Persahabatan Kita = Istana Pasir

Bagaimana rasanya jika tuduhan ditujukan kepada kita dengan tanpa kita sempat melakukan pembelaan atas apapun ???.

Kesedihan berkepanjangan tak akan merubah semua yang sudah menjadi cap, sebuah predikat buruk yang pantas kusandang, itu menurutmu. Predikat yang tanpa bisa aku menolaknya. Lalu dengan lunglai aku membuka kedua belah tanganku untuk menyambutnya.

Aku bersalah, atas ketololanku…tapi mengapa tidak kau buka sedikit saja ruang untuk aku menjelaskan. Aku merasa bersalah akan candaan yang berlebihan. Sebetulnya kalau saja kesalahanan kirim pesan singkat itu sejak awal saja…mungkin opini yang akan terbentuk di otakmu akan berbeda, dan kau menjadi tak beralasan untuk mengalungkan beratnya sangkaan itu di leherku.

Ah sahabat…aku sadar, sebanyak apapun aku bicara, sampai muntah-pun tak akan membuatmu berfikir lebih baik. Namun begitu…aku harus memaafkan diriku sendiri, agar aku bisa bernafas lega…dan pasti aku memaafkanmu, prasangkamu. Sesuatu yang tidak bisa aku ubah..ya memang tidak akan bisa kuubah selamanya. Kamulah yang akan mengubah penilaian itu karena kamu yang memberi penilaian atas aku…

Seperangkat asumsi telah lama kau bangun atas aku…dan kesalahanku kemarin itu hanyalah “pembenaran” atas asumsi yang telah lama ingin kamu yakini, sehingga yang kemudian lahir adalah tuduhan-tuduhan, bukan kesanksian atau pertanyaan.

Kau tidak mengenalku…kau mengenalku hanya berdasarkan asumsi yang ada di kepalamu. Entah ini baik atau tidak menurutmu? terserah saja.
Sahabat…kalau kamu mengenal aku dan atau punya asumsi yang baik atas aku, maka tidak akan ada tuduhan saja pastinya. Aku yakin kau akan mengajukan pertanyaan atau setidaknya menyediakan sedikit saja menit yang tersisa untukku menjelaskannya, membuka ruang.

Sahabat…semuanya tentang kita lalu menjadi seperti “istana pasir” bagimu…hancur begitu saja. Sangat berat sungguh…ketika anggapan itu datang darimu. Meski dari siapapun sangkaan buruk akan sangat menyakitan. Namun…semua penilaian buruk itu selalu kembali kepadamu…si penilai. Seseorang bisa menilai buruk karena sudah ada “kosakata” buruk di dalam pikirannya, yang hanya menunggu pemicu, stimulannya.

Ketololanku kemarin itu adalah pemicunya, titik lecut dari semua prasangka-prasangka purba yang telah lama coba kamu buktikan. Semua penilaianmu itu terlalu murah untuk sebuah kehancuran pertemanan. Jadi kalau hanya kesalahan sms itu pertemanan kita menjadi hancur, bayanglah !!! dari apa pondasi pertemanan itu dibangun ?. Jangan-jangan memang hanya pertemanan dalam “istana pasir” tidak “berpondasi ketulusan” dan keberterimaan…keberterimaan dalam kekurangan, kenaifan, kebodohan, dan juga kelebihan…

Kamu adalah istimewa, tanpa kau berusaha menempatkan diri di sana. Kau sudah sangat istimewa tanpa kau memintanya. Aku tak pernah menomeri sesiapapun..di urutan berapapun. Sekali lagi kau istimewa…meski kau tidak mempercayai perkataanku. Kau terlalu dangkal menilaiku, sahabat…

Ah..aku tak akan terlalu bersedih hati jika kamu masih tidak membuka ruang klarifikasi. Toh kehilangan orang yang tidak mempercayai tidak akan menjadi terlalu berat, meski istimewa. Apa pun caranya, mungkin pertemanan kita tidak akan bisa lagi utuh…sudah ada yang cacat, prasangka, rasa sakit, dan kita butuh energi besar untuk bisa mengabaikan semua itu. kamu “finished” dalam menilaiku. Bagiku dunia tidak hanya hitam putih saja.

Terimakasih atas justifikasi tanpa klarifikasi.

19 Responses to “Persahabatan Kita = Istana Pasir”


  1. 1 crushdew March 22, 2007 at 10:15 am

    waduh jangan sampailah persahabatan itu bagai istana pasir

  2. 2 zam March 22, 2007 at 12:06 pm

    hmm.. sedih juga kalo sahabat kita erbuat seperti itu..

    seharusnya persahabatan dibangun dari ketulusan dan perasaan, bukan pake asumsi-asumsi..

