LEBARAN TANPA BUNDA


Sudah enam kali lebaran tanpa Bunda, dan ini adalah lebaran yang ke tujuh kalinya beliau nggak ada di tengah-tengah kami.

Bunda meninggalkan aku, disaat ujian semerter pendek mengharuskan aku mengulang nilai-nilai akademik yang nggak layak tampil di traskrip nilaiku. Aku pulang setelah mendapat kabar kalo Bunda koma di RSUP Prabumulih. Kuatur nafas yang mulai tersenggal, kucoba menguatkan hatiku untuk nggak menangis, tapi ternyata aku nggak sanggup. Kutumpahkan tangisku di atas sajadah yang mengantarkanku pada Shalat Isya malam itu. “Tuhan, beri aku kesempatan”, bisikku lirih.

Sayang, pesawatku pagi itu delayed, Aku harus menunggu beberapa jam. Jantungku nggak berhenti berdegup kencang, seperti hendak merontokkan segala yang ada di dekatnya. Masih nggak kuasa aku memendam galauku. Akhirnya pesawat take off meninggalkan Soekarno Hatta, jam 15.15, waktu yang sangat lama untuk mananti dengan kegalauan.
Jarak tempuh yang kurang dari satu jam, masih membuat aku ingin segera memburu waktu, menemuimu Bunda. Tiba di Palembang, aku sudah dijemput oleh sepupuku dengan mata sembab. Kenapa lama sekali?, tanyanya. Aku nggak bergeming. Langsung aku melompat masuk ke dalam mobil, harapanku segera tiba di Prabumulih yang berjarak seratus kilo meter lebih dari bandara. Kali ini, aku benar-benar merasakan perjalananku sangatlah panjang.
Hampir dua jam. Menjelang magrib aku baru tiba di rumah sakit. Harapanku tipis, kulihat sanak saudara dan tetangga berkumpul, dan sebagian memenuhi sepanjang koridor menuju kamar Bunda. Mereka bergantian memelukku dengan linangan air mata. Aku harus kuat, apapun yang aku lihat, batinku.

Lunglai aku menyaksikan tubuh yang dipenuhi selang, nggak berdaya. Pelan kudekati, seakan nggak percaya dengan pemendangan yang aku lihat ini. “Tuhan, inikah Bundaku? Tak berdaya menerima kehendak-Mu, pasi. Kugenggam tangan kanannya, kuciumi, dan kutuntun dengan ayat Allah. Tuhan, Bundaku menangis, sembuhkan dia bila kau menginginkan ya Allah, dan kuatkan aku bila memang harus menghadap-Mu, pintaku di isak tangis yang tersimpan.

Bunda pergi, hampir berbarengan dengan salam terakhir Bapak di ujung Shalat Magrib, masih dalam genggamanku. Semua menjerit, bahkan kakak perempuanku pingsan. Aku masih kuat, hanya linangan air mata yang nggak berhenti mengalir, membentuk sungai yang tak lagi parit. Aku rela Tuhan, karena siapa yang sanggup melawan kehendak-Mu?.

Kuantar Bunda, ke tempat peristirahatan terakhirnya. Gundukan tanah merah dan nisan bertuliskan nama Bundaku, pertanda Bunda tertanam di dalamnya. “Ya Allah, lapangkanlah maqamnya, berilah tempat layak disisi-Mu bagi Bundaku.Amien

Bunda, lebaran tinggal hitungan hari lagi, kami jelang. Kami kehilangan sosokmu. Bunda, biasanya engkau sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Membuatkan kami kue kering, nastar kesukaanku, rendang, opor ayam khas buatanmu, dan pindang kaki sapi yang sudah menjadi tradisi keluarga besar Kita. Bunda, lebaran kali ini akan terasa sepi, karena ini lebaran pertamaku di Yogyakarta. Tanpamu, tanpa mas dan mbak, tapi dengan Bapak, Husbie, dan Alif. Bunda, aku rindu

Advertisements

14 thoughts on “LEBARAN TANPA BUNDA

  1. dalam hidup, ada yang datang dan ada yang pergi. yang datang membawa cita, yang pergi meninggalkan duka…bersyukurlah masih memiliki bunda

  2. duhh…ikut terharu…bedanya, saya terkenang ayahanda…lebaran kali ini, yg ke9 tanpa beliau…
    pastinya…saat ini bunda sedang bahagia di tempat yg lebih baik merayakan lebaran kali ini…:)
    cheers,..

  3. Bunda akan selalu ada.. krn Bunda tidak benar2 pergi, hanya pulang ke Maha Pencipta. Doa dan keikhlasan akan slalu menemani bunda 🙂

    Met Idul Fitri Unai..
    maafkan khilaf dan kesalahan daku ya..

  4. Lebaran ke-7 tanpa Ibu…
    Dan nenekku juga sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Tidak ada lagi orang tua dan kakek-nenek (dari ayah dan ibu) tempat melakukan ritual sungkem di hari Lebaran…

    Memang terasa ada yang kurang, tapi sudah begitu jalan ceritanya. Sekarang sungkeman tinggal ke sodara, sodara bapak-ibu, dan sodara kakek-nenek… masih banyak kok 🙂

  5. ah jadi ingat ibu. Karena aku sering berada di luar kota aku sering berlebaran tanpa ibu sampai ibuku meninggal ketika aku sedang di Canada.
    ugh ugh duniaku mau runtuh rasanya.
    semoga ibunda2 kita berbahagia di alam sana dan mereka tetep mendampingi kita dengan doa2nya. amin

    -maknyak-
    http://serambirumahkita.blogspot.com

  6. Kehilangan adalah hal pahit yang sulit kita hadapi. Berusaha untuk kuat…dan bertahan saat rindu mendera..

  7. Untuk kesejuta kalinya aku bersyukur:
    Allah masih memberikan sedikiiiittt lagi kesempatan untuk bermanja dengan ayah dan bunda!

    Satu dari sekian banyak keberuntungan yg diberikan-NYA!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s