What a Month


Bulan Juli ini saya hampir semaput diHAJAR kerjaan. Mana bisa ngintip blog teman-teman, wong ceting aja gak bisa… Yang ada kerja !!! kerja !!! dan kerja !!!. Sampai sampai nggak bisa tidur, insomnia mikirin kerjaan yang antri di besok harinya. Mulai persiapan seminar yang berbarengan dengan launching program doktor di kantorku. Penyusunanan Renstra, sampai dengan anggaran program doktor selama setahun. Fyuh..benar-benar sesak nafas saya dibuatnya. Bagaimana tidak? Program doktor ini hanya ada saya sebagai kulinya. Kuli serabutan pulak. Karena ini program baru belum ada staff yang diperbantukan di sini. Hanya ada Direktur, Wakilnya, dan saya sebagai pelengkap penderita.

Selama sebulan ini, praktis banyak banget yang pingin bisa saya ceritain, tentang ada teman alam gaib yang menemani saya *Hiiiii….., tidur malam yang sedikit, dan kejadian memalukan Jum’at lalu.

Mulai dari yang serem dulu yah.
Karena kerjaan tidak pernah saya bawa pulang, saya memilih meyelesaikannya di kantor, meski hari mulai gelap. Hanya lima lantai saja gedung rektorat ini, dengan satpam yang berjaga di depan lobi lantai dasar. Sementara tidak ada penjagaan di setiap lantainya. Gedung ini menghadap ke timur, berbentuk L dengan gaya arsitektur yang bagus menurut saya. Pencahaayaan cukup, berlebih malah…apalagi di ruangan saya di lantai 3 ini, saya bisa langsung memandang ke hijaunya sawah di depan meja saya. Hanya kaca yang menjadi pembatas ruang dengan koridor yang menghubungkan dengan ruang lain.

Seharusnya saya sadar, kalau hari mulai gelap. Tapi mungkin kesadaran saya sedang di titik paling rendah, linglung!!!. Biasanya saya paling takut kalau matahari mulai redup. Jujur saja, saya paling takut gelap. Kalau ada kuliah Pascasarjana di lantai 4, saya nggak terlalu takut, karena saya masih bisa mendengar suara mereka dari kejauhan. Nggak sepi, sepi=sendiri=takut=ngacirrrr!!! Apalagi sebelumnya saya mendengar suara2 aneh di balik tembok (Ruang MM), selain itu juga saya lihat kelebat bayang yang melintas di kaca jendela.

Dengan tergopoh2 saya kunci ruangan saya, sepiiiii…mendadak bulu kuduk saya meremang. Mengunci ruanganpun saya gemetaran, kunci yang banyak sekali di tangan saya, saya masukkan satu per satu, dan kunci terakhirlah yang cocok. Saya berlari ke arah lift, karena tangga hanya diterangi lampu remang, tidak seperti di lit yng full kaca dan terang benderang. Tapi….oalahhhh, lifnya macet. Mana kebelet pipis pula, mau lari ke toilet cewek di ujung koridor, sementara tangga di sana pasti lebih gelap daripada tangga yang dekat dengan pintu keluar ruangan saya. Akhirnya dengan ketakutan, kebelet pipis, dan gemetaran saya berlari menuruni anak tangga yang saya loncati dua dua.

Kebayang kan, emak gajah berlari ??? Kalau saja ada orang lain, mungkin mereka akan panik dikira gempa. Turun ke lantai dua…ah masih lumayan agak terang, karena sama dengan lantai 3, lantai 2 relatif mendapatkan cahaya lebih banyak dibandingkan dengan lantai lain. Berlari lagi ke lantai satu, ruangan sudah terkunci semuanya, di kanan tangga ruang rektor, melingkar diikuti Wakil Rektor dan Ketua Yayasan. Jleb…gelap sekali. Sampai ke lantai dasar saya berlari, dan berhenti persis di depan mesin absen. Satpam tergopoh2 menghampiri saya…“Ada apa mbak?”.

*bersambung….
(hari mulai gelap, saya nggak mau terbirit2 lagi)

Advertisements

15 thoughts on “What a Month

  1. sepertinya memang banyak kerjaan nih,… pantas saja ngga pernah kelihatan yun…

    gimana tutorialnya ? apa sudah lancar…. diposting donk hasilnya… ckckckckckckck….

    btw semangat ya yun…

  2. waduh bun…
    menyeramkan.

    *ngematke postingan*
    loh, amsi bersambung ternyata?
    jgn yg serem2 yah bun :p

    eh tp cuman mimpi kan? ;))

  3. wah mba kebayang seremnya tuch dikantor mba…secara eikeh dl kan pernah kuliah disana…mendingan pulangnya pas hari masih terang dech takutnya kenapa2 mana luas banget kan tuch kampus….kok aku malah nakut2i ya…habis dulu waktu kuliah sering banget denger cerita2 serem di kampus

  4. halah karo koyo ngono we wedi..

    jirih..

    *lirak-lirik kanan-kiri.. opo kui putih-putih? kabuuurrr*

  5. Haha, emak gajah berlari? ada-ada aja si unai ini…..

    Pyuuuh saya juga lagi sibuk, banyak tugas luar kotanya pula!

    Tetap semangat! meski sebagai “pelengkap penderita”

  6. kan emang di lantai 3 itu ada yang penghuninya dech…
    jadi inget dulu lift disitu pernah idup dan naik turun sendiri, padahal waktu itu dah malem…
    ati ati mba ada yang ngelirik lagi…

  7. wakakaa..emak gajah, emaknya ndah dong :p hehee… mbak, emak gajah ga boleh takut ma hantu, ada juga hantu yang kudunya takut ma gajah..hihihi

  8. hihi ayo ati2 makanya jgn suka lembur sendirian…hehe bukan nakuti2 lo ya!
    mending lembur di rumah ma ayah alif :p
    gampang ko unai di rumahku juga ada, kalau dia senyum senyumi aja, kalo melotot, pelototi juga, nah gampang kan (teoriiii)

  9. idemmmm!!! pekerjaan menghajarku sampe pulang malem tiap hari! huhuhu… lembur ga slamanya enak, eh, tapi pas nerima gaji trus liat angka2nya langsung senyum deh. hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s