BAPAK


“Bapak mau pulang, nduk”

Aku cuma bisa mengiyakan, meskipun berat hati untuk melepaskan bapak untuk kembali pulang ke rumahnya yang sepi.
Antara membiarkan bapak pulang dan perasaan tak ingin bapak di sana berkecamuk…berganti-ganti…
Usia bapak yang menjelang senja membuat bapak semakin sensitif. Banyak yang salah dari apa yang aku lakukan.
Tapi aku berusaha memakluminya.
aku ingin sekali selalu berdekatan dengan beliau.

“Bapak ndak kasihan aku?, yang ndak punya siapa-siapa di sini”

Bapak nggak bisa menjawab apa-apa. Aku tau’ beliau juga berat meninggalkan kami.
Ah…mungkin banyak hal yang harus bapak selesaikan di sana, terutama mengunjungi pusara Bunda yang lebaran kemarin tak disinggahinya.
AKu juga merasa kalau aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri.
Kelelahan sepulang kerja, dan hampir tak memiliki waktu luang untuk bercanda dengannya.
Cuma anggrek, suplir dan macam tanaman yang lain yang mengisi kesibukan bapak.
Kebun kecil di belakan rumah dirimbuni tanaman, bapak yang menanamnya, dan aku cuma sesekali merapikan dan menyiraminya.
Aku lega ketika itu. Bapak disibukkan dengan tanaman obatnya, mengemasnya menjadi kapsul atau teh.
Bangga sekali ketika aku juga mencicipi teh mahkota dewa bikinan bapak.

“Gimana…,enak tho nduk?”

Aku manggut-manggut, setuju atas pertanyaan sekaligus pernyataan bapak.
Dan bapak senyum-senyum bangga.

Bapak sumringah, tiket sudah di tangan.
Selasa, flight pertama…
Bapak sudah mendaftar cucu-cucu yang akan dibelikan oleh2x.
Ah bapak…selalu ingat, meski oleh2x sekedar pensil lucu atau sandal teklek bermotif batik, bapak nggak alpa menulisnya di listoleh2x.

Teklek itu biar dipakai untuk ambil air wudhu”
Bapak berujar lagi. Tak lupa bapak juga minta dibelikan beberapa buku agama.
“Buat bekal.”, katanya lagi.
Bapak, meskipun sudah sepuh, tapi semangat membacanya masih lumayan tinggi.

Aku jadi inget waktu kecil, bapak sering ndongeng buatku.
Dongeng tentang kupu-kupu kecil berwarna cantik yang hinggap di koper seorang bapak tua.
Tentang anak sapi yang kotor dan dimandikan seorang ibu yang tidak mempunyai anak.
Tentang tupai yang nakal, yang berteman dengan landak yang baik hati.
Banyak sekali dongeng bapak yang sampe setua ini aku masih merekamnya dengan baik.
“Mungkin bapak bisa mengalahkan H. C Anderson“, candaku padanya.

Ah bapak…kenapa harus pulang????
Tak nyamankah bapak di sini, di tengah2x kami yang sangat mencintai bapak?.
Tapi aku yakin, bapak nggak akan lama di sana.
Bapak akan merasa lebih nyaman tinggal di sini, di rumah kami.
Meski sangat sederhana, tapi hangat dan penuh cinta.

Advertisements

11 thoughts on “BAPAK

  1. Bapakku udah meninggal sejak aku kecil..

    Tapi ada adiknya nenekku yang anak2nya banyak tinggal di jakarta, dan sebagian lagi masih di Malang. Meski udah sepuh, dia masih sering bolak-balik Jakarta-Malang berapa bulan sekali.

    Bagaimanapun kayaknya beliau tetap menganggap Malang sebagai rumahnya, tempat dia pulang. Karena akar kehidupannya memang tertanam dalam-dalam di kampung halamannya.

  2. MUNG…salamnya pasti tak sampein..*kok cuma salam, bukan salam tempel?

    WIN…aku emang anak manis kok…:P

    YAYA cup cup

    Q…beruntungnya yang masih memiliki Bapak…Tapi kamu nggak kalah beruntung Q, punya banyak sodara yang sayang kamu *lho jadi melow…

    Thanks ya…

  3. GIT…takut kan kehilangan orang yang paling deket?

    Om Doel..emang aku ma Bapak deket banget…tapi karena Bapak dah sepuh, jadi seringnya salah terus…huhu sedih deh kalo berantem

    RIO..boleh, aku masih inget semuanya deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s