UNTUK KAMU


Tertulis untuk : Sahabat yang pergi

Begitu berat rasa bersalah yang harus aku tanggungkan karenamu

Aku banyak belajar darimu, mulai dari bagaimana mengendalikan emosi agar tidak merajai hati, me-manage-nya, sampai dengan menerima setiap kejadian yang tidak sesuai dengan keinginan dengan kelapangan hati. Untuk itu aku berhutang padamu.

Kamu, yang untuk membunuh seekor semut atau menginjak rumput-pun kamu tak tega, dengan alasan “mereka juga butuh hidup seperti kita”. Aihhh…alangkah mulianya segumpal daging yang bernama hati di dalam dadamu itu sahabat.

Aku memang terpengaruh dengan keseluruhan hasil analisamu yang tajam. Keenceran otak dan mungkin keluhuran budimu. Aku menikmati setiap olahan katamu dan aku merasa itu penting untuk aku baca. Bukan maksudku untuk me-rewind kembali kejadian yang telah lewat, namun sungguh sahabat, ketika kau memutuskan untuk pergi dengan berentet alasan, aku harus menerimanya dengan hati yang compang camping. Seperti tak rela, tapi kau telah memutuskannya dan akulah penyebab pergimu itu. Akupun mulai menerapkan ilmu yang kau tularkan padaku “IKHLAS”.

Ketika aku mencoba menata hatiku yang berserpih, mencoba mengobati rasa bersalahku atas pergimu dan ketika aku dengan sekuatku mencoba memaafkan diriku sendiri atas kriminalitas yang kau anggapkan padaku, ternyata…kau tak sunguh sungguh menjauh. Kau hanya menciutkan hatiku saja. Melimpahkan bulat bulat rasa bersalah itu padaku, dan aku…seperti membawa bongkahan batu api ke sana kemari. Membuat aku merasa bagai Raksasa Betara Kala yang mempu memporak porandakan apa yang selama ini tersemat bersama keindahanmu. Aku belum mampu memafkan diriku sendiri sementara kamu melenggang begitu saja menertawakan kebodohanku. Aku kelelahan mengasihani diriku sendiri, untuk itulah aku seolah menghilang, tenggelam atau tepatnya menenggelamkan diri dalam kubangan kesenangan semu.

Sekarang, aku yang pergi, meninggalkan lakon munafik yang tanpa sengaja dan tanpa ingin aku ciptakan. Syukurku karena bisa mengenalmu seseorang yang mampu mengajarkanku banyak hal.

Ps: Mungkin kau tak akan pernah membaca tulisan ini, tapi setidaknya beban di dadaku menguap perlahan dan aku berharap kelak kan hilang.

Nai/ 31 Agustus 2006

Advertisements

17 thoughts on “UNTUK KAMU

  1. Innalillahi wa innaillaihi rojiun…

    “hanya kepadaMu dia kembali”
    Ikhlaskan dia pergi, lupakan luka yang pernah terperih
    kenang indah yang pernah dibagi

    * S M I L E *

  2. Kenapa harus merasa bersalah karena dirimu tidak merusak apapun?

    Bersyukur karena karenamu, aku belajar betapa kokoh taman rahasia yang dipunya, yang dibangun dari kesukarelaan dan juga kebersamaan.

    Terucap terima kasih untukmu, teman.

  3. Innalillahi wa inna illaihi roji’un
    semoga dia kembali keharibaan Allah dalam keadaan khusnul khotimah. Semoga Allah SWT melapangkan kuburnya dan menempatkannya di tempat terbaik di sisiNya. Dan bagi yang ditinggalkan agar diberi kekuatan iman, ketabahan & keikhlasan oleh Allah SWT, amin Allahumma amin

  4. Mbak Unai, jgn menyalahkan diri sendiri atas sesuatu yg tak kuasa dihadapi…pasti sahabatmu dari jauh mengakui..betapa ia bahagia pernah berbagi denganmu πŸ™‚

  5. yo jenenge urip ki yo ngono kuwi mak. wis ben wae, pokoke dekne ra penekan uwit lak yo wis πŸ˜€

    sing sareh yo mak, urip ki mung mampir ngombe lan mangan lan adus lan ganti klambi lan sa pa nunggalane *lah kok akeh yo* πŸ˜€

    Met wikenan yo mak πŸ˜›

  6. duuh *garuk-garuk kepala, yg emang gatel* bingung juga nih. ini sahabat yg pergi tuh meninggal pa nggak to?
    jadi tuh yg pergi mbak unai pa dia?

    apapun yg terjadi, baik ato buruk, tapi kan hikmah udah ada, udah diambil. jadi… semuanya pasti akan baik-baik saja. kalopun kadang enggak baik, tapi itu biasanya cuma sebentar πŸ™‚ kan?

    komenku layak muat nggak to ini? jangan2 ngga konek barbablas (halah)

  7. “bagaimana mengendalikan emosi agar tidak merajai hati,”

    ==> Ini masuk silabus-nya Sekolah Kepribadian John Robert Power(Rangers) jg gag ya?

    “menginjak rumput-pun kamu tak tega”

    ==> ya kan ada tulisannya Jeng, Dilarang menginjak rumput dan memberi makan satwa!
    hahahaha…

    oups maapkan akyu dg komen2ku 😦 Padahal yg laen pada komen yg serius…

    http://tyka82.blogspot.com/

  8. by the way Jeng, aku ra mudheng ambek cerita-mu kali ini. Sakjane sampeyan ditinggal meninggal or piye toh? ato sekedar memutuskan tali persahabatan saja??

    *berusaha memberi komen serius sambil ngupil* –> teteuppp…

  9. Haallo Unai…bisakah aku menjadi semacam peringan bebanmu. Sekali-sekali jadikan aku tong sampah bebanmu. Orang gila seperti aku masih mampu..lah…menampung segala yang menyesakkan dada-mu..

  10. ‘pergi’ hanyalah istilah untuk menegaskan dimensi ruang. Tidak ada yang benar benar bisa pergi dari kubangan hati sepanjang hayat, nai.

  11. aku ngerti Nai, ngerti…
    susah itu diterima saja dan senang itu diciptakan, ikhlas dan selalu belajar dari orang lain.
    aku juga masih banyak belajar…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s