Era Layar dan Mental Anak-Anak Kita


Tv+baru+014

Lihat iklan permen Hexos kan ? Adegan merayu yang dijawab oleh suara perempuan yang mendesah lebih mirip kucing kawin. Atau iklan wafer coklat Romeo dan Juliet dengan soundtrack “kugigit lagi Romeoku, kugigit lagi Julietku” dan satu lagi, tentu masih kita ingat iklan mie instant yang mengakrabi kita sekitar tahun 2002, dengan slogan “hot hot hot” nya.

Ini baru contoh kecil dari tayangan-tayangan yang dikonsumsi oleh semua umur. Iklan produk itu sebetulnya lebih mengedepankan sensualitas tubuh dan suara wanita sexy dibandingkan produk yang dijualnya. Produk-produk dibungkus dalam kemasan yang menggoyang syahwat konsumen, dengan dalih kreatifitas. Bahkan penonton bisa berbeda-beda dalam menginterprestasikannya.

Tayangan sinetronpun tak kalah berani mengumbar adegan mesra ; mempertontonkan bagamana cara berpacaran, fenomena homoseksual, bencong, mistik, juga kekerasan dalam rumah tangga. Semua adegan tersebut dapat dipastikan ada di setiap sinetron-sinetron lokal. Menjijikkan !.


Goyang dangdut, patah-patah, ngebor, ngecor, atau gergaji…dengan mudah disaksikan si kecil, buah hati kita yang sedang memasuki tahap imitasi. Anak-anak tinggal menekan remote mencari chanel tv yang mereka inginkan, tanpa pengawasan…dan mulailah mereka mengikuti kursus praktis “cara hidup yang tidak ketinggalan zaman”. Tak heran bila Diane (4 thn), anak tetangga saya yang cantik, lucu dan menggemaskan itu bisa menirukan goyang Dewi Persik yang menurut saya β€œnggilani”. Lucu ??? sama sekali tidak !

Ini baru tayangan tv. Belum lagi VCD dan DVD porno yang sangat tidak layak menjadi tontonn mereka. Anak-anak kita adalah anak-anak milenium. Anak yang sejak lahir tidak gagap teknologi. Merekapun sejak dini mengenal bermacam games, dari HP orang tua mereka, Play Station (PS), komputer, bahkan internet yang dapat dengan mudah diakses di rumah sendiri. Cukup mencengangkan, ketika tanpa sengaja saya melihat anak tetangga yang asik masyuk bermain PS. You know what ? di dalam permainanpun, pornografi ternyata tak luput menjadi menu utama. Permainan tarzan kecil yang bergelantungan semula tak membuat orang tua “ngeh“. Orang tua berpikir, anak mereka aman bermain di dalam rumah, padahal anak-anak menyaksikan bagaimana caranya bersetubuh. Astaga !

Di tengah banjir informasi yang menyesatkan tentang seks dan minimnya kontrol orang tua, bukan tak mungkin jiwa-jiwa labil mereka mengalami kebingungan (untuk tidak mengatakan : mengalami kerusakan).

Tulisan ini adalah wujud dari kegelisahan saya terhadap nasib generasi penerus bangsa. Setiap orang tua tentu ingin anak-anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas, bertakwa, dan tidak ketinggalan zaman (tentu bukan zaman edan). Untuk itulah, dengan saya mendukung pemblokiran situs porno . Meski pertanyaan demi pertanyaan terus bergayut ; efektifkah tindakan pemerintah ini ?.

Memang, upaya pemblokiran situs porno tidak akan serta merta menghapus hasrat dan keinginan pengguna internet untuk menikmati gambar-gambar porno, hal yang sebaliknya akan sangat mungkin terjadi. Namun setidaknya, anak-anak kita tidak dapat dengan mudah mengakses situs porno yang konon dalam seminggu update ratusan ini.

