TENTANG MERCUSUAR



Kokoh menjulang sendirian, di tepian pantai mencekam. Diterpa angin badai dihempas ombak membentur didinding kokoh kesepian. Kau hanya berteman camar dan walet yang hilir mudik diatas kepalamu, masuk melalui celah jendela, dan bertengger di tangga menuju puncakmu.

Kau memeberi terang, penunjuk jalan bagi nakhoda yang kehilangan arah. Kompasnya mungkin rusak, atau bahkan tak berfungsi lagi. Kau juga membantu ketika nakhoda hendak menepi, nyaris terbentur cadas untuk kemudian karam. Kau berjasa wahai mercusuar.

Kau penerang bagi jiwa dilanda gelap, penuntun arah bagi hati yang kehilangan kompas. Mulialah kau wahai dinding berlampu yang menjulang tinggi.

Tapi sayang, kau sendiri kegelapan karena terangmu kau bagi. Kau beri untuk pengemudi perahu hati. Kemudian perahupun menepi, menghampiri marcusuar yang tak letih berdiri di tepi. Satu, dua, tiga perahu datang. Ada nakhoda kapal besar, ada nelayan berperahu kecil, bahkan seseorang yang hanya terdampar di tepian pantai di tempat keberadaanmu. Mereka datang, berlindap di kokohmu, dan kau memberi nyamanmu, perlindungan di teduhmu, dari hujan badai yang membasahi mereka. Kau biarkan nakhoda kapal besar, nelayan, serta pengembara yang terdampar itu memanjat ke pucakmu. Merasakan hangat pijar lampumu lebih dekat ketika dingin menyergap. Tapi apa kau tau wahai mercusuar? Mereka letih, terlalu curam dan banyak anak tangga yang harus mereka lewati untuk mencapai puncakmu. Dan ketika sampai di sana…di puncakmu, kau hanya mampu memberi hangatmu, pada salah satu diantara mereka yang telah bersusah payah menggapaimu. Kau abaikan yang lainnya, yang kelelahan hampir mati kehilangan pegangan.

Nai 2006 Silent Sunday

Advertisements

8 thoughts on “TENTANG MERCUSUAR

  1. Ah, betapa mulianya menjadi mercusuar. Menjadi berarti tanpa memikir kepentingan. Dan, betapa beruntungnya dia yang berada dalam lingkupan hangat puncaknya, dimana bisa dipandanginya batas antara udara dan tanah nyata…

  2. aku ingin jadi mercu suarmu, memberi cahaya di balik temaram jiwamu. Gapai aku.. dipuncak kita senandungkan lagu cinta itu…

  3. karena aku gak dong ttg baca tulis puisi…
    aku mau tanya..menara itu dimana bu..????jln2 kesana yuk..????

  4. dulu cici sering loh mbak liat mercu suar, waktu kecil. gak masuk seh, tp lumayan…bisa liat dgn jelas. nama daerahnya bukit lampu, di padang 🙂

  5. Menatap mencusuar yang berdiri menantang
    Sedang kumasih berdiri di tengah lautan
    Hingga tiba saatnya,
    Tempat kumenepi adalah pelabuhan
    Mercusuar biar tetap menjadi penunjuk arah kemana tujuan…

    *Berguru kemana sih bun…:)

  6. Buderfly, mercusuar yang gagah begitu mulianya dia.

    Uda, jadi mercuarku? bolehlah da

    Madamku ciplok, iya nih Uda puitis juga *jitakin yuk plok

    Gee, betulkah?

    *Pepeng, kapan kapan aku ajak ke sana, makanya balik ke jogja lah.

    Cici,mercusuar gak jau dari tempat tinggalku sekarang, makanya cepetan atuh ke sini.

    Mom Lucy, menepilah kemari, jangan terantuk karang, ada mercusuar di tepi.

    Berguru ke Suhu Buder nih heheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s