RUMAH KAYU SUATU KETIKA

Rumah Kayu…
Rumah di mana segalanya bermuara.Tempat segala keberpulangan
Tak punya ruang untuk kekhawatiran dan kecemasan.
Rumah kecil, berdinding kayu menghangatkan nan kokoh ini berada di lembah hijau menyerupai mangkok besar yang mengelilingi. Ladang strawberry, kebun anggrek dan sepetak tanah ditumbuhi bunga matahari melengkapi indahnya.
Tak jauh dari rumah kayu, menjulang pohon besar di tanah lapang dengan danau kecil berair biru kehijauan.
Wangi segar tanah basah bermandi embun adalah pemandangan indah yang tak pernah kita lewatkan begitu saja.
Di rumah kayu ini hanya ada cinta, kasih sayang, saling menjaga, menentramkan dengan cinta, saling menghargai, dan saling mempercayai.
Kesederhanaan adalah kekayaan tak ternilai bagi penghuninya. Aku, kamu, kita…

Kau sangat menyukai udara sejuk dan lembab ini. “segar”, katamu dan aku juga mencintai sejuknya, meski bila malam dan pagi hari, ujung hidungku basah karena alergi. Kau tertawa, melihat ujung hidungku merah dan dingin. Teh hangat bikinanmu dan lilitan syal di leherku akan menyembuhkanku seketika.

Pagi hari, di beranda rumah kayu..
Dua cangkir kopi panas menjadi teman ngobrol kita, melanjutkan sisa cerita kita malam tadi.
Riang cicit burung, kupu kupu warna warni terbang kian kemari menyambut datangnya matahari.
Kau bersiap pergi ke ladangmu, dan aku mengiringimu dengan doa.

Menjelang siang di rumah kayu…
Setelah merawat anggrek dan bunga matahari, aku menyiapkan makan siangmu, dengan sayur yang aku petik dari kebun kita.
Dengan ikan yang kita tangkap di danau belakang rumah.

Aku datang menghampirimu, yang kelelahan di ladang.
Keringat yang mengalir di lenganmu yang kokoh, rambutmu yang basah, dan pipimu merah karena udara dingin membekukannnya. Aku mengusap peluhmu dengan cinta.
Apapun yang aku masak, kau dengan lahap memakannya. Dan aku tersenyum dengan binar mata bahagia memandangimu.
“Istirahatlah sejenak, kau tak perlu bekerja sekeras ini”, bisikku. Aku sudah sangat merasa cukup dengan apa yang sudah kita miliki saat ini.

Kau rebah di pangkuanku, melepas lelah, di bawah pohon rindang dekat di danau.
Aku nyanyikan kau lagu sambil membelai rambutmu yang kau biarkan panjang tak beraturan dan kaupun tertidur pulas dengan senyum yang tersungging tipis di bibirmu. Mungkin mimpi indah yang hadir menemanimu.

Menjelang senja, kita enggan beranjak. Mengantarkan mentari jingga tertelan bumi, meninggalkan damai di hati.
Tangan kita erat bergenggaman, kita beranjak pulang… dengan tanganmu yang kau lingkarkan, memelukku…

Malam hari, di rumah kayu…
Di beranda berpagar kayu, berteman jangkrik. Langit pekat, jalan jalan kecil menuju rumah kita hanya diterangi oncor saja. tak ada lampu mercury seperti di kota. Kita menengadah…memandang langit tanpa polusi cahaya.
Jutaan bintang menari indah, berkedip kedip tanpa lelah.
kau tunjuk satu bintang terang di langit timur, ” itu kejora” jawabku sekenanya. Kau tersenyum, memandangku yang tak henti berdecak kagum. Dalam hati aku bernyanyi…

Fly me to the moon
And let me play among the stars
Let me see what spring is like on jupiter and Mars

In others words, hold my hand
in others words, baby kiss me

Fill my heart with song
And let me sing forever more
You are all i long for
All i worship and adore

in other words, please be true…
In other words, I LOVE U

Di rumah kayu kita bertemu, merangkumkan cinta…
Rumah di langit angan angan kau menyebutnya.


