HAVE AND HAVEN’T



Rasa memiliki adalah sebuah rasa atas kepemilikan kita terhadap apapun kita anggap sebagai milik kita. Sudah seharusnya kita menjaga dengan baik apa yang sudah kita miliki ini dan berucap syukur akan kesempatan yang diberikan untuk sedikit merasakan apa rasanya memiliki. Namun memiliki kadang membuat jiwa menjadi serakah, tak ingin berbagi. Tak rela membiarkan orang lain mengambil secuil dari apa yang kita miliki. Menganggap bahwa apa yang menjadi punya kita adalah mutlak milik kita. Padahal sesungguhnya semua yang hadir dalam hidup ini adalah mutlak bersifat sementara.

Kita terlena dengan kilau gemilau perasaan nyaman akan rasa memiliki. Tanpa menggubris logika yang menjerit jerit mengingatkan. Kita terbuai dengan rasa yang mematikan rasa itu sendiri secara perlahan. Memiliki sama saja tidak memiliki menurutku. Semua yang kita miliki, datang, dan hadir dalam hidup kita akan bermuara juga pada ketiadaan.

Bahwa rasa nyaman dengan apa yang dimiliki dan kesombongan hati untuk tidak ingin berpijak pada bumi kenyatan akan membubungkan jiwa pada suatu titik dimana gaya grafitasi masih mampu menjangkaunya. Dan bila saat itu datang…akan jatuhlah jiwa yang sempat melambung tadi. Hancur berserpih. Tak ada lagi yang mampu merakitnya kembali menjadi sebuah jiwa utuh. Yang ada kemudian hanyalah ketimpangan.

Nai/Silent Sunday 240606

Advertisements

10 thoughts on “HAVE AND HAVEN’T

  1. jadi ingat kata seseorang “Aku tidak selalu bisa memiliki apa yang kusukai, karenanya aku menyukai apa yang kumiliki”. Coba deh, tanyaken apa?

  2. beh kek kaum sufi to mak? ck..ck..ck.. makin dalem aja maknanya…. mbok yao diajari mosting sing kyo ngene, ben aku tambah pinter… ket biyen postinganku mesti rodo2 dodol soale 😀

  3. milikilah dengan cinta. karena cinta adalah memberikan terbaik yang kita bisa. injih mekaten bu???

  4. Uda, hmm iya ya… kadang kicintaan pada apa yang menjadi milik kita menjadi berlebihan, lalu?

    om Siwoer,sing dodol kuwi malahan sing seneng le moco. keep it up

    yaya…sudah setulus hati sepenuh jiwa nih.

    Dipto..injih leres nak

    Uli, aih..smoga beneran wise deh Li

  5. iya bener banget bun… seberharga apapun milik kita itu semua titipan termasuk juga nyawa kita, itu juga titipan. tapi kadang saat titipan itu diminta kembali sama yang punya kita kecewa bukan kepalang.

    pakabarnya bun… lama neh gak sowan kesini, bunda sehat aja kan..? kapan kita ketemuan lagi. sudah kangen neh…. titip cum deh buat Alif… *muah*

  6. bahkan terkadang kita terlalu cepat menganggap apa yang ada genggaman adalah milik kita,
    sedikit terlupa bahwa sebalum lahirpun kita tidak dibekali apa apa kecuali nyawa.

    terkadang kita kesulitan membedakan mana rasa mencintai dan rasa memiliki.
    Pertemuan kedua rasa itu sering mengaktifkan gaya gravitasi yang sejenak seolah mati…

  7. Yuti, thats rite Yut..

    Orion, ya ya kita jadi lupa diri terkadang, menganggap kita sudah memilikinya, padahal sungguh semua adalah pinjaman. Mencintai dan memiliki…
    lebih baik mencintai apa yang sudah dimiliki, daripada berusaha memiliki apa yang kita cintai, btul gak Ri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s