“Mari, kita menangkap belalang saja, Nai”
Ajakan itu sederhana, sangat…sederhana, namun mampu menerbangkan anganku pada belasan tahun lalu. Mengajakku kembali mengulik indahnya dunia kanak-kanak. Berkejaran di akar pohon bertubuh raksasa, menangkap ikan gobi di parit kecil, berlarian di antara hujan, mencuri mangga tetangga yang ranum dan jatuh dengan sendirinya, mencari kupu-kupu untuk diawetkan, juga menangkap belalang di lapangan kecil di depan rumah.
Berkelebat…satusatu. Masa indah yang membuat aku merindui saat yang tak mungkin dapat kuulang.
Empang kecil di sepanjang komplek perumahan kala itu…banyak menyerap gelisah dan gundahku. Aku kerap menghabiskan sore, memancing ikan, bermain catur, atau membaca…pada pondok kecil di tepiannya.
Juga rumah pohon karya bapakku, yang bertengger di atas angsana nan rimbun dan kokoh….dan bila saat musim hujan tiba, bunga-bunganya yang mungil berwarna kuning menebar wangi di sepanjang jalan Pramuka…yaaa di sepanjang jalan yang dulu menjadi areal kekuasaanku (kami menyebutnya demikian).
“Mari, kita menangkap belalang saja, Nai”
Terbayang, rumput tebal menebar wewangian khas yang disemaki kalakanji, terik matahari, kecipak air empang ketika kami berlomba melempar batu aling jauh. Terbayang…teringat semuanya
Seperti memutar ulang film bergambar sephia.
Ah..aku rindu
*) Thanks NiMeiy…mari kita tangkap belalang, juga capung warnawarni
“mari kita menangkap ikan koi di kolam tetangga, Nai. Dijual lebih mahal harganya, bisa kaya dibikinnya
”
* Aku juga rindu masa kecilku di lingkungan kumuh Kota Pekanbaru….
jadi inget maen layangan di genteng dulu
lho kok jadi sama… nostalgia masa kecil.. aku bernostalgia dengan lampu teplok dan guyuran sinar rembulan yang indah di langit gelap… wohohohoho
aku juga pengen balik ke masa itu… huhuhu…
wah aku dulu suka mbantuin teman jur biologi nangkpin capung. setelah ditangkap diolesi ama tip-ex trus dilepas lagi. untuk ngitung populasi katanya
belalang? kalau lagi dilapangan banyak sekali belalang dan kupu2, siang makan nasi…
OOT: aku ke jogja biasanya hanya lewat aja Nai, jadi nggak bisa kontak siapa2..lain kali Insya Allah kalo lama di jogja aku mampir ke t4mu
nankap belalang bisa melegakan hati nda bun?
enak belelang goreng
mau..????
nomer rekeningmu berapa..??? *loh*
ass.
ah….ceritanya si mbak ini, mengingatkan diriku juga pada masa-masa ingusku. indah..luarbisa !!
aduh… aku takut sekali sama belalang mbak
btw, masa kecil memang susah dilupakan yah 
begitu indahnya masa kecil bagi kita, walaupun bagi beberapa orang masa kecil mereka “hilang” (ketika sejak kecil mereka sudah harus membantu orangtuanya mencari nafkah sehingga tak ada kesempatan menikmati masa kecil, atau mengalami kekerasan dari orang-orang yang seharusnya melindungi mereka).
tetapi memang masa kecil membuat kita bisa introspeksi bagaimana kelak harus “mendidik” anak-anak kecil kita kemudian.
saya rindu “masa kecil”, thanks.
—salam—
indah banget nai, kalau mengenang masa kecil… dan di tengah rutinitas khas dunia dewasa… sering banget aku juga kangen masa-masa itu…
gw jd inget ajakan tmn nai, kalo dulu qta tuh suka banget nangkap ikan di sungai seplg sklh.
mari kita tangkap cinta, nai
sebelum dia terbang
dari pelupukmu yang rindang
hiihihi.. (soale aku takut pada belalang)
wah baru sempet kesini aku nai, keren banget memoar ini, gara2 belalangku hehe…
sampai skrg aku masih suka ngajak Nay mengejar kupu-kupu, kalau nangkap belalang sama papanya, tapi aku omelin kalau belalangnya disakiti, suruh lepasin…
kapan kita naik gajah?
Aku seperti terpelanting ke masa lalu. Ketika banjir melanda dusun kecilku. Puji, Tiono, Nur, dan Muji Pengkrang mencari sisa tepes yang kering.
Aku seperti ditarik oleh kekuatan maha dahsyat yang memagutku, lalu menghentakku, dan mendirikanku di depan sepercik bara dan asap yang mengepul-mengepul. Di depanku Muji Pengkrang, menyebul-nyebul bara. Tiono menusuk belalang-belalang hasil buruannya dengan sada. Nur memanggil-manggil Puji, “Sini! Sudah! jangan banyak-banyak! mbok mencret!”
Dan ketika belalang-belalang itu menghitam kemerahan. Kami berebut. Berlarian. Tapi, semuanya kebagian. Dan kami tertawa melihat mulut teman yang menghitam. “Kaya Cepet!” pekik Nur terbahak.
Belalang-belalang itu…
Time is never time at all, you can never ever leave without leaving a piece of youth.. Salam kenal Nai…