Matahari membakar amarah
Meletup letup, membuyarkan senyuman indah
Seperti debu…
Terhempas di perdu, di tepian jalan itu
Awan putih berarak…
Sebagian membentuk kepala hewan
Segerombol lagi menghampar, bagai kapas melenakan…
Amarah, senyuman indah, awan putih, langit biru…
Terbingkai satu di korneaku, berkejaran keletihan
Singgahlah sejenak
Sisihkan angkuhmu, buang sombongmu…
tepis letihmu…
Sandarkanlah di sini…
Di sandaran hatimu…

Advertisements

5 thoughts on “

  1. Ku tak letih menantikan
    Mawar merah yang pernah dijanjikan
    Meski durinya melukai tangan kanan
    Kirinya kan erat kugenggam
    Meski penuh ketidakadilan

    Kuberikan dia kesempatan
    Untuk sekali lagi mengumpulkan keberanian
    Hingga IYA adalah kata terakhir yang dia ucapkan
    Ataupun TIDAK yang mengiringiku menghilang perlahan

    Aku disini
    Mencoba tak menaruh sedikitpun harapan…

  2. Hujan aku memadamkan amarah
    meyelamatkan emosi
    menaburkan benih kasih
    disana akan tumbuh
    bibit cinta
    terbingkai dalam senyum

  3. Menjadi sandaran hati,
    jelmaan malaikat ketika batin letih menghitung luka lukanya…

    I have been there, dihangat ketiaknya dulu aku berlindung dari bengis amarah.

    Bagus banget!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s