Archive for the 'Uncategorized' Category

PHOBIA

Saya tertawa geli,  melihat teman saya pucat ketika ditunjukkan seikat bawang merah, menjerit ; entah geli, takut, atau jijik. Wajahnya pucat, dan dia menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya yang gemetar. Saya yang mengira dia bercanda masih terus saja tertawa, terpingkal-pingkal, sambil terus menyodorkan bawang merah. Saya kira dia bercanda, pura-pura takut atau apa?, lagipula cuma bawang merah, apa pula yang menakutkan dari bawang merah ini? Aneh…

Continue reading ‘PHOBIA’

Fyuh

Ya ampun, koneksi lelet, kerjaan numpuk, Boss galak, apa lagi yang kurang coba ? Mending kita tinggal tidur aja yiukkkk :)

Dua Tahun Lalu

Dua tahun lalu. Yogyakarta luluh lantak, gempa mengoyak kesucian pagi. Matahari sewarna wortel berubah kelabu. Tangis pecah, menggema senyaring raungan ambulan di pagi buta…susul menyusul. Entah jasad siapa lagi yang terbujur, lintang pukang, di sepanjang jalan…di pelataran rumah sakit.

Luka….Nestapa…

Betapa langit turut menangis, menemani pilu di tendatenda darurat nan reyot. Kedinginan, berselimut pekat langit malam…berkawan nyamuk dan lalat yang berpesta di tengah luka.

Dan…Kehilangan menjadi hal yang biasa. Layaknya titipan…tak pantas kita menangisi apa yang telah dititipkan-Nya. Biar saja pergi, seumpama kita membiarkan kereta melaju pada rel kehidupan. Begitulah hidup. Ada dan tiada, datang dan pergi….

Dua tahun lalu, tak lantas membuat kita rapuh.

 

*)  Mbita, Imgar, Mbak Eny, Mas Bagus, Mas Sam, Mbak Lucy, Ciplok, Damax…dan untuk  Blogfam, terima kasih atas dukungan dan cinta kalian

Ajakan yang membawa anganku terbang

“Mari, kita menangkap belalang saja, Nai”

Ajakan  itu sederhana, sangat…sederhana, namun mampu menerbangkan anganku pada belasan tahun lalu. Mengajakku kembali mengulik indahnya dunia kanak-kanak. Berkejaran di akar pohon bertubuh raksasa, menangkap ikan gobi di parit kecil, berlarian di antara hujan, mencuri mangga tetangga yang ranum dan jatuh dengan sendirinya, mencari kupu-kupu untuk diawetkan, juga menangkap belalang di lapangan kecil di depan rumah.

Berkelebat…satusatu. Masa indah yang membuat aku merindui saat yang tak mungkin dapat kuulang.

Empang kecil di sepanjang komplek perumahan kala itu…banyak menyerap gelisah dan gundahku. Aku kerap menghabiskan sore, memancing ikan, bermain catur, atau membaca…pada pondok kecil di tepiannya.

Juga rumah pohon karya bapakku, yang bertengger di atas angsana nan rimbun dan kokoh….dan bila saat musim hujan tiba, bunga-bunganya yang  mungil berwarna kuning menebar wangi di sepanjang jalan Pramuka…yaaa di sepanjang jalan yang dulu menjadi areal kekuasaanku (kami menyebutnya demikian).

“Mari, kita menangkap belalang saja, Nai”

Terbayang, rumput tebal menebar wewangian khas yang disemaki kalakanji, terik matahari, kecipak air empang ketika kami berlomba melempar batu aling jauh. Terbayang…teringat semuanya
Seperti memutar ulang film bergambar sephia.

Ah..aku rindu

*) Thanks NiMeiy…mari kita tangkap belalang, juga capung warnawarni

Keluarga Bekantan

“Hidung besar bawa hoki” kata bapak sambil tersenyum ketika saya menanyakan mengapa ukuran hidung saya lebih besar dari ukuran hidung teman-teman saya yang lain. Ketika itu saya masih es-de. Lalu, panjang lebarlah beliau mendongeng bahwa di zaman kerajaan dahulu kala itu…orang-orang berhidung besar adalah orang yang mengalir darah bangsawan di dalamnya. Halahhh bagaimana bisa begitu??? Continue reading ‘Keluarga Bekantan’

Next Page »


Archives

Blog Stats

  • 11,831 hits