Ah tidak… saya tidak pernah sedikitpun merasa tua. Malah rasanya saya masih usia 22 tahun…terus saja 22 tahun. Padahal waktu sudah jauh berjalan. Saya digerusnya, namun tidak lantas membuat saya takut menjadi tua.
Archive for the 'Cinta' Category
”Aku tak mementingkan keabadian
Aku November….bulan badai
Dan hujan…dan dingin
Aku November…maka berkelebatlah
Seperti petir di jasadku
Cintai aku meski hanya
Berpekan-pekan…berhari-hari, berjam-jam”
*) Puisi karya Nizar Qabani yang diterjemahkan oleh Qaris Tahuddin
Bila senja meninggalkan Tak berjejak Hanya jingga Sunyi berjelaga…Ahhh..
perpisahan selalu saja membuatku serupa stasiun yang lengang,
ditinggalkan kereta yang mengangkut berpuluh-puluh penumpang.
Perpisahan juga membuatku serupa gerbong, yang lepas dari rangkaian lokomotifnya. Melaju meski hampa, tiada tuju. Dan ketika tiada daya lagi, terkapar…terasing…, Walau ribuan kunang-kunang datang. Membentuk gugusan laksana gemintang. Berusaha lenyapkan sunyi.
Namun sepi tetaplah sepi
Sunyi…
Sesuatu yang tak terkatakan, namun menyiksa
Tak kuasa aku mengenyahkan perihnya.
Ahhhh, kau adalah bayang
Yang pernah menawan masa laluku
Meski kisah kita usai,
jauh sebelum kita memulainya
Namun tetap saja kau membayang
dan…
layaknya kisah yang tamat
kenangan hadir susul menyusul
menutup kisah yang usai.
Pernah suatu senja,
aku mengharapkan pertemuan yang tak disengaja antara kita
Pertemuan dengan perbandingan satu per sepuluh ribu ketidak mungkinan atau bahkan lebih,
mungkin ???
Entahlah…
Aku juga masih berharap,kalau-kalau kau membaca puisi
yang kutulis di kanvas langit
Menjelang lelapmu,
atau disaat kau menyesap secangkir teh melati dipagi hari yang lembab Tapi..tidak juga, hingga detik ini.
Kau pergi, begitu saja persis saat kau hadir ada dan tiada semaumu saja Tak perduli kau, aku dibayang-bayangi lengkung alis mata, dan coklat manikmu
Bilakah waktu
sedia menggunting jarak,
menghadirkanmu sedetik saja
sedetik saja
di sini…
*) fyuhhhh mau ikut2an Mbita… sayang tak ada kamus laknat ituh di sini, Mbit..
Di tempat tidur, sambil melingkarkan tangannya di leherku, Alif menatapku lekat. Bibir mungilnya banyak bercerita, tentang dua kelincinya yang diberi nama Reno dan Rani, tentang teman sekolahnya, tentang anak perempuan yang suka memeluknya, tentang sahabatnya, Sabrina yang pandai mewarnai sekaligus menyanyi, tentang semua…. Continue reading ‘Kangen’
Untuk Bapak tersayang…
Dulu, saat ibu masih ada…setiap sore di beranda rumah, kita kerap mengisinya dengan cerita. Menghabiskan bergelas-gelas kopi diselingi tawa. Kami, anak-anakmu…diberi kesempatan bercerita pengalaman masing-masing, dan cerita yang paling kami tunggu adalah cerita-ceritamu, Pak. Tak ada kata, semua mata tertuju padamu, mendengarkannya kisah hidup yang hendak kau bagi pada kami ; anak-anakmu.
Ada saja hal yang menarik kita bincangkan di setiap senja menjelang. Aku, selalu mendapat tempat istimewa dibandingkan kakak-kakaku, pangkuan dan pelukan hangatmu itu pak yang membuatku merindui saat-saat yang sulit kuulangi. Dan ibu, yang ada di sampingmu dengan setia memijat punggungmu yang lelah. Aku tau’ Engkau menyukai cara Ibu menatapmu ; mesra sekali katamu. Hmmm memang, mata teduh ibu mampu mendamaikan hati kita ya pak?. Continue reading ‘Selamat Ulang Tahun, Pak’
RECENT COMMENTS