Fajar membuka hari
Menggantung harap di puncak tertinggi
Memaksaku untuk segera meraih hari
Jangan sampai terlewati
Tanpa sesuatu yang berarti

Matahari membakar langitku siang ini
Mencipta fatamorgana di setiap sudutnya
Menawarkan indah yang tak nyata
Memaksa aku untuk melompat ke dalamnya

Kita kelelahan,
Meski kita masih memiliki beberapa kerat roti sebagai bekal
Namun tidak untuk dahaga kita
Duduklah dulu di sini
Di bawah rindangnya mahoni
Menghirup wangi dari kelopak kecil berwarna kuning ini
Yang gugur berserak di tepi

Bayu menautkan kita
Hati kita

Yakinlah
Senja masih indah untuk kita nikmati berdua
Memandang kaki langit berwarna saga
Membuat prasati dalam setiap peristiwa
Lara dan luka sebagai obatnya
Canda dan tawa adalah penyempurnanya

*jangan lelah bibir berucap doa…kita kan selamat sampai ke sana
*Yogyakarta, 18 Mei 2006.

Advertisements

8 thoughts on “

  1. bila hati telah lompat bersama ketiadaan
    lalu canda dan tawa jadi kebiasaan
    jalan apa yang ditempuh agar ada yang beri harapan?

  2. nantikan siang menjelang
    meski sebentar berganti petang
    pun petang datang untuk menghilang

    mentari,
    angin beriku titipan untukmu
    satu saja peringatan
    genggam erat harapan akan kebersamaan
    …selalu..

  3. maka bergandengan tanganlah..
    agar aq bisa menopangmu saat kau lelah…

    btw, senjanya indah skali…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s