ARUM DALU


Jangan tanyakan tentang presisi nada, denting sumbang dan akusisinya padaku saat ini. Karena saat ini aku hanya ingin duduk diam menikmati malam berteman seikat arum dalu yang menawarkan damai serta menjajakan rasa yang sendu dan melankolik sambil kontemplasi, entah hasil dari kekalahankah ? atau sebentuk tanya yang masih tersemat erat.

Di sini, aku menikmati keserasia alam. Aku memulai monolog hati persis ketika malam jatuh dan sinar sepotong bulan berwarna tembaga menyirami pelataran. Aku malam ini, berbincang… dengan tanpa mengendarai egositas dan tanpa mengenakan topeng keangkuhan. Dendam kuendapkan, berharap ada damai menelusup lembut di kerontang jiwa tanpa gerimis.

Angkasa kelam dan sepi membisu. Bahasanya tanpa suara. Tapi kelap kelip bintang adalah kesaksian yang banyak bicara akan apa yang terjadi di lengkung langit. Beribu ribu tanda tanya dan pengandaian akan kemungkinan yang akan terjadi, kini menghujani pikiran jenuh di kepalaku dan angin hanya meniup lembut dan berlalu tanpa meninggalkan secuil jawab atas pertanyaanku.

Malam ini, arum dalu menjadi perlambang keingin sunyianku. Keyakinan akan membaiknya keadaan ini dari semula semakin menipis, terkikis oleh kelelahan bathin. Akupun harus menyiram amarah yang menggelegak dengan dinginnya salju kedamaian, meski bukan dari pegunungan Alpen. Kukuatkan hati untuk mencabut satu-satu dari jutaan jarum pesismisme yang menancap di kepalaku.

Ini pengalaman hidup. Guru bagi liku perjalanan terjal.

Bagiku guru adalah kelap kelip kunang-kunang di ketika jatuh gerimis di senja hari, atau lintasan buih yang hilang-tampak di bebatuan, atau curahan hujan yang menerpa permukaan telaga yang tenang. Rasa dalam kesadaran sempurna ; inilah guru utama. *)

*) dikutip dari pasase sebuah Novel Ahmad Tohari “Ronggeng Dukuh Paruk”

Advertisements

14 thoughts on “ARUM DALU

  1. Jangan tanyakan tentang presisi nada, denting sumbang dan akusisinya padaku saat ini <--- kalo nanya "mana bebek goreng-ku" boleh ga???

  2. seperti halnya angin gunung.. berhemus kemana ia berkehendak.. maka begitu jugalah jiwa yang mencari ruang. meski sederhana namun mutlak memberikan kenyamanan. layaknya kelokan gunung meski sudah terlihat, tetap ada serpihan karang tuk menjadi kelokan baru. bersiaplah selalu, karena kita tak pernah tahu, saudariku πŸ™‚
    “accept the unexpected” even my self.. still trying so hard to get understand with that words πŸ™‚

  3. ono po to mak? bar bodo barang kok kanton susah? mendingan katon bagaskara wae πŸ˜€

    mak aku neng omahmu kok ra mbok suguhi, opo jajane wis entek? πŸ˜›

  4. wah, jadi pengin membaca kembali novel itu,udah ke Jakarta aja n muter2 sama aku, pasti nanti sedihnya bakal ilang.
    yukkk

  5. ## Kukuatkan hati untuk mencabut satu-satu dari jutaan jarum pesismisme yang menancap di kepalaku.

    * Udah berhasil kecabut berapa, jarumnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s