bahan untuk didiskusikan, tapi…saya malas memulai obrolan dengan ibu-ibu rumpi itu juka bahasan tak lain seputar ranjang, tas terbaru, sepatu ber-merk, dan dua tiga kartu kredit yang bisa merekan gunakan kapansaja, dimanasaja. Beuh..bener bener siksaan buat saya, berada dalam komunitas yang sama sekali tak membuat saya nyaman.

Gaji buruh seperti di tempat saya kerja saat ini, tidaklah besar. Ada semacam barcode di kening kami ; para buruh di sini, yang menunjukkan secara jelas, berapa gaji yang kami peroleh setiap bulannya. Tapi ahhhh, mereka berhak untuk sombong, memamerkan segala yang mereka punya, dan dengan bangga menepuk dada “saya bisa beli yang lebih mahal dari ini”. Sah sah saja.

Menurut saya yang kaum dhuafa ini…mahal tak selalu bagus, dan murah tak selalu murahan. Kalau disuruh memilih, saya lebih menyukai berbelanja di pasar tradisional daripada superkampret, lebih excited.

Advertisements

29 thoughts on “Ketika Prestis Mengabaikan Kantong

  1. @ Hafidzi
    prestis itu nilai….!!! atau sebuah penilaian…
    prestis aja kok ga tahu..???
    kamu dulu kuliah dimana tho..???
    *siap2 mancal*

    *berasa yg punya blog*

    eh,bun..pkbr..???

  2. sembilanratusan? murah banget! sekali makan siang aja aku ngabisin 2 sampe 3 juta. bwahahaha…..

    *aku gak pernah beli sepatu, punyanya cuma sendal* 😀

  3. ada duit segitu pun, ngga akan saya pakai buat beli sepatu stileto. lha masa cowok pakai hak tinggi gitu.

    btw, prestis nya sepatu diliat dari apanya sih ? *bingung*

  4. wah…. murah amat sepatunya? kenapa gak beli sepatu cinderella sekalian, biar dijadiin selingkuhan oleh Ian Kesellah 😀

  5. hehehe… sembilanratusduapuluhtujuhribulimaratusrupiah cuma buat diinjek2 doang… :p

  6. Mahal dan murah itu relatif.
    Sesuatu tidak lagi dianggap mahal jika mampu dibeli.
    Sebaliknya, sesuatu yang sebenarnya terlihat murah akan terasa menjadi mahal karena tidak terbeli.

    Ada beragam sikap sebagian orang dalam menunjukkan kemampuan dan ketidakmampuannya memiliki sesuatu yang dianggap mahal atau murah. Terlepas dari bagaimana caranya dalam memperoleh kemahalan tersebut.

    Apa yang Mbak kemukakan adalah fenomena yang sering terjadi di tengah masyarakat kita sekarang.
    Persoalannya, di zaman yang serba sulit ini, mimpi saja sudah tak terbeli.

    Tabik!

  7. hihihi ‘murah’ ya! apa gak terlilit hutang gaya hidup kek gitu? wih! untung aku hanya butuh sepatu gajah 😀

  8. tau gak jeng, sepatu gw udah butut banged ampe sekarang belum bisa beli yg baru :d

    *inimahcurcol*

  9. assalam

    wah .. sombong niyan mahluk ituu …
    memang apa yang sudah dia hasilkan sebagai mahluk pribadi yang utuh ??
    *berhasil menikahi pria kaya??? sehingga mampu beliin dia sepatu??*

    *sirikmode : ON*
    *seriusmode :ON*
    😀

    salam kenal,
    -hf-

  10. @Hafidzi: Lah mungkin bagi dia murah, ehhhm prestis itu gengsi ya sejenis itu 🙂

    @Escoret: thanks

    @Anang: tul itu nang

    @Simbok: Wah kalo gitu besuk aku ditraktir lunch ya mbok 😀

    @Pengki: hahah kami pake high heels ndak papa kok PEng

    @Damax: sayang uang segitu buat diinjek2 doang, mending buat beli tiket ke acaranya kubugil ya 😛

    @IA: hihihi, biarin 🙂

    @Zulmasari : setuju…norak itu mah

    @V1rzha: ah kalo aku mah duitnya mending buat beli sepatu kets, dapet banyak :), apalagi cendol…waaaa

    @EWA: ndak lah pak..ndak level pun

  11. Itu sih belum seberapa! Meskipun cuma sandal, masih dilihat dan dipamerkan. Ada lo yang pake pakaian dalam merek terkenal dengan harga sekian ratus ribu. Sapa yang bisa lihat? Mau dipamerkan sama sapa? He he he…

  12. @ Aprikot : nah itu dia seninya belanja di pasar yah Mbit 🙂

    @ Zul : Ada banyak cara yang dilakukan untu menunjukkan status sosial seseorang pak, saya jadi teringat boss saya. Beliau sederhana sekali, walaupun kaya raya bisa buat sepuluh turunan. Mungkin buat mereka yang sudah kaya itu, ndak perlu lagi pengakuan bahwa mereka kaya.

    @Nimeiy: hahaa sepatu gajah, jadi pen nyobain pake

    @Froz!: owalah…makanya daritadi bau 🙂

    @HAfi: kadang sombong itu penting 😛

  13. Mbak, sudah baca postinganku soal sosok Lihan pembeli Intan Putri Malu di blog akukan? Masih ada banyak contoh orang kaya yang rendah hati.

  14. @Lae Toga: Huh…sumbung ya sekarang, pindahan rumah gak bilang2

    @Bagus: BEnul masssss…bubay blogspot 🙂

    @Zul: iya pak saya sudah baca…makasih ya pak, membukakan mata hati

  15. hahaha,..itu tuh kebutuhan akan aktualisasi diri,…sayang banget uang sebanyak itu diinjak,..mending beliin buku, dipake jalan2, makan2,..wah banyak yg dapt dg uang banyak itu

  16. huahahaha…, saya bisa mati gantung diri ato lompat dari lante lima kantor jenengan lo besok dapet istri semacam teman jenengan.

  17. nai, aku punya kaos bermerek juga, tapi dibeliin temenku… hehehe. coba kalo kantor kita deketan, kamu gak perlu maksi di kantin itu. kita bisa ngabur, trus ngobrol soal cari gratisan buat sekolah lagi huehuehue…

  18. hahaha…
    aku pernah beberapa kali nih ngalamin hal kayak gini,
    mesti mingkem dan pasang senyum sambil dengerin mbak2 rumpi (secara masih pada kuliah) ngomongin barang2 harga selangit…

    heugh…
    prestise itu kadang bisa bikin idup jadi berantakan…

  19. 927.500 = beli bahan + gambar spatu model aneh tapi asik dipake + dibawa ke tukang sepatu + pasang gambar jadinya di web + di dol maneh.

    hatssyii!! duit segitu bisa buat bertahan hidup cukup lama. Tapi prestis tentu bisa bikin hidup lebih lama di alam negeri yang serba ga jelas ini (tentu nurut yg punya spatu hehehe.. )

  20. Halah… sepatu…
    Sepatu sekarang malah saya beli sejak masih masa probation 3 tahun yll, belum dapet gaji, baru uang saku, belinya pun di pasaraya, dan sekarang sudah menganga jahitannya sana-sini, untunglah ada penjuwal lem ajaib setiyap sholat jum’at di mesjid kantor, bisa jadi solusi peraktis mengatupkan lagi mulut sepatu 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s