Gara-Gara ML Yuuuk

Iseng, saya lihat stat count di blog saya ini. Dari sekian ratus postingan saya, teryata… postingan saya yang ini masuk daftar pencarian terbanyak, dengan kikod ML, Yuk ML, Cewek ML, YM ML, YM Cewek ML. Wahhhh mereka tersesat di jalan yang sesat hahaha

 

What a Poem !

”Aku tak mementingkan keabadian

Aku November….bulan badai

Dan hujan…dan dingin

Aku November…maka berkelebatlah

Seperti petir di jasadku

Cintai aku meski hanya

Berpekan-pekan…berhari-hari, berjam-jam”

 

*) Puisi karya Nizar Qabani yang diterjemahkan oleh Qaris Tahuddin

Ajakan yang membawa anganku terbang

“Mari, kita menangkap belalang saja, Nai”

Ajakan  itu sederhana, sangat…sederhana, namun mampu menerbangkan anganku pada belasan tahun lalu. Mengajakku kembali mengulik indahnya dunia kanak-kanak. Berkejaran di akar pohon bertubuh raksasa, menangkap ikan gobi di parit kecil, berlarian di antara hujan, mencuri mangga tetangga yang ranum dan jatuh dengan sendirinya, mencari kupu-kupu untuk diawetkan, juga menangkap belalang di lapangan kecil di depan rumah.

Berkelebat…satusatu. Masa indah yang membuat aku merindui saat yang tak mungkin dapat kuulang.

Empang kecil di sepanjang komplek perumahan kala itu…banyak menyerap gelisah dan gundahku. Aku kerap menghabiskan sore, memancing ikan, bermain catur, atau membaca…pada pondok kecil di tepiannya.

Juga rumah pohon karya bapakku, yang bertengger di atas angsana nan rimbun dan kokoh….dan bila saat musim hujan tiba, bunga-bunganya yang  mungil berwarna kuning menebar wangi di sepanjang jalan Pramuka…yaaa di sepanjang jalan yang dulu menjadi areal kekuasaanku (kami menyebutnya demikian).

“Mari, kita menangkap belalang saja, Nai”

Terbayang, rumput tebal menebar wewangian khas yang disemaki kalakanji, terik matahari, kecipak air empang ketika kami berlomba melempar batu aling jauh. Terbayang…teringat semuanya
Seperti memutar ulang film bergambar sephia.

Ah..aku rindu

*) Thanks NiMeiy…mari kita tangkap belalang, juga capung warnawarni

HAMPA

Kukatupkan kelopak mata. Sejenak mengantarkanku ke dalam gerbang gelap, setelah terang benderang menyilaukan.

Aku…menyusur sepi-ke-sepi.

Aku ingin menihilkanmu, menghapus jejakjejak yang kau tinggal saat melintas di pelataran hatiku. Membiarkan segalanya melaju, seiring desau angin di bulan Mei ; angin kencang yang membawa aroma kering, yang menghempaskanku dari ketinggian. Aku ingin meniadakan gelombang. Gemuruh yang berkecamuk, yang acap memukulmukul dinding hati yang reyot dikebiri rindu. Rindu pada apa ? Rindu akan hadirnya siapa ?

Lalu…kumaki ketidak berdayaanku. Lumpuhku, dan semua yang perlahan menjauh. Menghindar, atau lenyap selamanya? entah…?

Aku hampa, tiada sesiapa dalam ruang yang tak kalah hampa. Barangkali inilah kesunyian paling sunyi yang pernah kurasakan. Hinggap, menyergap…tanpa ampun mengunci seluruh sendi.

*) walahhhh menye-menye lagiiiiii

Yang tertinggal di setapak ingatan

Bila senja meninggalkan
Tak berjejak
Hanya jingga
Sunyi berjelaga…
 
Ahhh..
perpisahan selalu saja membuatku serupa stasiun yang lengang,
ditinggalkan kereta yang mengangkut berpuluh-puluh penumpang.
Perpisahan juga membuatku serupa gerbong,
yang lepas dari rangkaian lokomotifnya.
Melaju meski hampa, tiada tuju.
Dan ketika tiada daya lagi,
terkapar…terasing…,
Walau ribuan kunang-kunang datang.
Membentuk gugusan laksana gemintang.
Berusaha lenyapkan sunyi.
 
Namun sepi tetaplah sepi
Sunyi…
Sesuatu yang tak terkatakan, namun menyiksa
Tak kuasa aku mengenyahkan perihnya.
 
Ahhhh, kau adalah bayang
Yang pernah menawan masa laluku
Meski kisah kita usai,
jauh sebelum kita memulainya
Namun tetap saja kau membayang
dan…
layaknya kisah yang tamat
kenangan hadir susul menyusul
menutup kisah yang usai.
 
Pernah suatu senja,
aku mengharapkan pertemuan yang tak disengaja antara kita
Pertemuan dengan perbandingan satu per sepuluh ribu ketidak mungkinan atau bahkan lebih,
mungkin ???
 
Entahlah…
Aku juga masih berharap,
kalau-kalau kau membaca puisi
yang kutulis di kanvas langit
Menjelang lelapmu,
atau disaat kau menyesap secangkir teh melati dipagi hari yang lembab
Tapi..tidak juga,
hingga detik ini.
Kau pergi,
begitu saja
persis saat kau hadir
ada dan tiada semaumu saja
Tak perduli kau,
aku dibayang-bayangi lengkung alis mata, dan coklat manikmu
 
Bilakah waktu
sedia menggunting jarak,
menghadirkanmu sedetik saja
sedetik saja
di sini…
*) fyuhhhh mau ikut2an Mbita
sayang tak ada kamus laknat ituh di sini, Mbit..

Next Page »


Archives

Blog Stats

  • 8,542 hits