PERJALANAN KE KOTA SERIBU SUNGAI



Berkenalan dengan seseorang yang baru, ternyata tidaklah terlalu sulit seperti yang terbayang sebelumnya. Karena usia yang bertambah, sedikit banyak kemampuan bersosialisasi, komunikasi, akan berkurang. Alasannya bukan karena memilih komunitas mana yang pas dan mana yang tidak, tapi perasaan nyaman, dibutuhkan, belajar banyak, dan saling memberi..atau bahkan lebih.

Windede, kenalan baruku…membuatku tergugah untuk menulis sedikit tentang perjalananku September tahun lalu ke Banjarmasin, kota seribu sungai itu. Tak ada libur khusus atau cuti yang aku ambil, aku hanya ingin menghabiskan weekend di sana, meliburkan diri, melepas penat dan mengunjungi keponakanku yang cakep-dan lucu-lucu. Tentulah bersama Alif serta Husbie-ku. Transit di Juanda Surabaya, untunglah kali ini nggak delayed sehingga belum terlalu siang untuk sampai di sana.

Saat menginjakkan kaki di Samsudin Noor, matahari belumlah terlalu tinggi, tapi terik sudah menyengat, seperti menginjakkan kaki di atas bara. Aspal seperti menguap, di sana sini fatamorgana. Dari dalam taxi, pemandangan yang tidak jauh berbeda dengan Palembang, mulai aku tangkap di sepanjang perjalananku menuju rumah.

Di sebuah kompleks perumahan Sultan Adam yang jalannya belum beraspal itu kami mulai mengeluarkan barang bawaan dari dalam bagasi taxi.Kompleks perumahan yang tak terlalu besar, dengan barisan rumah masih dalam hitungan jari. Tak sengaja memperhatikan, di halaman depan rumah di kompleks ini pasti tertananam pohon jambu air, memang meneduhkandan mungkin karena cuaca yang sangat panas ini cocok sekali bertanam jambu air yang menyegarkan, ada yang hijau, kecoklatan, dan merah. Aku hanya sesekali menelan ludah yang mulai kering.

Bertemu dengan keponakanku Affan dan Adip. Affan, anak cerdas yang good looking tapi berkaca mata minus, mungkin karena dia tidak terlalu menuyukai sayur dan buah, adalah cucu pertama dari keluarga Husbie. Anak SD yang mengikuti program akselerasi itu bukan tergolong anak nakal tapi agak malas kalau disuruh mandi. Hmmm…smels not good. Adib, nah keponakanku satu ini cakep, berparas bangsawan *menurutku, sayangnya Allah memberi kami cobaan, Adip terkena Autisma, meski begitu kami tak pernah lelah berusaha untuk kemajuan kemampuan komunikasinya, terlebih orang tuanya. Semoga Allah menguatkan keduanya, dan semoga ada keajaiban untuk Adib. Acil sayang kalian….

Menjelang sore, aku, Alif, dan husbie dengan diantar Mas iparku sekeluarga menghabiskan senja di tepian sungai, menikmati soto Banjar yang terkenal itu, dan menyusur sungai dengan perahu kelotok. Meski di palembang ada juga perahu sejenis, tapi sungguh ini adalah pengalaman pertamaku. Tak heran kalau aku terlihat pasi, tak mampu berbicara, aku mabuk…bukan mabuk laut tapi mabuk sungai. Tak berapa lama aku mulai bisa menyesuaikan diri, tidak panik ketika oleng, dan sudah mulai tertawa meski masih dalam takut.

Masih di atas perahu kelotok, beberapa kali kamera menangkap kegiatan orang diseberang, ada yang mandi, mencuci beras, buang air (besar dan kecil), wudhu, dan bahkan gosok gigi. Aku bergidik membayangkan air berwarna coklat itu masuk ke dalam rongga mulut mereka. Sayangnya kamera yang kubawa tidaklah mampu menangkap obyek gambar dengan baik karena aku masih gemetar, belum lagi Alif mulai rewel, rupanya dia juga merasakan ketakutanku.

Spertinya tak lengkap datang ke Banjar tanpa makan lontong sayur khas Banjar, Lontong ORARI pilihan kami, di warung makan yang lebih mirip rumah dan berbahan kayu ulin hitam mengkilap ini kami menggelar gesah. Konon katanya tempat itu tempat radio amatir pertama kali mengudara dan sembari menikmati lontong bisa samblil ber-ORARI ria,” lucu juga”.

