Ajakan yang membawa anganku terbang

“Mari, kita menangkap belalang saja, Nai”

Ajakan  itu sederhana, sangat…sederhana, namun mampu menerbangkan anganku pada belasan tahun lalu. Mengajakku kembali mengulik indahnya dunia kanak-kanak. Berkejaran di akar pohon bertubuh raksasa, menangkap ikan gobi di parit kecil, berlarian di antara hujan, mencuri mangga tetangga yang ranum dan jatuh dengan sendirinya, mencari kupu-kupu untuk diawetkan, juga menangkap belalang di lapangan kecil di depan rumah.

Berkelebat…satusatu. Masa indah yang membuat aku merindui saat yang tak mungkin dapat kuulang.

Empang kecil di sepanjang komplek perumahan kala itu…banyak menyerap gelisah dan gundahku. Aku kerap menghabiskan sore, memancing ikan, bermain catur, atau membaca…pada pondok kecil di tepiannya.

Juga rumah pohon karya bapakku, yang bertengger di atas angsana nan rimbun dan kokoh….dan bila saat musim hujan tiba, bunga-bunganya yang  mungil berwarna kuning menebar wangi di sepanjang jalan Pramuka…yaaa di sepanjang jalan yang dulu menjadi areal kekuasaanku (kami menyebutnya demikian).

“Mari, kita menangkap belalang saja, Nai”

Terbayang, rumput tebal menebar wewangian khas yang disemaki kalakanji, terik matahari, kecipak air empang ketika kami berlomba melempar batu aling jauh. Terbayang…teringat semuanya
Seperti memutar ulang film bergambar sephia.

Ah..aku rindu

*) Thanks NiMeiy…mari kita tangkap belalang, juga capung warnawarni

16 Responses to “Ajakan yang membawa anganku terbang”


  1. 1 max May 5, 2008 at 6:21 am

    “mari kita menangkap ikan koi di kolam tetangga, Nai. Dijual lebih mahal harganya, bisa kaya dibikinnya :)
    * Aku juga rindu masa kecilku di lingkungan kumuh Kota Pekanbaru….

  2. 2 didut May 5, 2008 at 8:04 am

    jadi inget maen layangan di genteng dulu :D

  3. 3 Anang May 5, 2008 at 9:30 am

    lho kok jadi sama… nostalgia masa kecil.. aku bernostalgia dengan lampu teplok dan guyuran sinar rembulan yang indah di langit gelap… wohohohoho

  4. 4 v1rzh4 May 5, 2008 at 12:42 pm

    aku juga pengen balik ke masa itu… huhuhu…

  5. 5 siberia May 5, 2008 at 11:35 pm

    wah aku dulu suka mbantuin teman jur biologi nangkpin capung. setelah ditangkap diolesi ama tip-ex trus dilepas lagi. untuk ngitung populasi katanya :D

    belalang? kalau lagi dilapangan banyak sekali belalang dan kupu2, siang makan nasi… :P

    OOT: aku ke jogja biasanya hanya lewat aja Nai, jadi nggak bisa kontak siapa2..lain kali Insya Allah kalo lama di jogja aku mampir ke t4mu

  6. 6 aprikot May 6, 2008 at 2:57 am

    nankap belalang bisa melegakan hati nda bun?

  7. 7 escoret May 6, 2008 at 7:04 am

    enak belelang goreng
    mau..????

    nomer rekeningmu berapa..??? *loh*

  8. 8 Alex May 6, 2008 at 9:32 am

    ass.

    ah….ceritanya si mbak ini, mengingatkan diriku juga pada masa-masa ingusku. indah..luarbisa !!

  9. 9 fa May 6, 2008 at 12:48 pm

    aduh… aku takut sekali sama belalang mbak :D btw, masa kecil memang susah dilupakan yah ;)

  10. 10 daeng limpo May 7, 2008 at 1:42 am

    begitu indahnya masa kecil bagi kita, walaupun bagi beberapa orang masa kecil mereka “hilang” (ketika sejak kecil mereka sudah harus membantu orangtuanya mencari nafkah sehingga tak ada kesempatan menikmati masa kecil, atau mengalami kekerasan dari orang-orang yang seharusnya melindungi mereka).
    tetapi memang masa kecil membuat kita bisa introspeksi bagaimana kelak harus “mendidik” anak-anak kecil kita kemudian.
    saya rindu “masa kecil”, thanks.
    —salam—

  11. 11 isma May 7, 2008 at 1:46 am

    indah banget nai, kalau mengenang masa kecil… dan di tengah rutinitas khas dunia dewasa… sering banget aku juga kangen masa-masa itu…

  12. 12 froz! May 7, 2008 at 3:25 am

    gw jd inget ajakan tmn nai, kalo dulu qta tuh suka banget nangkap ikan di sungai seplg sklh.

  13. 13 Ia May 7, 2008 at 11:22 am

    mari kita tangkap cinta, nai
    sebelum dia terbang
    dari pelupukmu yang rindang

    hiihihi.. (soale aku takut pada belalang)

  14. 14 putirenobaiak May 8, 2008 at 8:21 am

    wah baru sempet kesini aku nai, keren banget memoar ini, gara2 belalangku hehe…

    sampai skrg aku masih suka ngajak Nay mengejar kupu-kupu, kalau nangkap belalang sama papanya, tapi aku omelin kalau belalangnya disakiti, suruh lepasin…

    kapan kita naik gajah?

  15. 15 Djenderal Qi May 9, 2008 at 9:42 am

    Aku seperti terpelanting ke masa lalu. Ketika banjir melanda dusun kecilku. Puji, Tiono, Nur, dan Muji Pengkrang mencari sisa tepes yang kering.
    Aku seperti ditarik oleh kekuatan maha dahsyat yang memagutku, lalu menghentakku, dan mendirikanku di depan sepercik bara dan asap yang mengepul-mengepul. Di depanku Muji Pengkrang, menyebul-nyebul bara. Tiono menusuk belalang-belalang hasil buruannya dengan sada. Nur memanggil-manggil Puji, “Sini! Sudah! jangan banyak-banyak! mbok mencret!”
    Dan ketika belalang-belalang itu menghitam kemerahan. Kami berebut. Berlarian. Tapi, semuanya kebagian. Dan kami tertawa melihat mulut teman yang menghitam. “Kaya Cepet!” pekik Nur terbahak.

    Belalang-belalang itu…

  16. 16 f May 10, 2008 at 2:10 pm

    Time is never time at all, you can never ever leave without leaving a piece of youth.. Salam kenal Nai… :)

Leave a Reply




Archives

Blog Stats

  • 11,831 hits