
Belum ke Padang bila belum singgah ke Jembatan Siti Nurbaya. Jembatan sepanjang 60 meter ini menghubungkan kota tua Padang dengan Taman Siti Nurbaya (tempat Siti Nurbaya dimakamkan). Membentang gagah di Muara Batang Arau.

Belum ke Padang bila belum singgah ke Jembatan Siti Nurbaya. Jembatan sepanjang 60 meter ini menghubungkan kota tua Padang dengan Taman Siti Nurbaya (tempat Siti Nurbaya dimakamkan). Membentang gagah di Muara Batang Arau.

Laiknya keriangan anak kecil mendapatkan permainan baru, dendang riang di dalam hati saya lantunkan sepanjang perjalanan menuju Bukittinggi. Tak sekejappun mata terpejam. Membelalak sambi berecak kagum tiada henti menyaksikan pemandangan yang sebelumnya belum pernah tertangkap kornea mata.
Menyusuri kelok jalan menanjak, menurun, merasakan angin masuk lewat kaca jendela yang sengaja dibuka menampar wajah hinga kebas. Hamparan kebun teh, Danau Ateh, Danau Bawah, Danau Singkarak, Situs bersejarah Batu Batikam, dan Batu Angkek-Angkek, mempunyai cerita tersendiri di hati saya. Kepak sayap mungil kupu-kupu di bebatuan air terjun itu, membuat saya iri ; mengapa tak bisa lebih lama di sini? Waktu seolah melaju dalam kecepatan penuh.
Continue reading ‘Menikmati Keindahan Bukittinggi Dalam Jenak’

Owalahhhh kemaren saya sempat dibunuh sepi, dan dilanda bosan…*buset dah bahasanya…ternyata obatnya sepele saja. Saya ndak perlu piknik ke Bali atau Lombok dengan uang hasil merampok di gudang uang Oom tribal itu. Makasih deh Oom atas tawaran pinjaman uangnya
. Saya lebih memilih melarikan kendaraan saya ke toko buku di pucuk jalan Kaliurang sana. Kebetulan ada undangan diskusi buku Rahasia Meede di sana. Ughhh hati saya dipenuhi rasa ketidaksabaran untuk bisa ketemu dengan penulis muda yang sedang digandrungi tua muda itu…
Gerimis menyambut saya, persis ketika saya memarkir kendaraan di muka toko buku MP Book Point Jl. Kaliurang Km 6,3. Disambut senyum petugas parkir dan ibu muda berhidung bangir, bermata bola pingpong…hmmm cantik sekali. Dia memersilahkan saya masuk sambil membukakan pintu utama bangunan yang dipenuhi buku yang tertata rapi. Ini kali pertama saya datang ke sini. Hmm so cozy…

Masih banyak yang ingin saya ceritakan dalam perjalanan saya ke Padang tempo hari. Rasanya kurang afdol bila saya tak menuntaskannya. Bakal gentayangan arwah saya nanti, kalau masih ada hal menarik yang belum saya ceritakan. Sekali lagi saya ingin tegaskan, bahwa pemandangan alam kota Padang betul betul memikat hati. Karena kota ini memiliki kelengkapan nuansa, yaitu pantai dan pegunungan. Kota ini juga dikelilingi oleh pegunungan di sebelah utara dan timur, serta pantai di bagian baratnya. Terbayang kan betapa cantiknya kota ini? Hampir saja saya tak ingin pulang karena terbuai kecantikannya.
Tak cukup jari tangan dan kaki untuk menghitung jumlah obyek wisata yang ada di sini. Saya tak perlu pergi jauh, karena di setiap jengkalnya tercipta keindahan tersendiri.
Pantai Pasir Jambak misalnya, berlokasi di dekat Bandara Internasional Minangkabau. Pantai yang berjarak 25 km dari kota Padang ini begitu menawan. Udaranya bersih dan sepanjang pantainya ditumbuhi jajaran pohon kelapa. Saya seperti berada di sebuah negeri antah berantah. Sebuah negeri yang jauh dari kebisingan. Damai sekali. Sayang….sepertinya saya datang bukan di saat yang tepat. Pantai ini sepi pengunjung (atau memang bukan jam berkunjung?, loh kok seperti di rumah sakit ya?).

Sejak mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, terik matahari dengan gegap gempita menyambut kedatangan saya. Dan karena Padang adalah kota pantai, maka tak heran bila wangi angin laut menggelitik ingin saya untuk segera bercanda dengan ombaknya.
Ketika Damri yang mengantar saya ini berhenti, saya langsung disambut oleh keriuhan Pasar raya Padang yang menciptakan romantisme tersendiri bagi saya. Sopir angkot yang tak henti menekan klakson; memanggil penumpangnya, penjual obat, tukang sol sepatu, pedagang asongan, dan tukang ojek melengkapkannya.
Saya tidak sedang berada dalam arus orang-orang yang bergegas. Ritme bergerak sangat lamban. Dalam satu siang, saya bisa menikmati semangkuk soto setelah sebelumnya menyempatkan diri menikmati secangkir kopi di lobi hotel, berjalan-jalan di Kampung Cina yang berada di sepanjang Jl. Pondok dan Jl. Niaga, dekat Muaro, sebuah kawasan yang belakangan saya tahu direncanakan akan menjadi Padang Bay City (merupakan rencana proyek kawasan terpadu wisata, perdagangan, dan permukiman mewah (apartemen) yang dibangun di area seluas 33 hektare hasil reklamasi Pantai Padang) itu.
RECENT COMMENTS