*) foto saya culik dari sini

Advertisements

29 thoughts on “Era Layar dan Mental Anak-Anak Kita

  1. setauku, uu ite yg lagi rame itu cuma memblokir situs2 lokal, nai. coba deh googling lagi, ketik xxx, yg muncul sekitar 282 JUTA situs porno dari luar. jadi menurutku sih memang sama skali gak efektif. mestinya yg diurusin kan soal peredaran dvd2 porno bajakan yg sampe sekarang masih aman beredar bahkan di pinggir2 jalan yg ada pos polisinya, atau pengawasan akses anak2 di bwh umur ke situs2 seperti itu, trus pembatasan umur pembeli majalah dan koran merah yg juga masih dijual bebas (aduh…), dan yg wajib hukumnya adalah sanksi bagi pelanggarnya harus tegas.

    ah, cape ngomong beginian. pejabat2 kita mikirnya cetek banget. kemaren diskusi panjang sm temen yg kerja di LSM, aduh sedih….

  2. @Simbok : Iya Mbok, banyak amat yah. Kitalah sebagai ortu harus lebih care dan tune in dalam hidup anak-anak kita. Aku juga setuju banget mbok, kalau ada pengawasan pembelian dvd porno bajakan, komik2 saru yang gampang banget didapet mereka..anak anak kita.

  3. pernah liat iklan kopi susu moka dengan goyangan erotisnya (lupa nama produknya). nyesek banget ngeliatnya. emang gak punya ortu cewe, emang gak punya sodara cewe, emang gak punya anak cewe. rasa kopi gak segitunya kale. ampe muter2 tuh aurat diumbar.
    sinetron mah gak usah ditonton, mending matiin tuh tv mayan kan menghemat listrik.
    untuk yang porno2 ajarin aja anak mengenai sex sejak dini, lapisin juga dengan agama yang kuat.

  4. duh iya nai, aku bete bgt dg acara tv, makanya anak2 aku seleksi tontonanya, kdg suse juga, mrk gak ngerti suka nonton yg aneh2 . kdg ngotot dulu sm mrk.

    mungkin paling utama menanamkan akhlak anak ya nai

  5. @Ni Meiy : anak-anak itu..mereka glued to the tube Ni, susah mengalihkannya…tapi aku punya banyak permainan menarik agar mereka ndak nempelin mata mereka di sana. Tanamkan ahlak..no satu ni

  6. walah..di fs aja banyak tuh foto2 yang berbau pornografi dan pornoaksi..

    -> ughhh (ngelus dada)

  7. dulu, bila ada keluarga yang tertimpa aib (masalah asusila), maka mereka keluarga yang sial.

    sekarang, bila ada keluarga yang selamat dari persoalan aib/asusila, maka mereka keluarga yang sangat sangat beruntung.

    selamat datang di abad asusila!

    -> serem ya, Lae

  8. iya… anakku sudah pande pula mendesah kayak lagu Mulan yang katanya paling sexy itu… Benar2 menjijikkan ya πŸ˜€

    -> ah anak anak…

  9. Hallluuu Mba cantiekkyuuu…

    Benerrrr bgt mba, aku dah sampe mau mun-mun setiap kali liat acara/ tayangan tv lokal kita. makanya mba aku jarang nonton tv, apalagi infotainment ituh.. cuma buat aku tambah mngkel dan nambah dosa akuuu ajahh..

    aku skrg lbh byk nonton film kartun via dvd, lebih bisa mengusir rasa stresss akuuuu…

    solusinya apaa yaaa?????

    ->kalo boleh mendoakan jelek..aku bakal doakan si “ram pun jadi” itu

  10. ini memang jaman kalabendu…
    semua tatanan nilai dan agama dijungkirbalikkan dengan luar biasanya……
    so sakbejo-bejone wong kang lali isih bejo wpng kang eling lan waspodo!!!

    ->sing penting bejo :D…BTW zaman kalabendu itu apa pak?

  11. ayooo orangtua..yuk lebih banyak mendekatkan diri ke anak, supaya mereka gak lebih tertarik ke tv πŸ™‚

    -> iya kadang orang tua gak perduli, merasa aman saja anaknya nonton tv semau mereka.

