Menikmati Keindahan Bukittinggi Dalam Jenak


               Splendid suns

Laiknya keriangan anak kecil mendapatkan permainan baru, dendang riang di dalam hati saya lantunkan sepanjang perjalanan menuju Bukittinggi. Tak sekejappun mata terpejam. Membelalak sambi berecak kagum tiada henti menyaksikan pemandangan yang sebelumnya belum pernah tertangkap kornea mata.

Menyusuri kelok jalan menanjak, menurun, merasakan angin masuk lewat kaca jendela yang sengaja dibuka menampar wajah hinga kebas. Hamparan kebun teh, Danau Ateh, Danau Bawah, Danau Singkarak, Situs bersejarah Batu Batikam, dan Batu Angkek-Angkek, mempunyai cerita tersendiri di hati saya. Kepak sayap mungil kupu-kupu di bebatuan air terjun itu, membuat saya iri ; mengapa tak bisa lebih lama di sini? Waktu seolah melaju dalam kecepatan penuh.

Malam hampir merapat, ketika kami memarkir kendaraan di sebuah hotel dekat Jam Gadang, check in dan menuju rumah makan yang menyajikan menu berkolesterol tinggi. Secangkir kopi pekat dengan sedikit gula, tawa dan canda di sesela lelah melangkapkan menu santap malam kami kala itu.

Hujan riwis-riwis baru saja berhenti, Malam semakin tingi dan dingin menggelitik tulang. Kami berjalan berjingkat, menghindari genangan air yang tak urung membasahi ujung celana panjang kami.

                      Jamgadang

Bukittinggi masih ramai, belum ada tanda-tanda kota ini akan tidur. Jam gadang yang selama ini hanya saya lihat di dalam almanak yang tergantung di wartel pojok, dekat warung mbok Jilah…serasa bermimpi, ketika saya mendapati diri berada di bawah kokohnya, berbaur dengan arus mudamudi yang memadu janji (mungkin ?), bersama pendar mercuri berwarna jingga.

Ketinggian tempat dan udara yang jenuh memicu kabut untuk datang, lalu menjadi tabir, semacam tirai yang menyembunyikan beberapa kenampakan. Penjual kacang rebus, jagung bakar, dan pengamen adalah pemandangan yang akrab dalam keramaian malam. Tidak hanya di Bukittinggi, mungkin di tempat lainpun begitu-tawaran untuk berdiam lebih lama mencekat langkah agar tak bergegas kebali ke hotel untuk menjemput mimpi yang tercecer sejak siang.

                   Museum

Pagi hari di Bukittinggi adalah pagi hari yang basah, meskipun terang mulai menyapa. Senyum ramah pejalan kaki menyapa saya, mengajak berlari kecil di rerumputan basah tanpa alas kaki. Mamak-mamak penjual kopi (demikian mungkin memanggilnya), dan etek yang menjual beragam mainan di areal Landmark kota Bukittinggi ini seolah memaksa saya untuk berhenti, dan mampir, duduk bersama bapak tua pengemudi bendi.

“Kopi ciek, Mak”, pinta saya singkat,  seadanya…karena takut berbicara dalam bahasa Minang lebih banyak. Tak banyak kosakata yang saya simpan dalam ingatan saya, maka saya lebih banyak diam, menikmati ruap kopi yang harum dalam romantisme pagi di kota yang baru sekali menjejakkan kaki. 

                  Ngarai Sianok

Keindahan Ngarai Sianok, objek wisata kebanggaan Kota Bukittinggi ini ditetapkan sebagai best tourism object (objek wisata terbaik) pada Padang Tourism Award (PTA) 2007, juga kokohnya Benteng Fort de Kock, Megahnya Museum Rumah Adat Baanjuang, Kebun Binatang, serta Pasar Ateh adalah akhir perjalanan saya di kota Parijs van Sumatera ini. 

Satu prasasti telah diukir, bersamaan kabut yang menguap, karena matahari telah tinggi. Kembali kami melalui  jalanan berkelok indah, melewati bukit yang dipenuhi bunga…menuju bandara Minangkabau ; pulang…

Tak dapat saya sembunyikan kelopak mata yang sarat air mata.  Jabat tangan dan lambaian tangan perpisahan, sebuah janji menggema di hati…saya akan datang lagi, pasti!!!

Lamat-lamat lagu Yogyakarta tertangkap telinga, dalam ruang tunggu bandara yang disesaki orangorang bergegas yang hendak pulang (mungkin ?). (Nai)

 

*)Terima kasih untuk Bunda Disya, DaMax, Cici, Devi, dan Uncu…bersama kalian perjalanan menjadi sangat indah, dan untuk Uncu…Uncu memang layak dapat bintang… .

Advertisements

22 thoughts on “Menikmati Keindahan Bukittinggi Dalam Jenak

  1. wahhhh..keren bgt yah padang..aku yang ber istri orang padang aja belom pernah kesana..diajain mertua gak pernah ada waktu…ihik..ihik..beliau sudah meninggal..semakin malas kesana

  2. aih … indah banget ya kampung kelahiran apakku ini . melihat tulisan ini jadi semakin kepengen melihat kampung bapak saya di padang pariaman .
    terima kasih ya sudah sering silaturahmi di blog saya

  3. kapan yah saya kesana??
    i hope one day i’m coming to the Bukit Tiinggi…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s