Seikat mawar putih itu sudah mulai layu, pun sedap malam dan asternya. Tapi aku masih tetap mengganti airnya dan meletakkannya di meja yang menghadap ke jendela itu.
Biarlah ia layu, karena memang semestinya begitu.
Aku tak mampu memaksanya untuk selalu menebar aroma wangi itu, dan aku tak mampu menegakkan kelopaknya yang mulai tertunduk.
Seikat mawar putih itu…sudah layu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s