  12. kangen juga! ternyata pindah ‘rumah’ yah? lebih nyaman πŸ™‚ terimakasih sudah mengundang ke sini πŸ˜€

    -> sering2 mampir yah…aku link deh biar jejek kakinya tertinggal πŸ˜‰

  13. begitulah, pendangkalan akidah sdh makin parah… dan gatekeeper yang paling efektif adalah orang tua, terutama ibu2. persoalan ini sdh mjd apidemi bagi moral anak2 kita kelak… sgt memperihatinkan ya, nai…

    -> Apa kabar Om? lama banget gak nongol nih…iya prihatin banget, anak kita terkondisikan untuk dewasa sebelum waktunya

  14. begitulah, pendangkalan akidah sdh makin parah… dan gatekeeper yang paling efektif adalah orang tua, terutama ibu2. persoalan ini sdh mjd apidemi bagi moral anak2 kita kelak… sgt memperihatinkan…

  15. begitulah tante kira- kira jaman sekarang….!!!! o ya tante, malem ahad kemaren aku ketemu ma cah andong. mana mereka gak ada yang kenal ma aku lagi, jadi malu..!!!

  16. *jadi ikutan kesel*
    kadang aku heran aja ngeliat buah pikiran pemerintah, padahal kan mereka itu juga bukan org2 kemaren sore, tapi kok ya pikirannya itu lebih banyak berkutat di ‘kulit’. Mereka lebih konsen mikirin suatu problem dan berusaha mencari penyelesaian yang ‘kelihatan’, jarang sekali suatu masalah dikaji dr intinya. Seperti soal porno2an itu, aku sih setuju juga klo diadakan pemblokiran situs porno (asal ini nggak cuma sakgebyaran), tapi kan lebih bagus klo dibarengi dg pengawasa ketat di industri multimedia yg lain, ya spt iklan, sinetron dll itu. Soalnya, nggak lucu kan klo situs pornonya diblokir tapi porno2an masih bisa didapat di mana saja dlm bentuk yg lain. Klo perlu dibuat sekalian UU ttg kode etik periklanan, industri hiburan umum dll.
    *lho, malah ikutan curhat* πŸ˜€

  17. semoga rencana besar pak menteri Iy bisa menjawab kegundahan kita tentang masalah yang satu ini..
    salam,.

  18. beberapa hari lalu, artikel ini dimuat di suaramerdeka.com kalo gak salah liat. saya cuma sekilas baca judul dan penulisnya, je … kalo di edisi cetak, saya malah gak tau, dimuat atau nggak … hehehehe

  19. berkaitan dengan maraknya pemblokiran, saya geramnya kok tayangan2 nggak mutu *nglirik shitnetrong abg nggak jelas* itu nggak ikut keblokir! padahal banyak diantaranya udah nggak layak tonton, apalagi utk kongsumsi semuwa umur!

    ada shitnetrong abg yg dulu pernah sekilas saya liyat diperankan oleh artis seumuran sd klas 6 atau smp, nyritain kehidupan anak2 smp, isinya cuma rebutan pacaaaaaar aja, itu sama aja ngajarin anak2 kita bahwa anak sekolah tuh kehidupannya ya githu2 aja, nggak ada diajarin disitu blajar, praktikum, penelitiyan, group diskasyen, dlsbg… kan kaco tuh! malahan disitu ada adegan ciuman pulak, yah mesti itu efek kamera aja *kayak di AAC* tapi kan teuteub itu dikongsumsi dan bisa jadi bakal ditiru sama audiens-nya, ya para abg itu!

  20. bnr mbak,saya jg khawatir bgt dgn prkmbangan mental dan akhlak generasi muda sekarang.murid2 saya di sd jg sdh sangat terpengaruh dgn tayangan t.v yg sbnrny tdk cocok untk mereka.btw,mksh atas komentarnya d blog saya mbak,:-)

  21. seharusnya TVe, sebagai TV pendidikan untuk Indonesia mampu menyajikan program acara pendidikan yang dikemas secara lebih menarik dan kreatif agar dapat menarik minat siswa dalam belajar dengan menggunakan media Televisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s