Ini kebun bunga matahariku


Our favorite spot; sunset di kebun bunga matahari


Ini strawberry hasil panen di kebunmu

17 Responses to “RUMAH KAYU SUATU KETIKA”


  1. 1 Nahria Medina Marzuki June 19, 2006 at 8:29 am

    Tinggal di rumah kayupun kumau
    asal dengannya

    Ehem..tapi tetep ada koneksi internet kan? hihihihii

  2. 2 buderfly June 19, 2006 at 8:41 am

    rumah kayu berpagar cinta,
    dengan kesederhanaan sebagai hartanya
    beratap hanya dua manusia penghuninya
    mereka datang dari planet yang berbeda
    mengusung mimpi purba milik sang rahasia

    bersama angin,
    matahari,
    langit,
    bintang,
    embun,
    dan satwa dunia
    rumah kayu jadi utopia

  3. 3 Madame Butterfly June 19, 2006 at 8:52 am

    rumah kayu, kebun bunga matahari, kebun strawbeery

    Hmmm……..

  4. 4 gita saja June 19, 2006 at 9:15 am

    kebun strawberry, aku mau jeng, tiap hari bisa bikin strawberry cake deh

  5. 5 Susan June 19, 2006 at 1:07 pm

    It’s a dream come true to have what you’ve written, Mbak…

    I wish I could have my dream come true too…

  6. 6 It's just me June 19, 2006 at 2:09 pm

    rumah kayu yang kau punya, dan kau dapatkan segala yang kau pinta…indahnya. Semakin sempurna dengan terang kejora di timur sana…:). Nice posting sist ;)

  7. 7 Anonymous June 19, 2006 at 8:23 pm

    saya kalau punya rumah kayu seperti ini inginnya nyambel terus setiap hari, masak2… seperti impian di hari tua :)
    doel

  8. 8 mutiara nauli pohan June 20, 2006 at 12:56 am

    bu unai pasti lagi kasmaran nihhh cieee

  9. 9 siwoer June 20, 2006 at 1:22 am

    mak.. kowe kok romantis tenan to. biyen pak unai jatuh cinta karo kowe opo mergo kowe kuwi wonge romantis puol?! :P

  10. 10 Maryulis Max June 20, 2006 at 2:56 am

    Kan kubuatkan rumah kayu seperti impianmu, kubangun rangkanya dengan cinta, kuberi atapnya dengan asa, agar masa senantiasa dilewati bersama, hingga akhirnya kita harus mengalah pada kuasaNya.

  11. 11 iteung June 20, 2006 at 4:10 am

    mau dunk strawberry-nyaaaaa… *ngiler*

  12. 12 Bverly June 20, 2006 at 5:36 am

    fly me to the moon too..biar kamu tidak sepi disana..hehee

  13. 13 unai June 20, 2006 at 7:45 am

    Yaya, dirumah kayu yang ada hanya kesederhanan..mana ada inet, wong kita aja nyangkul je ;)

    Buderfly,semoga rumah kayu bukan hanya utopia…suatu saat jadi nyata…mau ke sana?

    Ciplok, strawberrynya mau? aku punya sekeranjang buatmu.

    gee, strawberry cake..yummy ya..sayang dirumah kayu cuman ada singkong rebus

    susan, its not just a dream hun..
    i wish it could be come true

    Doel,ya kitabisa nyambel dengan makan sayur dari apa yang kita tanam.

    Uli, lagi kasmaran? hihihii ..ini sering kitabicarakan Li

    Siwoer, weh pastilah Om, itu andelan satu satunya je

    Uda, beratap asa..indahnya

    iteung, ambil deh..mau lagi?

    Bev, kesepian indah di sana, banyak bintang,ada bulan, nyanyian malam..kapan kita kesana Bev?

  14. 14 Nahria Medina Marzuki June 20, 2006 at 11:59 am

    sederhana boleh..tp tetep ada koneksi net doonk, mbak *keukeuh

  15. 15 @YU June 20, 2006 at 7:42 pm

    disini rumah kayu itu mahal nai
    ..lha wong kayunya harus import dari kalimantan….

  16. 16 Rara Vebles June 21, 2006 at 5:10 am

    I wish I could have “the rumah kayu”..

  17. 17 unai June 21, 2006 at 1:51 pm

    Yaya…hmmmboleh juga sih…emang sudah jadi kebutuhan batin ya? hehehe

    @yu, lha iya ya..makanya balik gih kesini

    Rara, i wish i could give u heheh, numpang sama aku aja Ra, di rumah kayuku hihihi

Leave a Reply




Archives

Blog Stats

  • 11,831 hits