KOPI PAHIT DALAM HARI-KU


Sudah lewat tengah malam. Ini berarti sudah lebih dari tujuh malam aku melewatkannya, membiarkan tengah malam berlalu, melenggang dengan tenang meninggalkan aku dengan bergelas-gelas kopi pahit, yang memacu adrenalin, menghentak dan menggedor jantungku untuk bekerja lebih cepat daripada otak. Kenapa harus kopi pahit? Bukankah kopi akan lebih nikmat dengan tambahan gula sedikit? Sedikit saja jangan berlebih, karena akan menyisakan letar di lidah. Kopi pahit, buatku memberi sedikit pemaknaan akan hidup. Pahit, namun harum aroma yang meruap menghadirkan kerinduan tersendiri buatku. Kerinduan tak terkatakan seperti rasa kopi itu PAHIT!!!

Tengah malam hampir berlalu, lewat.Kurasa angin berhembus pelan disekitarku, namun dinginnya menusuk merasuk sampai ke tulang. Kuhirup rindu ini satu satu, kutelan saja, lalu kubiarkan ia dicerna untuk kemudian aku keluarkan lagi dalam bentuk yang lain atau bahkan tidak berbentuk. Aku sudah tak ingin! Sungguh!! Memikirkamu membuat waktu seperti tercekat, tak mau berputar, membuat kerja otak melemah, menggerus mimpi yang sesungguhnya bukan mimpiku. Karena bukankah aku tlah mengatakannya bahwa aku tak kan pernah menjual diriku untuk sebuah ilusi. Kau boleh terbahak mendengarnya. Itulah kenyataan. Aku hanya ingin menjalani hari ini dengan baik dengan sesekali menoleh ke belakang, sekali lagi bukan untuk rinduku tapi lebih untuk menguatkan hatiku, bahwa aku tlah melewati saat sulit itu.

Dengarlah !! hatiku masih mampu berdenting, membuat harmonisasi sempurna di nada mayor ataupun minor, tanpa jariku harus terluka memetik dawaiku. Kau harus tau, ada kehidupan setelah ini, setelah esok, bahkan setelah matipun. Jadi tak salah jika aku masih memiliki harap, bukan ilusi. Harap akan mekarnya kuncup-kuncup melati yang kutanam di taman hatiku. Meski mentari enggan menyinari mayapadaku dan meski aku harus memiliki tungkai yang kuat untuk berdiri memapah ragaku, di ujung bianglala yang tercabik ini.

*Ini adalah gelas terakhir kopi pahitku.Takkan kutenggak lagi

Advertisements

13 thoughts on “KOPI PAHIT DALAM HARI-KU

  1. Kopi pahit ? sekedar kopi ataukah analogi dari sesuatu ?

    Untuk saya gak suka kopi *gubraaaak*

  2. begadang Nai….?
    Di salah satu sudut bumi manuisa, aku menemanimu menyaksikan malam berlalu dengan berjuta kenangan dan kecemasan, tenggelam dalam anggun sang sunyi. Perih yang meraja, nikmat terasa…bersama kopi pahit sebagai teman setia.

  3. Tapi sisa pahit kopi masih dapat kurasakan mbak, biarpun aku tau yang telah lewat..ya..lewat.

  4. tapi di dalam kopi yang pahit akan ada rasa manis……
    tpai kenapa hanya dominan yang rasa pahit yah???
    hayooo apa coba alesanya….???

  5. tak apalah klo sekarang musti meminum kopi pahit. asal tak terus harus meminumnya. karena ada kalanya kita juga inggin merasakan manisnya kopi itu.

    seperti saat ini, kurasakan kopi yang kuminum begitu pahit. sehingga enggan untuk menelannya. tapi apa boleh buat, aku harus meminumnya karena aku haus. *halah* opo to yo iki….

  6. habiskanlah gelas terakhir kopi pahitmu mbak. dan aq harap itu benar2 gelas terakhir, dan semoga gelas selanjutnya akan berisi kopi manis 🙂

  7. sorry gag nyambung ama postingan.. sebab vi3 ga bisa ngeshout neh.. ntar kalo dah sampe jogja vi3 kasih kabar deh.. okeh??

  8. Bun…bagi sedikit pahitnya boleh? Aku lagi butuh sedikit ‘penyegaran’ nih…:(

  9. Mbak Unai, alenia terkahir itu mengugahku..serasa membaca kopi yg tak lagi berwarna hitam…tak ada rasa pahit mengantung di situ, diantara wangi melati yg mekar di taman hatimu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s