    *tumben ngomong bener. kesurupan apa aku ini?*

  3. 3 venus March 23, 2007 at 3:58 am

    wah, eman2, mbak. mudah2an sahabatmu mau maafin ‘ketololan’mu. begitulah, kalo terlalu deket, kita suka lupa pakai rem. aku juga gitu kadang2. udahannya nyesel…hiks…

  4. 4 meiy March 23, 2007 at 4:44 am

    persahabatan diuji justru saat tersulit…kalau saat indah semua orang bisa melewatinya,

    sahabat sejati akan terbukti dg waktu, akan menerima sahabatnya apa adanya, perlu cek ricek jika terjadi sesuatu, open..ih sok tau bgt deh aku :)

  5. 5 max March 23, 2007 at 6:59 am

    Sudahlah Nai.., ngapain dipikirkan apa yg tidak terbukti.

  6. 6 Anonymous March 24, 2007 at 5:43 am

    siapa bilang tidak terbukti? ada buktinya kok!

  7. 7 gita March 25, 2007 at 6:46 am

    bun bun take it easy jah..

  8. 8 thuns March 26, 2007 at 12:08 am

    tapi begitulah kehidupan ;)

  9. 9 maya March 26, 2007 at 4:35 am

    salah kata salah ucap yang menimbulkan kesalahpahaman itu biasa terjadi dalam pertemanan, harus legowo untuk minta maaf dan memaafkan :)

  10. 10 Kampret Nyasar March 26, 2007 at 11:50 am

    Forgiving is the best regardless of whose to be blame for the fault, so there will not be any anchor down below holding you back from moving forward in life..

    Hope time will heal the broken-link between the two and pray that things will recover soonest.

  11. 11 ciplok March 28, 2007 at 8:17 am

    to ANONYM :

    kalo memang ada buktinya, jangan jadi seorang anonym dong…

  12. 12 pepeng March 30, 2007 at 7:38 am

    opo meneh tho iki..????
    aku di rumah ada golok nganggur..
    klo butuh,sms aja ya bu…!!!!

    siap 24 jam..!!!!

  13. 13 Nahria Medina Marzuki March 30, 2007 at 9:36 am

    Sahabat kayak gitu maah ke laut aja kalii mbak. Cuekin aja, gak worth it deeh buat dipikirin.

  14. 14 sahabat March 30, 2007 at 9:58 am

    Subyektif Nai!

  15. 15 Ken March 30, 2007 at 6:00 pm

    Hmmmmm, jadi ini ya yang membuatmu merasa sepi Jeng??

    Maaf ya Jeng, aku gak up date postingan ini kemaren2. AKu jadi bingung juga pas kau sms malem itu…

    Tapi apapun yg terjadi,sebaiknya kita bisa menempatkan diri sebagai sabahat yang baik untuk siapapun…

    Insya Allah lebih ringan njalaninya :D

    Btw, aku baru pulang diklat niy…

  16. 16 RhoMayda March 31, 2007 at 2:07 pm

    waduh… manusia cuma bisa berusaha. kalau sudah mentok, dan hasilnya masih juga ngga seperti yang diinginkan, ya bukan salah kita, wong kita ngga bisa melakukan lebih dari yang kita bisa.
    santai sedikit, setiap orang dapat porsi yang terbaik eniwei :)

    sing rukun ben ati tentrem ;)

  17. 17 ndutyke April 1, 2007 at 3:21 am

    saya sedang ngalamin tu yg kek beginih… sudah minta maap… dgn tulus iklas ngakuin kesalahan… eh dianya cuek aja.

    ya uda. yg penting kita uda usaha minta maap, dan menyesal bgt.

    kl dia ga mau maapin..itu dia yg rugi. kewajiban kita sebagai muslimah sudah terlaksana dgn meminta maap :)

    jgn tlalu dipikirin…ok mbak :)

  18. 18 siwoer April 3, 2007 at 12:10 am

    iyo ki mak…meh update tapi rung sempat2, maklum april mob! loh opo hubungane :D

  19. 19 Anonymous April 28, 2007 at 4:00 pm

    ternyata kita sama, karena satu kesalahan yg tdk sengaja kita di musuhi sahabat kita, sebesar apapun usaha kita mengklarifikasi & minta maaf tak pernah diterima.

Leave a Reply




Archives

Blog Stats

  • 11,831 hits