SEHARUSNYA AKU LEBIH BERSYUKUR


Belum genap satu bulan ini aku punya tetangga baru di lingkungan perkampungan tempat tinggal kami.
Rumah yang pas banget berhadapan dengan pintu samping rumahku ini dihuni oleh Bapak, Ibu dan dua anak perempuan yang masih kecil-kecil.
Pastilah mereka belum terlalu tua, kutaksir mungkin baru kepala tiga untuk suami, dan 28 untuk istrinya.

Rumah atau yang lebih pas disebut kamar yang sangat sederhana itu hanya berukuran kurang lebih 4×5 m itu terlihat rapi, meski tak begitu bagus dan malah tampak kumuh, tapi penataannya terlihat lebih nyaman.
Dulunya rumah itu sangat tidak terawat, karena pemiliknya hanya menghuni sebagian dari bangunan rumah itu.
Sempat juga dikontrakkan dengan nenek tua yang juga mengasuh cucunya yang terkena kangker di lehernya.
Belum lama cucunya meninggal dan rumah itu kembali kosong, baru sekarang berpenghuni lagi

Nyaris sama kondisinya dengan penghuni terdahulu. Bedanya mereka berdua, suami istri ini bekerja. Suami sebagai buruh pabrik tekstil, dan istri berjualan.
panganan yang dibawa dengan gerobak. Pemandangan yang membuat batinku terenyuh.
Bagaimana tidak ???, setiap hari aku menyaksikan pemandangan yang itu. Mendengar tangis Isa, anak bungsu mereka yang kelaparan ditengah malam, karena siangnya tidak makan, karena memang tidak ada yang bisa dimakan.
Memandang teman sebayanya yang bermain dengan mainan baru, dan mengenakan baju bagus dan bersih dengan tatapan sendu.
Meneguk ludah ketika teman2x berlarian menghampiri penjual es krim dan makan dihadapannya tanpa memberi.

Ah..aku semakin miris.
Pernah suatu hari, sang istri menangis tersedu2x, uang yang seharusnya untuk membeli bahan2x untuk dijual pagi itu hilang.
Padahal tak sepeserpun yang tersisa. Asti anak pertama merengek meminta bayaran SPP yang sudah nunggak 5 bulan ini.
Pemilik rumah meminta kekurangan pembayaran kontrakan.
Ya Tuhan…kau tunjukkan semua ini di hadapanku…
Belum lagi, panganan yang tidak laku tidak bisa dijual kembali besok harinya, terpaksa Istri harus menjual dagangan dengan berkeliling perkampungan
sampai sore menjelang, membiarkan Isa sendirian di rumah.

Isa yang usianya masih 3 tahun itu, besar dengan sendirinya. Untunglah lingkungan tempat tinggal kami menerima mereka dengan baik.
Mengajak Isa makan, ketika ibu dan bapaknya belum pulang, memberi panganan dan kue,memperhatikan mereka layaknya anak2x sendiri.
Sepulang kerja, aku kerap mengumpulkan anak2x dirumah. Belajar membaca,menggambar, dan mewarnai, aku yang jadi gurunya.
Menyediakan camilan dan mendengarkan tawa mereka semakin menciutkan hatiku.
“Ah anak-anak, betapa polosnya kalian”

Mereka bubar ketika aku bilang akan istirahat.
Tak berani bermain di bawah jendela kamarku, karena akan mengganggu tidurku.
Padahal aku tidak sedang tertidur, aku sedang membereskan mainan dan rumah yang berantakan karena ulah mereka.

Tuhan..seharusnya aku lebih bersyukur…

karena all i’ve got is all a want…

Advertisements

One thought on “SEHARUSNYA AKU LEBIH BERSYUKUR

  1. seringkali kita terlena terlalu menengadah kepala sehingga lupa akan apa yang ada di kaki kita ya jeung…:) salut untuk usahamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s