Luruh Daun



undefined
Matahari perlahan tergelincir.
Menuju ufuk tempatnya seharusnya ia beristirahat.
Menepikan rasa yang semula menggeletar seolah ingin meruntuhkan kekuatan hati untuk berpijak di sini.
Kekuatan kaki tak ada lagi, untuk tetap berdiri ataupun berlari.
Hanya mematung dalam kegamangan hati.
Terbang, terombang ambing terhempas yang angin tak berpihak sedikitpun.
Tak ada hinggapan, tempat berbaring, ranting kering, bidang datar, bahkan sebongkah batupun.
Yang ada hanyalah kehampaan..
sunyi menyayat nyayat…

Tak ada lagi ingin, pun rasa, serta harap yang dulu dengan dengan segala warnanya datang begitu saja,
Seperti mati…sepi…
Denting dawai hati, tak lagi menghasilkan harmoni.
Bersitubruk dengan logika yang membawa letih,
Menamparku hingga membuat terjerembab…
Sakit…

Pengharapan yang sempat memutik, tak mungkin dapat aku dipetik.

Aku…
Luruh bagai daun tertiup garang angin di musim kemarau.

Advertisements

9 thoughts on “Luruh Daun

  1. jalani laju luruhmu
    dengan irama hati penuh Nai
    rasakan bahwa hidup teruslah bertumbuh…
    sampai saatnya kau tahu
    dimana hatimu berlabuh..

    luruhlah luruh jiwa yang tengah lusuh…

  2. Ikuti kemana angin membawamu terbang
    Hingga tiba jualah tempatmu labuhkan keletihan..
    ntah di tanah subur, lumpur, ataupun bebatuan
    tunas baru nanti kan kau tumbuhkembangkan…

  3. setdah… nek wis meh preian wiken, terus postingan romantis, ben tambah disayang karo pak mentareee…. koyone pak mentare kuwi luwih seneng yen masakan enak tinimbang moco postingan sing romantis?! hihihihihihi…. 😛

    met wiken ye mak… salam buwat alip + bapaknya 🙂

    siwoer

  4. Mbak, kenapa setiap puisi Mbak Unai dan Lucy keknya paaasssss banget sama hati…

    Hmm, jadi lemes bacanya…As if you two knows exactly how i feel…

  5. Mbak Unai, saatnya bangkit !!!!

    jgn terlalu menangisi satu kepedihan, biarkan duka pergi dari kerangka hatimu…agar kegembiraan bisa bersarang di sana 🙂

  6. Bud..jiwaku mati saat ini.

    Uda…terima kasih ya da

    Uli..tak ada yang lebih baik dari itu kan Li?

    Mba Lucy.. daun kering ..tak akanmenghasilkan tunas baru. dia luruh tertiup angin..kemudia busuk menjadi humus

    Om siwoer..heheh setdah..

    Susan…mungkin kebetulan aja kali san.

    Sisca..betul ya sis..bangkit dari kubur hihihi

  7. Masih ada hinggapan dan tempat berbaring

    saat luruh hati
    mendera

    Masih ada hinggapan dan tempat berbaring
    yang tidak akan patah

    masih ada Allah
    yang siap menampung
    semua dera kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s