Menjadi Penulis Sekaligus Editor?



Walah walah…kemaruk sekali kedengarannya ya? Tapi ini nggak ada kaitannya dengan double job, ini adalah persoalan saya pribadi, dan mungkin teman teman lain juga mengalami kesulitan yang sama. Kesulitan saya adalah menulis, dan memiliki blog adalah sarana pemenuhan hasrat saya yang ingin selalu menulis tapi selalu dihantui perasaan tidak percaya diri.

Buat saya menulis tidak semudah bicara. Kalau berbicara saya bisa sagat ekspresif, kata kata mengalir enak saja, tanpa saya harus buru-buru mencari tombol backspace di lidah saya. Sangat berbeda ketika saya menulis. Saya bisa merangkap dua pekerjaan sekaligus, menjadi penulis juga editornya. Saya sibuk mencari tombol backspace ketika kalimat saya belum sempurna benar. Rasa-rasanya ada saja yang tidak pas, pemilihan kata, dan bahasa yang saya pakai kok wagu kedengarannya? Mengapa menulis tak seenak bicara? Mengapa begini? Mengapa begitu?

Teman-teman tau? bahkan untuk menuliskan sebuah surat elektronikpun saya bisa berlama-lama di depan monitor. Sebetulnya banyak yang ingin saya tulis,yang ingin saya ceritakan. tapi kata-kata berlompatan ke sana kemari, dan saya kesulitan menangkapnya untuk kemudian menatanya menjadi kalimat yang enak dibaca.

Seorang teman yang memberi saya advice ;
“tulis saja tulis, jangan takut salah, jangan takut tidak dibaca”…

Itu dia permasalahannya, ketika menulis hanya ingin dibaca orang, dapat dipastikan kemudian menjadi beban. Bagaimana jika tulisan ini jelek?, ah jangan-jangan tidak ada yang membaca tulisan saya ini, atau bagaimana dengan kaidah penulisan yang benar? Ahhh ketidak percayaan diri ini akhirnya membelenggu saja.

Saya lumayan banyak membaca. Seharusnya dari sana saya bisa menemukan banyak pola, kira kira akan bagaimana tulisan saya?, akan seperti apa?, akan seperti tulisan siapa?.

Banyak penulis yang karyanya saya puja-puja, bahkan saya mencoba meniru gaya penulisannya. Sekali dua kali okelah, tapi kemudian saya kok tidak menjadi diri saya sendiri? mengapa saya tidak mencobanya?

Inilah yang kemudian saya sampaikan dengan bapak yang blognya akhir-akhir ini saya kunjungi ini.

Sepertinya ketidakpercayaan bersarang di diri saya, Pak. Sebenarnya, diri (kita) mampu saja menulis. Tapi, sepertinya sering pasang surut melanda. Tidak jarang, dalam menulis, menjadi penulis sekaligus editornya. Tepatnya, belum jadi kalimat tangan sibuk menekan tombol backspace, atau mem-block semuanya dan … mengakhiri dengan menekan delete.

Begitu kira-kira yang saya sampaikan, dan sungguh saya tidak menyangka, dalam waktu waktu yang tidak lama pertanyaan saya terjawab juga di sini. Dengan bahasa yang memotivasi dan gamblang beliau menjawab pertanyaan singkat saya. Terima kasih Pak, semoga ilmu yang Bapak tularkan akan menjadi kebaikan di dunia dan akhirat. Amien….

Advertisements

10 thoughts on “Menjadi Penulis Sekaligus Editor?

  1. Kebalikan deh, aku kalo nulis bisa sak kandang kopyah, tapi kalo disuruh lisan malah susah!

    Iya, lama nih gak saling kontak jeng! Jogja kabare koyo ngopo?

  2. kata mas mahbub, nulis dan ngedit itu mang seiring sejalan. trus patokan sederhanya, “kita paham nggak, sama maksud tulisan yg kita buat.”
    yah… kalo gajinya dobel gitu aku juga mau mas mata hehehe….

  3. wah.. aku kalau di depan unai malah gak bisa bicara. tapi kalau menulis sambil membayangkan unai, lepaslah semua kata-kata, berbuaran di angkasa rasa nan gagah perkasa..

  4. aku lebih gampang nulis daripada ngomong nai, tapi kalo mao nulis serius jadi sering juga bertanya-tnaya tulisanku bermutu nggak ya? akire ya cuek aja, nulis di blog sebebasnya, mo mutu ato nggak biarin deh hehe.

    pak ersis baik yah, aku juga ingin belajar dari tulisan beliau neh, tapi ya kendalanya waktu blogging n listrik masih ‘mampus’mulu. 😦

  5. Sama dg Mbak Tiwi dan Uni Meiy, Da lebih gampang menulis pada mengucapkan. Kadang ketika shooting srg blepotan dan terpaksa cut.
    Btw, tetaplah menulis, soal dibaca atau tidak, itu urusan belakangan. Seperti kata “sebuah SMS” : scripta manent verba volan” atau dalam bahasa mendiang Pram, “menulislah, bila tak ingin hilang dari pusaran dunia”.

    Semangat! Dan teruslah menulis πŸ™‚

  6. Saya termasuk penulis perfeksionis. Berjuang supaya setiap tulisan bebas cela, baik yang salah tulis maupun salah pikir. Saya tidak terlalu suka orang yang ceroboh dalam menulis. Apalagi untuk urusan seremeh salah ketik hehehe. Yeah, tiap orang beda-beda ya. Saya sih punya tips sederhana saja: baca ulang minimal 3 kali tulisan yang kita buat. Kebanyakan kita malas bahkan untuk sekadar membaca ulang tulisan sendiri.

  7. Kok sama kita Nai.

    Aku kadang suka stuck pdhal dah banyak terkumpul bahannya diotak, tp numpahinnya itu kadang susah. LamaΒ² aku pake slogan “EGP” klo mo nulis.

  8. @Tiwi :hihihi kandang kopyah bahasa mana tuh? walikane aku sing tukang nggambleh yo mbak πŸ˜‰

    @Mata : iya Ta, tapi yang bayar siapa? hehe

    @Isma : aku harusnya berguru padamu yah buk?

    @Sujud : weleh..yang bener?

    @NiMeiy: Kita belajar bareng lah πŸ™‚

    @Damax: Wedew uda shooting? shooting apa da? lah no wonder uda pinter nulis, emang kerjanya nulis, kalo aku kan kerjanya ngomong πŸ˜›

    @Windede: begitu ya pak, tengkyuh

    @Vie : Iyya kita EGP aja yah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s