Padang nan eksotis itu


Pantai

Sejak mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, terik matahari dengan gegap gempita menyambut kedatangan saya. Dan karena Padang adalah kota pantai, maka tak heran bila wangi angin laut menggelitik ingin saya untuk segera bercanda dengan ombaknya.

Ketika Damri yang mengantar saya ini berhenti, saya langsung disambut oleh keriuhan Pasar raya Padang yang menciptakan romantisme tersendiri bagi saya. Sopir angkot yang tak henti menekan klakson; memanggil penumpangnya, penjual obat, tukang sol sepatu, pedagang asongan, dan tukang ojek melengkapkannya.

Saya tidak sedang berada dalam arus orang-orang yang bergegas. Ritme bergerak sangat lamban. Dalam satu siang, saya bisa menikmati semangkuk soto setelah sebelumnya menyempatkan diri menikmati secangkir kopi di lobi hotel, berjalan-jalan di Kampung Cina yang berada di sepanjang Jl. Pondok dan Jl. Niaga, dekat Muaro, sebuah kawasan yang belakangan saya tahu direncanakan akan menjadi Padang Bay City (merupakan rencana proyek kawasan terpadu wisata, perdagangan, dan permukiman mewah (apartemen) yang dibangun di area seluas 33 hektare hasil reklamasi Pantai Padang) itu.

Tak saya hiraukan matahari yang mulai memanggang kulit saya yang tanpa sunblock. Sambil terus berdecak kagum akan keindahan pemandangan kota ini, saya menyusur bangunan tua menjulang kokoh meski tak lagi terawat.

Other

Oh ya, pemandangan di sini akan tampak indah bila malam tiba. Secangkir skotang (di Jogja sekoteng), pisang bakar juga jagung bakar akan sangat nikmat bila dinikmati bersama sepoi angin laut dari atas Jembatan Siti Nurbaya. Jembatan yang tak begitu panjang ini ramai dikunjungi muda-mudi. Dari sini kita bisa memandang perahu-perahu yang tertambat di sepanjang sungai Batang Arau. Bisa dibayangkan, betapa romantisnya malam di kota ini.

Siti nurbaya

Senja di kota inipun tak kalah cantik. Di setiap pantai yang terhampar, kita bisa menikmati keindahan sunset. Pantai Padang, yang terletak tak jauh dari pusat kota, menjadi pilihan. Selain dekat, toh saya juga masih lumayan lelah, karena sejak datang belum mengistirahatkan tubuh. Lokasi pantai Padang ini memanjang dari kawasan Muaro hingga Purus (orang Minang menyebutnya Puruih).

Sunset6

Bila di Jogja, saya harus menempuh jarak 28 KM untuk menikmati pemandangan di pantai selatan, di Padang dengan hanya berjalan kaki saja, saya sudah bisa menikmati dentum ombak, wangi angin laut, pengamen dengan lagu dangdutnya, ah…cukuplah ini mendamaikan hati saya.

Kalau saja kawasan ini ditata dan dijadikan kawasan pedestrian yang dimulai dari pintu muara sampai ke halaman Taman Budaya, pastilah akan menambah daya tarik wisatawan yang berkunjung ke kota ini. Pasti banyak hal positif dan kreatif bisa berkembang dengan sendirinya. Terbayang para turis bisa asyik mengagumi tari-tarian dan seni pertunjukan lainnya di tepi pantai ini.

Tak jauh dari pantai Padang, sebuah bukit kecil menyembul diantara kerumunan air laut yang kerap pasang. Bukit ini disebut Gunung Padang. Meski tak sempat ke sana, namun saya tahu di sana terdapat bunker tua peninggalan zaman Belanda, dan di puncak bukit terdapat Taman Siti Nurbaya. Sayangnya waktu tak cukup banyak, dan berjalan sendirian di kota yang betul betul asing ini membuat saya keder ; takut tidak menemukan jalan pulang .

Foto2 bisa dilihat di sini

*)bersambung

Advertisements

22 thoughts on “Padang nan eksotis itu

  1. suatu saat aku bermimpi berkunjung ke negeri yg eksotis ini… amiin.

    *lha terus otak-atiknya rahendz mana bu… ohya, rumahku belum dilink yak… hwaaaa…*

  2. yo, mbak jangan cuma cerita donk… bawain oleh-oleh kek.

    hehehe… btw masiy sibuk apaan niy?

    oh iya, jadi niy pindah ke wordpress nya. Resminya gimana…

    kok yang mentaree di redirect siy mbak…

  3. @Bul: pancennnnnn bunder. makane ban bun ban bun πŸ˜›
    @Isma: kan masih renovasi makanya belom ke link smua
    @Rahendz: mentaree akan hidup kembali, setelah templatenya jadi..thanks yah hendz πŸ™‚

  4. wih jadi inget dulu suka pacaran disana sama bekas pacar yg di rumah hehehe..

    ke kampungku gak bilang2 yo nai. jadi kangen rumahku. ortu sih lagi di Jkt.

    blog baru ya nai, keren!

  5. Wow … asyiik, dijamin deh kalau di WP Comunity segalanya lebih mudah. Yang pasti, aku bisa komentar puas-puas. Aku nikmati aja dulu tur Padangnya. Ngigatkan kampung halaman nich.

    Mau bikin buku? Aku buatan draft dasar, lalu tertib nulis satu trulisan sekali dua hari sampai selesai? Kalau mau segera dilaksanakan. Tidak ada tawar-menawar he he

  6. salah satu kota di Indonesia yg ingin saya kunjungi adalah Padang, bun..

    Padang memang mempesona!

    oiya, ndak mampir ke Kelok 44? lalu ada semacam air terjun di atas bukt itu? Eh itu di Bukittiinggi ya?

    ah, kota dekat pantai.. begitu mengerikan bila tsunami menerpa.. πŸ˜€

  7. @ Nisa:

    kameranya JELEK BANGETT!! kalo megang pasti pengen MISUH!!!

    Canon EOS 400D kan Bun??

    JELEK!!!!!!

    *nggaruk-nggaruk tembok*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s