Ketepeng Tahun Lalu


         Ketepeng

“Besok kita akan menanam pohon ini, di halaman rumah ya nduk…”

Aku menggeleng, dan lantang mengatakan

“Tidak…! pohon ketepeng berulat”

Ulat itu membuatku bergidik, geli…bercampur takut.

“Aku tak suka pohon ketepeng…titik!” Daunnya akan berguguran di musim kemarau yang sewaktu-waktu datang, dan ulat berpesta pora dikala hijau daundaun muda bermunculan.

Tapi, itu dulu..kemarau tahun ini telah merubah ketidaksukaanku pada pohon ketepeng yang tidak bersalah. Dedaunan kering yang berwarna jingga itu, ternyata indah…

Keberpulanganmu setahun lalu…sungguh menyisakan beling di hati dan persahabatan kita…pak, tak lantas begitu saja terkubur, seperti jasadmu yang kini dimakan renik.

Di bawah rindang pohon ketepeng yang seperti payung, katamu itu….aku duduk. Satu dua daunnya menghias lapangan parkir seluas hampir satu hekta are ini. Aku hanyut dalam lamunan, tebang anganku jauh ke belakang. Ratusan kupu-kupu menari…mengepakkan sayap mungil warna warni, bukti purnanya metamorfosa.

Ulat yang dulu menjadi alasanku untuk membenci pohon ketepeng membuatku malu…; tak seharusnya aku membenci sesuatu yang tak pernah terduga menjadi apa.

Setahun sudah kau pergi, Pak…tapi ingatanku akan inginmu, harap, dan setiap perkataanmu…masih melekat. Bahkan sesekali aku masih mendengar suaramu yang memanggilku..membahana di setiap sendiriku. Damailah kau di sisi-Nya…Amien.

 

*) teruntuk Bapak mertua…meski kita tak lagi dapat tertawa bersama,menertawakan layang2ku yang putus karena diadu dengan layang2mu yang benangnya kau buat sendiri…namun aku cukup puas, tertawa dalam hati. Aku akan menanam pohon ketepeng itu, di halaman belakang rumah, nanti pak…jenguklah sesekali.

Advertisements

22 thoughts on “Ketepeng Tahun Lalu

  1. owalah mbak, aku baru tau klo itu namanya pohon ketepeng, aku justru suka banget sama bentuk pohon itu, rasanya damai klo bisa berlama2 di bawahnya (tapi aku nggak tau klo pohon itu banyak ulatnya, hiii)

    btw, smoga Bapak sudah mendapat tempat terbaik di alam seberang ya mbak…

  2. Hai Jeng……..
    Iya nih, lagi suiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiibuk banget ama kerjaan, sampe gak bisa melototin monitor, otak padahal udah buntu hehehe bosen kerja mulu 😛
    Jeng, Insya Allah, akhir minggu depan Foens ke YK, tapi sendirian, tar deh tak suruh telp2, biar da waktu buat ketemuan…
    dia seminggu kale di YK….

    Jeng, jangan sedih ya ttg Bapak, yahhhh, walau rindu masih ada, tapi jangan sampai senyum manismu hilang
    Doa untuk Bapak, semoga Beliau selalu tersenyum buatmu….

  3. postinganmu apa ya? keren? ah gak tepat, pokoknya hebatlah, berasa bgt nai.

    moga bapakmu damai di sana ya. jadi inget juga ma mertua sendiri di aceh, aku juga dekat dengan bapak mertua…

  4. wooo keren …

    kalo aku kemaren nemu kaset rekaman yang jadul banget
    isinya papah ku nyanyi dan maen gitar, yesterdaynya beatles
    trus ngajarin aku nyanyi kelinciku .. kelinciku..
    sayang aku cuma bisa ngikutin belakangnya.

    itu umur 2tahun, 6 bulan berikutnya papah pergi …

    tapi kalo denger kaset itu jd merinding skrng 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s