Kepala tak seharusnya menengadah
Di lingkunganmu yang seolah serba mewah
Di duniamu yang seindah batu kristal Berkilauan…
Seolah mengubur hatimu perlahan
Dalam gumpalan awan
Yang mengantarmu ke titik nadir

Kau seolah ingin mengabadikan diri
Menyeberangi lautan kenyataan dalam keangkuhan
Menafikan sekelompok kupu kupu bersayap lemah
Menjadikannya penghias alas kaki
Untuk kakimu yang tak lagi menapak bumi

Lalu
Kau berkata lantang
Tentang salah yang terlanjur kau limpahkan
Pada alas kaki yang kau injak injak
Mencuci kaki dan tangan berlumur daki

Kau juga menabuh nakara
Memukulnya hingga kebas kedua tanganmu dibuatnya
Sebatu nisan kau ciptakan
Dalam gegap gempita tawa menghinakan
Kau terlalu mengagungkan kekuasaan
Kau biarkan wajah dan tubuhmu licin tergerus jaman
Membengkalaikan hatimu yang terlanjur dipenuhi belatung
Membusuk

Advertisements

12 thoughts on “

  1. Mungkin…
    Dia hanya tak bisa menyelam lebih dalam
    Untuk pahami maknanya hati yang pernah terluka
    Kami masih berusaha…
    Meskipun lelah…kami masih mencoba
    Mencari makan dengan dua tangan
    Menjaga hati kami untuk bertahan
    Bukan cuma sesuap nasi yang kami cari
    Tapi pengakuan bahwa kami ada…
    Dengan semua cacat dan luka
    Dan hati kami yang sebenarnya
    Yang perih saat tergoreskan kata

    *kupetik dari postingan lama Bun…

  2. Mbak..tarik napas dulu. Sabar mbak…sabar..

    *bawain air putih buat mbak Unai

  3. aku tak mengerti…
    karena apa yang kau ingini
    tak dapat kupahami

    pikiranku kacau
    karena tak seharusnya aku memaksakan rasa
    apa maksudnya ??

  4. oalah mak.. mak…. akhirnya dirimu menongolkan diri juga. dan ternyata pas gempa dikau malah di agas solo. piye anak lan bojomu? apik2 wae to? moga2 apik lan slamet kabeh yo 🙂

  5. kadang kita pahami kedukaan dengan hingar bingar sampai muak bosan
    juga panas terang jadi berarti saat dingin mengilukan
    jika bisa akan kuredam hatimu dengan daun dadap, untuk tentramkan
    atau dinginkan hingga marah karam
    beku bersandar di karang
    setelah kau diam dan tenang,
    akan kuberikan dadap, bukan…
    tapi bunga merahnya yang menawan
    agar kau tak lagi hadapinya sendirian

  6. Sisca : menggetarkan atau menggelegar 🙂

    Yoka : Memang kadang orang tak mampu selami,kelelahan, luka hati… untuk itulah, semoga budi pekerti lebih ada lagi , tak mati.

    Madame : fyuh..lega

    Yaya : makasih aer putihnya Ya

    Mata : maka beri kesempatan saja, untuk sebuah aktualisasi jiwa 🙂

    Om Siwor..apik apik kabeh, mugo mugo aman yo Om

    Uda : baa da kabanyo? alah lamo indak basuo 🙂

    Uli , IPAl : heheh iya harus sabar ya

    Dahan : terima kaasih untuk dadap yang membawa efek menyejukkan. menetralisir tremor di kepala dan pembuluh darah yag hendak meledak. Adamu kunanti

    Langitbiru : kok tau?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s