Pagi sekali, setelah azan subuh aku ke pasar terapung, pasar unik yang baru kali ini aku temui. Kami Cuma mengendarai sepeda motor yang kami titipkan di tempat penitipan di tepi sungai itu, dan kami mulai menyewa *lagi perahu kelotok…duh.. perutku mulai geli karena kelotok yang aku tumpangi dihempas-hempaskan ombak, sesekali pengemudinya mengeluarkan air yang masuk ke dalam kelotok dengan menggunakan gayung plastik atau ember. Aku meminta ke pengemudinya untuk lebih pelan dalam mengemudikannya. Sambil menahan mual dan ngeri beberapa obyek lagi tertangkap, lagi-lagi hasil jauh dari maksimal…Pemandangan yang indah. Aku takjub dibuatnya. Melihat ibu2x membawa dagangan yang memenuhi perahu mereka, ada pisang, semangka, sayuran, kelapa, dan banyak sekali yang lainnya. Perahu kelotok mereka juga ada yang bermesin dan sebagian dari mereka yang mendayung. Sungai sudah tak terlihat seperti sungai, aku melihat laut. Laut yang dipenuhi perahu kelotok. Dari kejauhan nampak seperti gunung hitam berkilat yang kian mendekat, ternyata batu bara yang ditambang itu di bawa ke tempat pengolahan dengan menggunakan kapal besar.

Perjalanan kulanjutkan ke Martapura, membeli oleh2x kecubung dan giok, beberapa kalung, cincin, dan liontin batu. Aku masih menyimpannya beberapa, dan sebagian lagi sudah kuberikan ke sanak dan sahabat. Trayek terakhir adalah jembatan Barito, jembatan panjang dan tinggi menciutkan nyaliku untuk berdiri tegak di atasnya. Aku cuma bisa duduk di tengah, bukan di pinggir. Karena aku sudah nggak mampu menghentikan getar di lututku. Tak banyak yang bisa aku dapat di sini, padahal senja mulai menjelang, dan sunset hampir tergelincir. Sungguh aku nggak bisa menikmatinya, karena takutku. Bagaimana tidak, jembatan yang tinggi itu bergetar setiap kali kendaraan melintasinya., dan aku semakin gemetar dibuatnya. Terkekeh mereka menertawakan aku yang dengan merangkak mendekati mobil yang diparkir di bahu jalan,

Sayang, kami harus segera pulang, tanpa sempat menyaksikan pesta JUKUNG HIAS itu. Banjarmasin…I’ll come to you

Advertisements

15 thoughts on “PERJALANAN KE KOTA SERIBU SUNGAI

  1. wah… bakat nulis reportase perjalanan nih…. foto2nya ditunggu…

    gita: kuala kapus salah satu kabupaten di kalimantan tengah. hanya 1 jam perjalanan darat dari banjarmasin.

  2. Sam…kenang-kenangan juga ada ko, apa yang nggak buat amu hihihi, WIN..thanks ya, kalo aku ke Banjar lagi..ikam lah yang menjadi guidenya..

  3. aku belum pernah ke kalimantan..:(

    baca ini jadi pengen numpak gethek hehe…sungainya banyak buayanya nggak? *nyewa joko tingkir dulu nih * 😛

  4. AKU BELOM PERNAH KE JEPUN 😦

    Jeng Ria…kalimantan panasss…shhshshs, tapi orangnya berkulit putih, pipinya merah, knapa ya? paling enak makan soto di pinggir sungai, atau jajan dari kelotok di pasar terapung…hmmm,kapan ke kalimantan bareng?

  5. wah, sayang hari ini aku nggak ikut berangkat ke banjarmasin. temen yang pergi;). kan bisa liat pesta jukung hias deh;).

  6. Unai…oh eh..mbak Yuni…kemana ajah? Ummi dah pernah kesini trus ilang alamat blognya, Alhamdulillah nyangkut lagi. Insya Allah di link deh yah…

    Apa kabar juga?
    wah Ummi malah belum pernah ke Banjarmasin.
    Ngomong2 soal sungai, di Brunai orang sungai dipindahkan oleh pemerintah bolkiah ke apartemen…tapi cuman bertahan 3 bulan..eh pindah n balik lagi jadi org sungai..emang usah melekat jadi anak sungai kali yah

  7. kapan weekend ke medan ?
    paling banyak street food nya lo..betul2 memanjakan lidah.sayang,agak kurang cocok dengan lidah jawa yang terbiasa dengan yang manis2.
    tahun baru 2005 lalu aku sempet maen ke bukit tinggi.nanti kalo blogku dah selesai aku ceritain deh.mumpung kaki dah sampe sumatera,berambisi travelling pulau sumatera.kalo ada rezeki, mpe kalimantan…………

  8. hai say…akhirnya dirimu nongol juga…maulah aku ke medan…tapi tak ada hepengnya.Makanan ok aja, secara aku yang gak terlalu suka manis…heheh, kapan ya bisa ke Medan…biasanya cuma ke *medan perang 😛

  9. slam kenal dr banjarmasin.foto disungai itu bgus bgt ya.ciri banjarmasin nya kena bgt…!
    coba deh kunjungi jg blog aq, byk info n foto2 ttg penjelajahan ku di kalimantan.aq tunggu lho….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s